Aku Ingin Bunuh Diri Malam Ini

Oct 21, ’08 6:19 PM
for everyone
Dua ratus dua puluh juta sudah ada di depan mataku. Menggeliat manja menggoda mata untuk menggenggamnya. Menjilati pikiranku untuk berangan tentang masa depan. 

Malam ini jam sebelas lewat dua puluh tiga menit. Aku masih di kantor. Menunggu hujan reda. Menemani manager keuangan memasukkan satu per satu uang sebanyak itu ke dalam brangkas karena sore tadi bank sudah tutup dan tiga orang pelanggan kami datang setelah jam kerja kantor.

 

Seharusnya sudah dua jam yang lalu aku pulang. Namun hujan angin yang begitu kencangnya membuat aku takut mati. Mati ? Takut ?

 

Kulirik uang dua ratus dua puluh juta itu lagi. Melambai-lambai penuh gairah di mataku. Mengingatkan aku bahwa tumpukan berharga itu sungguh bisa menyelamatkan kekasihku. Tunanganku. Mengangkat penyakitnya. Membuangnya jauh-jauh.

 

Tadi malam aku membuka sisa uang di balik kaleng bekas snack. Menghitung uang receh satu per satu sampai kemudian menyadari hasil kalkulasiku dengan lemas. Tinggal dua puluh ribu untuk awal bulan ini.

 

Aku sempat gila sejenak. Membayangkan dia yang sungguh sangat kesusahan disana, mengukur usahaku untuk bisa membuatnya sembuh, meratapi nasibnya yang tidak punya siapa-siapa disana..sementara aku belum makan nasi tiga hari ini.

 

Aku bingung..tangisku sempat membuncah karena setelah kebingunganku itu aku mendapat kabar kalau dia muntah darah dan pingsan di tengah jalan..

 

Tanganku gemetar setengah mati mendengarnya..Kucoba sebisa mungkin meminta pertolongan dari sini. Dari kota yang memisahkan kami berdua. Di kota dimana aku belum bisa bertemu dengannya karena tugas. Aku ingin berlari memeluknya. Membawakan  kabar bahagia bahwa dia bisa operasi sesegera mungkin tanpa harus kemotheraphy..membawakan secercah harapan untuknya karena akan memiliki kehidupan yang lebih baik..Memastikan..

 

“ Kenapa Na..?”, tegur manager itu membuyarkan lamunanku.

“E..”aku ragu,” tidak, pak..Hanya..”

“ Kita pulang naik mobilku..?”

Aku melirik jendela besar yang memperlihatkan langit dan lampu jalan. Masih hujan, tapi angin itu sudah tidak kencang lagi.

 

“ Kalau tidak merepotkan..”, kataku sopan.

“ Tidak, kamu tidak pernah merepotkan..”pujinya padaku sambil merapikan berkas ke dalam tasnya hendak siap-siap pulang..” Ayo, kita pulang..”

 

Aku mengangguk pelan dan berjalan agak di belakangnya sedikit. Badanku sempat ragu-ragu dan kembali melirik brangkas itu lagi saat kemudian bapak manager keuangan yang baik hati itu mengajakku berjalan agak cepat keluar dari kantor.

 

* * *

 

Pagi ini direkturku menandatangani cek kosong untuk keperluan penting perusahaan. Sembari mendata buku, aku melirik cek kosong itu dititipkan dan tersimpan rapi di balik buku ajaib Pak Broto, nama manager keuangan itu.

 

Saat menatap ujung cek itu, aku teringat suamiku yang telah bertambah kurus dan bersimbah darah di sebuah sudut ruangan kumuh. Kilatan kebencianku pada seorang kaya yang hanya memperhatikan rumah mewahnya yang terus saja direnovasi dengan uang milyarannya yang dibuang begitu saja sementara harga satu lantai keramiknya saja mampu membuatku tidak kelaparan sehari.

 

Siang itu ramai. Manager keuangan itu sedang melayani karyawan lain. Beberapa pelanggan datang untuk menanyakan hal basa-basi tentang produk kami saat kemudian Pak Broto panic karena cek kosong yang akan digunakan untuk membayar stock barang itu lenyap tidak tahu kemana. Aku diam.

 

* * *

 

Semangatku menggelora. Seketika aku terdampar dalam buaian angan-angan tentang kesembuhan suamiku. Aku akan bisa membuat suamiku tak lagi menderita. Aku bahagia. Hahahaha ! Aku bahagia ! Dengan berbunga-bunga dan tiga tas besar, aku segera hijrah ke kota Jakarta dengan naik bis patas. Aku kehilangan arah. Dan hamper putus asa karena semua barangku kemudian dijarah dan dirampas.

 

Aku bingung. Aku nestapa. Tapi tidak apa-apa. Cek itu masih ada di dalam saku bajuku. Jadi aman. Dan aku bisa mengisi berapa saja yang kusuka.

 

Malam itu gelap. Malam itu sunyi. Aku mencari tempat untuk istirahat sejenak sebelum kemudian aku melanjutkan untuk mencari alamat rumah kekasihku. Kumasuki daerah agak kumuh. Dengan jarak satu rumah ke rumah lainnya begitu berdekatan. Beberapa wanita yang memakai mukena lewat mengangguk santun dan berlalu begitu saja. Ku usap anak rambutku yang lengket karena keringat. Bibirku kering karena haus. Tapi pikiranku berbinar karena akan segera bertemu suamiku. Setelah setahun..Setelah setahun..

 

Malam itu gelap. Malam itu sunyi. Sayup-sayup suara botol dan bau rokok begitu menyengat di hidungku. Kepalaku pusing. Suara tawa seorang laki-laki terdengar diiringi cekikian perempuan disekelilingnya di dalam warung itu..Mata ini kemudian menangkap beberapa makanan tersaji didalam. Hanya makanan sekelas nasi kucing..tapi aku begitu lapar..

 

Ah..

 

Aku pun hanya bisa memendam nafsuku dan duduk sebentar di bok di samping warung tiu.

 

“ Sudahlah..aku banyak uang..biar aku saja yang traktir..”

“ Ah..masnya ganteng deh..”

“Sini aku cium dulu..muuuuuuuuuuuah!Hahahaha!”

“ Hahahahaha!”

 

Ya. Aku tahu. Suara itu adalah suara calon suamiku. Aku tahu, karena aku baru saja melihat paras wajahnya satu detik yang lalu menciumi seorang cantik yang berpakaian cukup sopan, tapi begitu genit. Tanpa kusadari, aku telah dipermainkan laki-laki. Aku telah dipermainkan suara itu yang menjelma menjadi sosok laki-laki yang tak berdaya saat jauh disana..Kenapa aku percaya..? Apakah aku sungguh bodoh..?

 

Tidak mungkin aku tidak mengenal suara kekasihku sendiri yang dengan rintihannya ditepeon berusaha merebut perhatianku dengan sakitnya, sementara disini..disini..

 

Kugenggam erat-erat dadaku dengan cek yang teremas dibalik bajuku. Kutatap warung itu dengan wajah lelakiku yang sudah kupotret frame flamboyannya dari satu detik yang lalu.  Terasa tertampar ribuan kilo meter dengan duri tertinggal di hati..

 

Sakit..

Hampa..

Perih..

 

Bagaimana ini..? Bagaimana..?Aku tidak tahu..Rasanya hambar menginjak Jakarta..

 

 

 

 

Kota tua kedinginan

Cerpen Oleh : Rana Wijaya Soemadi

20 Oktober 2008

 

 

reply edit delete
delete reply
bigayah wrote on Oct 21, ’08
Woohh… ada apa ini? Mari bunuh diri… Huahahahahahahaha—

Cerita yang bagus sekali. Tapi aku tidak mengerti… Huhuhuhuhuhu

delete reply
bigayah wrote on Oct 21, ’08

Tanpa kusadari, aku telah dipermainkan laki-laki.

Kasihan…. Curhat, Na??

Hahahahahaha!

*kabur*

edit delete reply
ninelights wrote on Oct 21, ’08
bigayah said

Woohh… ada apa ini? Mari bunuh diri… Huahahahahahahaha—

Cerita yang bagus sekali. Tapi aku tidak mengerti… Huhuhuhuhuhu

hahahaha..eh..JANGAAAAAAAAAAAAN!Masa bunuh diri beneran..*panik minta ampun!*ini cuma cerita pendek aja..cuma pengen berbagi karya dan dikritik bersama aja..Eh..yang gak ngertinya kenapa, Pak..?
edit delete reply
ninelights wrote on Oct 21, ’08
bigayah said

Kasihan…. Curhat, Na??

Hahahahahaha!

*kabur*

Hehe..Dulunya..sekarang, gak tau..semoga tidak..:-)
edit delete reply
ninelights wrote on Oct 21, ’08, edited on Oct 21, ’08
Seharusnya kekasih itu, di ganti suami saja ya..?akan lebih seru polemiknya..hah..mo di ganti udah terlanjur ku post..bodoh..to in a rush..*menampar diri sendiri:-(*
delete reply
alexast wrote on Oct 22, ’08
keren… tapi kurang gloomy.. hwhwhwhwhw
edit delete reply
ninelights wrote on Oct 22, ’08
alexast said

keren… tapi kurang gloomy.. hwhwhwhwhw

iya mas..aku membuatnya terlalu terburu-buru..ini tokoh utama kurang menyedihkan nasibnya karena penuturan kesedihannya demikian singkat..ya..ya..ya..tapi terima kasih..nanti saya perbaiki..* segera mengambil kertas dan mencoret yang tidak perlu*
delete reply
vyndie wrote on Oct 22, ’08
berguru saja pada alex… dia kan ahlinya bikin beginian… hihihi…
edit delete reply
ninelights wrote on Oct 22, ’08
vyndie said

berguru saja pada alex… dia kan ahlinya bikin beginian… hihihi…

Dia memang manusia hebat..*geleng-geleng kepala kagum*..mohon petunjuknya suhu Alex..kuserahkan semua tulisan ini padamu..semoga engkau iklas menerima proposal pengajuan diri menjadi murid ini..*membungkuk h ormat, gak bisa balik!Duh, encoook kumat!hwehe*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s