Anak Korban Perang

Apr 18, ’09 8:58 PM
for everyone
Aku tidak tahu judulnya. Malam itu yang kulakukan cuma menekan satu tombol hingga saluran di televisi itu beralih terus sampai tiba di metro tv. Dua orang anak berwajah khas Iran*mungkin, aku hanya menebak* membuatku tertarik untuk menyimak ceritanya. Aku lupa nama masing-masing mereka, tapi sepertinya tema yang disuguhkan adalah tentang anak-anak korban perang yang mencoba bertahan hidup di daerah konflik.

Dalam scene per scene, aku melihat seorang anak (yang masih kecil) tidak merasa canggung saat bertransaksi senjata dengan seorang pria dewasa di gun market. Teman seperjuangan anak ini adalah anak-anak lain yang telah hidup biasa dengan kecacatannya yang tanpa tangan atau tanpa kaki. Namun aku akhirnya sampai pada episode yang membuatku tidak tega untuk meneruskan alur cerita itu kala seorang anak perempuan yang harus menjadi wanita dewasa dan merasa terbebani untuk mengasuh balita buta yang tidak punya saudara lalu sengaja mengikatnya di suatu tempat, namun si balita buta itu berhasil lolos tapi malah nyasar sampai medan ranjau.

Ok. It’s just film. Aku tahu. Tapi film ini telah mengingatkan saya pada sebuah tragedi sampit yang telah menghabisi banyak manusia dan anak-anak tak berdosa di sana. Ketika itu saya baru sepuluh menit *terpaksa* menonton *film tragedi sampitnya*. Namun begitu kamera menge-shot kepala seorang anak yang ditebas sampai lehernya hampir putus, dan isi leher itu tidak diedit sama sekali, aku langsung kabur ke kamar mandi dan muntah-muntah.

Kalau diminta buat nonton Chainsaw, Saw atau yang lebih sadis, Hostel, ok. No big deal. I was. Dan I’m ok. Karena itu fiksi. Itu buatan manusia yang sengaja dibuat dan sudah diperhitungkan setiap incinya agar tidak membuat pemainnya benar-benar dihabisi nyawanya*Meski kalau nonton film ini harus sangat hati-hati, apalagi kalau punya adik atau saudara yang punya kecenderungan dan berpotensi besar buat menirukan hal-hal aneh seperti di film ini*. Tapi tragedi sampit ? Are U kidding me ?

Keesokan harinya, karena masih penasaran dengan judul dan jalan cerita sampai akhir, aku bercerita pada kawan sekantor. Meski dia menyimak sampai selesai, tapi ternyata dia sama tidak tahu judulnya seperti diriku. Tapi film itu masih membekas di hati sampai sekarang. Dan sampai membuatku merenungi diri sembari rebahan di tempat tidur sederhanaku. Meski mungkin film itu juga memang sebuah fiksi, tapi bagiku semua itu tampak nyata, dengan pemeran anak-anak yang masih sangat belia yang harus melewati adegan demi adegan tanpa kaki atau tangan bahkan buta. Aku sempat berpikir, apa mungkin mereka itu hasil casting yang benar-benar mengalami kejadian sebenarnya ? Wallahualam..Ah..aku tidak berani lagi membayangkan..

Aku hanya bisa mensyukuri apa yang telah kurasakan sampai detik ini. Betapa sangat beruntungnya menjadi diriku ini. Tubuh sempurna, lingkungan tenang dan aku masih diberi anugerah berupa kekuatan untuk meraih masa depan lebih baik, masa depan cerah, tanpa harus bersinggungan dengan perang, dan segala hal yang membuat hati ini perih dan hancur karena kehilangan banyak hal. Dan terlebih, aku masih bisa melewati masa kecil yang penuh warna bersama keluarga tercintaku, bersama ayahku, ibuku, kakakku, hingga aku menjadi seperti sekarang. Terima kasih Tuhan, untuk semua anugerah dan kenikmatan tak terhingga yang Kau berikan padaku sampai detik ini..Terima kasih, untuk semua hal indah yang Kau berikan padaku..

PS :

Perang yang melibatkan banyak nyawa tak berdosa sampai detik ini masih ada di belahan dunia lain. Dan itu membuat hati setiap manusia menangis. Hanya berharap, teman-teman kita yang telah berjuang untuk kebenaran, adik-adik yang berusaha bertahan hidup unuk membangun masa depannya kembali meski akhirnya tak mampu survive karena keadaan, para prajurit dari setiap negara yang setia pada negara, semua polisi yang melakukan tugas hingga harus kehilangan identitasnya selama bertahun-tahun lamanya, semua reporter dan wartawan yang meliput kehancuran dari sebuah perang, yang harus terkena imbas dari semua kejadian tersebut,
semuanya,

semoga semua arwah mereka dapat di terima di sisiNya..dan sanak saudara, krabat, teman, yang ditinggalkan, diberikan ketabahan…AMIN..

~We are living in a same place..on same earth..so why we should sent bullets and bombs to our own brothers ?~

pic from : children foreign policy

14 CommentsChronological   Reverse   Threaded

harblue
harblue wrote on Apr 18, ’09
ini tentang anak-anak yang hidup di lokasi pengungsian perang bukan? ydiantara anak-anak itu ada yang tangannya butung. kerja mereka memunguti ranjau?

ninelights
ninelights wrote on Apr 18, ’09
Kalo soal pekerjaannya aku gak tau..nontonnya sepotong2 dan akhirnya ga milih nonton sampai selesai krn ga tega..iya,ada yg tangannya buntung..mas harri nonton juga..?judulnya apa?

harblue
harblue wrote on Apr 19, ’09

Kalo soal pekerjaannya aku gak tau..nontonnya sepotong2 dan akhirnya ga milih nonton sampai selesai krn ga tega..iya,ada yg tangannya buntung..mas harri nonton juga..?judulnya apa?

ngga. jarang nonton tv di sini. lupa saya judulnya. cuma emang tentang kondisi anak-anak dalam peperangan

harblue
harblue wrote on Apr 19, ’09

Aku tidak tahu judulnya. Malam itu yang kulakukan cuma menekan satu tombol hingga saluran di televisi itu beralih terus sampai tiba di metro tv. Dua orang anak berwajah khas Iran*mungkin, aku hanya menebak* membuatku tertarik untuk menyimak ceritanya. Aku lupa nama masing-masing mereka, tapi sepertinya tema yang disuguhkan adalah tentang anak-anak korban perang yang mencoba bertahan hidup di daerah konflik.

Dalam scene per scene, aku melihat seorang anak (yang masih kecil) tidak merasa canggung saat bertransaksi senjata dengan seorang pria dewasa di gun market. Teman seperjuangan anak ini adalah anak-anak lain yang telah hidup biasa dengan kecacatannya yang tanpa tangan atau tanpa kaki. Namun aku akhirnya sampai pada episode yang membuatku tidak tega untuk meneruskan alur cerita itu kala seorang anak perempuan yang harus menjadi wanita dewasa dan merasa terbebani untuk mengasuh balita buta yang tidak punya saudara lalu sengaja mengikatnya di suatu tempat, namun si balita buta itu berhasil lolos tapi malah nyasar sampai medan ranjau.

Ok. It’s just film. Aku tahu. Tapi film ini telah mengingatkan saya pada sebuah tragedi sampit yang telah menghabisi banyak manusia dan anak-anak tak berdosa di sana. Ketika itu saya baru sepuluh menit *terpaksa* menonton *film tragedi sampitnya*. Namun begitu kamera menge-shot kepala seorang anak yang ditebas sampai lehernya hampir putus, dan isi leher itu tidak diedit sama sekali, aku langsung kabur ke kamar mandi dan muntah-muntah.

Kalau diminta buat nonton Chainsaw, Saw atau yang lebih sadis, Hostel, ok. No big deal. I was. Dan I’m ok. Karena itu fiksi. Itu buatan manusia yang sengaja dibuat dan sudah diperhitungkan setiap incinya agar tidak membuat pemainnya benar-benar dihabisi nyawanya*Meski kalau nonton film ini harus sangat hati-hati, apalagi kalau punya adik atau saudara yang punya kecenderungan dan berpotensi besar buat menirukan hal-hal aneh seperti di film ini*. Tapi tragedi sampit ? Are U kidding me ?

Keesokan harinya, karena masih penasaran dengan judul dan jalan cerita sampai akhir, aku bercerita pada kawan sekantor. Meski dia menyimak sampai selesai, tapi ternyata dia sama tidak tahu judulnya seperti diriku. Tapi film itu masih membekas di hati sampai sekarang. Dan sampai membuatku merenungi diri sembari rebahan di tempat tidur sederhanaku. Meski mungkin film itu juga memang sebuah fiksi, tapi bagiku semua itu tampak nyata, dengan pemeran anak-anak yang masih sangat belia yang harus melewati adegan demi adegan tanpa kaki atau tangan bahkan buta. Aku sempat berpikir, apa mungkin mereka itu hasil casting yang benar-benar mengalami kejadian sebenarnya ? Wallahualam..Ah..aku tidak berani lagi membayangkan..

Aku hanya bisa mensyukuri apa yang telah kurasakan sampai detik ini. Betapa sangat beruntungnya menjadi diriku ini. Tubuh sempurna, lingkungan tenang dan aku masih diberi anugerah berupa kekuatan untuk meraih masa depan lebih baik, masa depan cerah, tanpa harus bersinggungan dengan perang, dan segala hal yang membuat hati ini perih dan hancur karena kehilangan banyak hal. Dan terlebih, aku masih bisa melewati masa kecil yang penuh warna bersama keluarga tercintaku, bersama ayahku, ibuku, kakakku, hingga aku menjadi seperti sekarang. Terima kasih Tuhan, untuk semua anugerah dan kenikmatan tak terhingga yang Kau berikan padaku sampai detik ini..Terima kasih, untuk semua hal indah yang Kau berikan padaku..

PS :

Perang yang melibatkan banyak nyawa tak berdosa sampai detik ini masih ada di belahan dunia lain. Dan itu membuat hati setiap manusia menangis. Hanya berharap, teman-teman kita yang telah berjuang untuk kebenaran, adik-adik yang berusaha bertahan hidup unuk membangun masa depannya kembali meski akhirnya tak mampu survive karena keadaan, para prajurit dari setiap negara yang setia pada negara, semua polisi yang melakukan tugas hingga harus kehilangan identitasnya selama bertahun-tahun lamanya, semua reporter dan wartawan yang meliput kehancuran dari sebuah perang, yang harus terkena imbas dari semua kejadian tersebut,
semuanya,

semoga semua arwah mereka dapat di terima di sisiNya..dan sanak saudara, krabat, teman, yang ditinggalkan, diberikan ketabahan…AMIN..

~We are living in a same place..on same earth..so why we should sent bullets and bombs to our own brothers ?~

pic from : children foreign policy

ngga. jarang nonton tv di sini. lupa saya judulnya. cuma emang tentang kondisi anak-anak dalam peperangan

kampungkusemarang
kampungkusemarang wrote on Apr 19, ’09
hmmmmmmmmmmm……… berfikir!!!!!!!!!1

ninelights
ninelights wrote on Apr 19, ’09
@mbak ita:kenapah atuh..?ada ap..?apa salahku..?hehe^^

kampungkusemarang
kampungkusemarang wrote on Apr 19, ’09
lagi berfikir ttg tu film…… siapa yg harus bertanggung jawab n disalahkan… tapi kok lum ketemu2 yah? hehehehehehehhe

ariefkurni
ariefkurni wrote on Apr 20, ’09
piss aja dehh……

julianawa
julianawa wrote on Apr 20, ’09
Gimana sisi kejiwaan mereka yah, besar dan tumbuh di lingkungan perang.
Aku pernah nonton tragedi sampit sedikit Na. Hanya sedikit, takut aku ngeliatnya..

ninelights
ninelights wrote on Apr 21, ’09, edited on Apr 21, ’09

siapa yg harus bertanggung jawab n disalahkan

masing-masing kubu memiliki sudut pandang sendiri untuk menyatakan kebenaran tindakannya, meski dunia tahu semua itu cuma akan semakin menyakiti rakyatnya sendiri..

ninelights
ninelights wrote on Apr 21, ’09

piss aja dehh……

piss kembali..^^

ninelights
ninelights wrote on Apr 21, ’09

Gimana sisi kejiwaan mereka yah, besar dan tumbuh di lingkungan perang.

untuk sementara, saya masih belum tahu sudut pandang anak-anak yang tumbuh di lingkungan perang seperti apa..kalau trauma sih pasti ada..kalau dari kakek yang sudah pernah melewati masa peperangan, sangat keras..tapi, kembali lagi ke orangnya masing-masing juga..

duniapeng
duniapeng wrote on Apr 28, ’09

Aku hanya bisa mensyukuri apa yang telah kurasakan sampai detik ini. Betapa sangat beruntungnya menjadi diriku ini. Tubuh sempurna, lingkungan tenang dan aku masih diberi anugerah berupa kekuatan untuk meraih masa depan lebih baik, masa depan cerah, tanpa harus bersinggungan dengan perang, dan segala hal yang membuat hati ini perih dan hancur karena kehilangan banyak hal. Dan terlebih, aku masih bisa melewati masa kecil yang penuh warna bersama keluarga tercintaku, bersama ayahku, ibuku, kakakku, hingga aku menjadi seperti sekarang. Terima kasih Tuhan, untuk semua anugerah dan kenikmatan tak terhingga yang Kau berikan padaku sampai detik ini..Terima kasih, untuk semua hal indah yang Kau berikan padaku..

TFS nana. inspiratif banged. bikin terharu

ninelights
ninelights wrote on Apr 29, ’09
@mas peng:trima kasih jg ya..:-)you’re also an inspiring person, you are inspired me..*bener ga basanyak?dikoreksi y kalo salah:-)*

One thought on “Anak Korban Perang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s