Cerita di Klinik Umum

Apr 4, ’09 6:25 PM
for everyone

Waktu itu saya terserang demam. Karena belum juga membaik setelah dua hari, saya kemudian di bawa ke klinik umum sebuah rumah sakit swasta di Semarang untuk diperiksa lebih lanjut. Bapak saya yang mengantar.

 

Setelah selesai di check dokter umum disitu, saya kemudian duduk bersama Bapak saya di sebuah bangku. Bapak saya yang lebih aktif menjawab sewaktu si dokter menanyakan kondisi dan kronologis penyakit yang terjadi pada saya, sementara saya hanya satu dua kata menjawab pertanyaan setelah kemudian lebih banyak melihat-lihat sekitar ruangan.

 

Sembari menunggu dokter menulis resep, mata saya mengikuti langkah seorang suster yang berjalan agak terburu-buru masuk ke UGD. Klinik umum itu dulu menyambung dengan ruangan Unit Gawat Darurat rumah sakit jadi para pasien di klinik bisa melihat calon pasien lain yang nantinya mungkin akan menjadi calon penghuni di rumah sakit tersebut.

 

Samar-samar saya kemudian mendengar erangan dan tangisan. Suara beberapa langkah orang mulai mengusik kesunyian klinik yang memang masih sepi pasien. Hanya ada saya, bapak saya, dan satu dokter umum di hadapan. Dan setelah itu saya kemudian melihat seorang pasien dengan tempat tidur dorongnya muncul dari balik dinding dan berhenti tepat di arah jam dua belas. Dari jarak, mungkin kurang lebih sepuluh meter, saya bisa melihat dia dikerumuni beberapa perawat yang tampak fokus merawat dan menenangkan kondisi jiwanya.

 

Pasien itu perempuan. Dia baru saja mengalami kecelakaan yang cukup parah meski seingat saya, saya tidak melihat darah waktu itu. Tapi sebuah pemandangan yang cukup miris membuat bapak dan dokter yang ada bersama saya pun lalu ikut memperhatikan. Saya kurang tahu apakah satu kaki kirinya itu benar-benar putus atau tidak, tapi saya dengan jelas melihat seorang suster memegangi pahanya sementara saya memfokuskan mata ke sebuah daging di balik celana (yang saya yakin sengaja tidak disibak) yang naik sekitar 5 centi meter ke atas sementara sisi paha hingga ke pantat perempuan itu ‘tidur’ di tempat yang seharusnya.

 

Saya tidak bereaksi apa-apa waktu itu, hanya terpaku dan terus melihat pemandangan di balik celana si pasien. Dan dokter, terlebih bapak sayapun sudah terlalu sibuk untuk menyadari kalau umur saya masih empat belas tahun. Namun lama kelamaan mata saya mulai berkaca ketika saya kemudian memperhatikan kondisi kejiwaan si pasien. Dia terlihat shock dan histeris. Tapi bukan karena kakinya yang jelas-jelas dalam kondisi yang bisa membuat jiwa terguncang hebat, apalagi dia perempuan yang masih cukup muda. Tapi karena dia terus saja menanyakan kondisi keluarganya yang lain. Dia terus saja bicara dengan raut muka panik dan khawatir, menanyakan bagaimana dengan mereka..bagaimana dengan kondisi yang lain..

 

Saya kemudian di giring untuk cepat keluar dari tempat itu setelah dokter umum itu memberikan resep obat untuk sakit saya. Saya sempat mendengar kalau salah satu suster yang mencoba menenangkan dan merawat si pasien itu mengatakan bahwa keluarganya dalam keadaan baik-baik saja. Meskipun mereka sudah tahu, dan waktu saya hendak keluar dari klinik umum itu sayapun akhirnya tahu, kalau mereka semua, keluarga itu, kecuali si pasien perempuan, tewas seketika di tempat kejadian.

 

Dan saya kemudian terjaga sampai esok pagi..

 

 

-rana wijaya soemadi-

Kotatua kedinginan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s