For My Dear Friend

For My Dear Friend Aug 18, ’08 12:18 PM
for everyone

Innalillahi wa Inailaihi Rojiun..Na, Aldy meninggal malam ini..’

 

Sebuah kiriman pesan singkat dari sahabatku datang lewat SMS. Aku terbangun jam tiga pagi waktu itu. Tawa dan cengiran Aldy yang khas mampir di ingatan tiba-tiba dan kemudian aku terjaga sampai subuh menjelang..
Ada rasa bersalah dihati ini ketika dulu aku pernah berkata pada sahabatku, bahwa Nothing is Impossible in This World.. .Memang tidak ada yang salah dengan perkataanku..Aku hanya bersikap optimis agar dia sembuh suatu hari nanti..atau mungkin, karena aku ingin menyangkal kesedihanku sendiri karena suatu hari nanti temanku Aldy, tetap akan pergi..?

Pernah kutitipkan doa kesembuhan untuknya ke Baitullah langsung..berharap dengan doa itu Aldy bisa sembuh dengan keajaiban..Tapi setelah tahu bahwa sepucuk surat itu tidak akan dibaca dengan serius meski aku menitipkan pada seorang yang aku kira bisa dipercaya, aku kecewa bukan main..

Mungkin karena saking kecewanya, aku hanya bisa diam..
Bulan itu Juli tanggal 17, pukul 19.30 WIB, Aldy berpulang ke Sang Pemberi Kehidupan..Sahabatku, yang adalah mantan pacarnya, meneleponku pada keesokan harinya dan berkata tidak datang melayat..tidak sanggup katanya..Akupun berangkat dengan kedua sahabat yang lain menuju ke rumah orang tuanya di daerah Ungaran.

 

Sekitar hampir maghrib kami baru tiba. Aku melihat ayahnya dan sanak famili lain sedang bercengkrama di teras rumah. Tratak hijau masih terpasang sementara kursi-kursi sudah dilipat di tepi jalan. Lampu neon putih menyala di beberapa tempat. Meski bibir mereka diselingi tawa tapi masih kulihat ada kesenduan dimata mereka. Aku bersalaman. Diikuti kedua sahabatku, aku kemudian dipersilahkan masuk ke dalam rumah oleh adiknya Aldy yang laki-laki.

 

Dari jarak dua meter aku melihat seorang perempuan berdandan sedikit gothic dengan rambut dicat emas bersandar di dinding. Saat masuk, aku melihat beberapa gerombolan perempuan lain tertawa-tawa. Adiknya Aldy kemudian memperkenalkan seorang perempuan lain, yang berpakaian santai, dengan celana pendek ketat selutut berwarna hitam dan kaos putih kedodoran, yang adalah istrinya Aldy. Aku sempat bersalaman sampai kemudian dia (si istrinya Aldy alm) ngobrol kembali dengan temannya tanpa menghiraukan kehadiran kami. Agak heran juga saat kutatap matanya dan raut wajah istrinya saat itu. Selain karena ‘sepertinya aku pernah lihat orang ini’ tapi juga karena tidak ada pancaran kesedihan sedikitpun dari mata dan rona mukanya. Dia terlihat baik-baik saja. Malah tertawa-tawa.

 

Seorang perempuan lain, dengan rambut berpotongan pendek, keluar dari kamar dan menyapa dengan menyebut namaku. Aku terkejut.

 

‘Lho, kok kenal ?’, aku kaget. Maklum, seumur-umur, baru kali itu kita berdua bertemu dan bertatapan muka pertama kali. Kalau dengan ayah dan ibunya, dan dua adiknya yang lain, sudah pernah, sewaktu membesuk Aldy di rumah sakit.

‘Iya, Mas Aldy sering cerita..’, terangnya, jujur. *wah..berarti aku lumayan terkenal ya..hehehehe*masih narsis aja nih.hwehe*.adiknya Aldy yang perempuan itu melanjutkan, ‘temannya Mbak Asih juga kan..?’

‘Iya..’

Dan kemudian kami dipersilahkan duduk di atas tikar, agak menyendiri dari gerombolan istrinya sementara adiknya tersebut pamit untuk sholat maghrib. Sesaat kemudian aku, Ayu, yeti dan adiknya Aldy yang perempuan itu ngobrol.

 

Aku terharu, sekaligus tersentuh, betapa adiknya itu seperti sudah menganggapku seperti kakaknya sendiri. Menceritakan saat-saat terakhir dia bersama Aldy..Saat Aldy dan Reny dulu pernah bersama..Saat Aldy dan dia berkomunikasi..Saat kemudian Aldy tidak ada lagi di dunia..

 

Aku kemudian memeluknya untuk memberikan rasa sayang dan rasa simpati mendalam.

 

Setelah itu kita pulang ke Semarang untuk langsung membesuk ayahnya Reny yang masuk rumah sakit dan kemudian diajak ngobrol-ngobrol bersama di Mama Mia..Betapa senangnya Reny melihat kami berdua. Dia tampak langsing dari terakhir kita ketemu dulu. Makhlum. Dia orang penting, jadi jarang bersama. Reny lalu mengenang masa lalu dan mengenang Aldy..

 

Saat kemudian Reny lebih intens untuk bicara berdua saja padaku, dia bercerita tentang kondisi yang terjadi selain dengan penderitaannya Aldy selama ini..

 

I can’t say it in this blog but..Aku tertegun..Ya Allah..mungkin itulah jalan terbaik untuk Aldy..betapa aku sangat kasihan terhadap Aldy..betapa aku sangat mengiba, mungkin iya karena penyakit kangker otaknya yang menghinggap di kepalanya saat Aldy masih terlalu muda untuk memulai karir..tapi lebih kepada nasib Aldy yang menutup usia dengan cara seperti itu..dengan cerita seperti itu..tapi, mungkin aku salah, karena mungkin baginya, bersama keluarganya, bersama adiknya, teman-temannya, bisa melihat mereka untuk yang terakhir kali, itu sudah cukup..

May U rest in peace my friend..May U rest in peace..

 

reply edit delete

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s