Percakapan

Oct 25, ’08 3:15 PM
for everyone
            “ Aku tidak mengerti dengan wanita, Frans,” keluh Robert suatu kali di tepi danau. Frans hanya mengerutkan kening tanpa menatap mata pria yang sudah menjadi teman bicaranya selama empat puluh tahun itu. Mereka tujuh puluh enam tahun saat ini.“ Jenis kelamin kemayu ini suka sekali mencari gara-gara, suka mengomel pada hal-hal yang tidak penting, selalu cerewet pada apa dan siapa yang kita temui dan perbuat, harus laporan, mudah tersinggung, suka sekali marah-marah sendiri. Dia pikir dia siapa seenak jidat mengatur hidup kita !”

“ Hidupmu maksudnya kan ?”, sela Frans.

“ Ya, hidupku, hidupmu, sama saja !”

“ My wife is death, didn’t you remember ?”

Robert tertegun, lalu berpikir. Dia kemudian bertanya ragu-ragu. “ Benarkah..?”

Frans tertawa terbahak. “ Hahahaha ! Kau ini sudah semakin tua, Bert. Mungkin kau sudah lupa siapa nama lengkapku dan tanggal lahirku.”

Robert akhirnya mengangguk-angguk malu. “ Sejak kapan ya..?”

“ Sejak sepuluh tahun kemarin saat aku tercebur di danau ini dan pulang kehujanan..”

Robert mencoba mengingat-ingat. Beberapa detik kemudian, “ Didn’t remember.” Frans tersenyum maklum, sementara Robert masih penasaran atas informasi yang hilang di ingatannya, “ Diana ? Maria ? AH, Almandria kan ?”

“ Amanda, Bert..,” koreksi Frans.

“ Ya, Amanda, “katanya sok benar, “ Sungguh sayang ya ? “

“ Ya..,” jelas Frans dengan suara pelan, “ Dan dua tahun setelahnya adalah tahun-tahun terberatku..”

“ Kenapa..?” Tanya Frans polos.

“ Yah..,” mengusap-usap paha, “ karena kehilangan pastinya..dan karena baru menyadari bahwa dia begitu sangat mencintaiku.. ”

“ Bukankah dulu kalian hidup bahagia ?”

Frans memandang takjub ke arah Robert. “ Apa kamu benar-benar tidak ingat apapun lagi ?”

“ Aku sudah semakin tua, Frans ! Ceritakan sajalah apa yang terjadi, karena celana dalam istriku sudah sering kau ketahui hampir setiap hari !”

Frans tertawa lagi dengan gaya bicara Robert yang serampangan. “ Hey..itu karena dia selalu menjemur pakaian di depan halaman rumah !”

“ Sudah, ceritakan !”

“ Oke. Kau ingat dengan Helena ? Dia adalah mantan pacarku sejak aku lulus dari bangku kuliah. Sampai lima tahun putus dan akhirnya bertemu dengan Amanda. “

“ Terus ?”

“ Selang setahun aku dan Amanda menikah. Dalam hubunganku dengan Amanda, diapun sama seperti istrimu, sering mencari gara-gara. Sampai suatu ketika karena jengah, aku memarahinya dan mengatakan kalau aku juga punya rahasia, jadi dia tidak berhak mengatur hidupku. Sejak itu, dia tidak pernah lagi mengeluh apapun..”

Man power isn’t it?”

“ Ceritanya belum selesai..”sergah Frans buru-buru. “ Suatu malam, setelah bertahun-tahun bersama, aku menemukan tiga catatan hariannya di balik tempat tidur kami. Kau tahu, Frans. Malam itu aku baru menyadari sesuatu, “

Alis Robert bertaut. Frans melanjutkan, “ Aku tidak mengenalnya sama sekali.”

Robert tampak terkejut. “ Wanita yang kau nikahi selama, “ Robert melihat jari-jarinya, mencoba menghitung,” umur berapa kau menikah ?”

“ Tiga satu.”

“ Wanita yang kau nikahi selama tiga-puluh-lima-tahun dan kau belum mengenalnya sama sekali ?”

“ Ya. Dan akupun tidak tahu dan tidak pernah ingin mencari tahu apapun tentang dirinya..Hanya status ‘istri’ saja yang tertera di kepalaku beserta tugas-tugasnya yang menjemukan. Aku tidak tahu perasaannya, aku tidak tahu warna kesukaannya, aku tidak mengerti kenapa dia menangis, aku tidak peduli saat dia menderita batin karena menatapi puisi cintaku yang hampir selalu kubuat untuk Helena, hanya untuk Helena. Aku bahkan tidak pernah berkata kalau aku mencintainya..”

Suasana hening sejenak, setelah kemudian seorang kakek yang terkenal dengan kealpaannya itu mengerti, sampai dia hanya bisa bilang,

Oh, shit..,”

 

Dan Robert masih kehabisan kata-kata,

“ Oh, shit..”

 

Franspun menambahi.“ Yeah, really shit..”

 

Danau tampak tenang sore itu. Satu induk angsa beserta anak-anaknya berenang di tepian menuju ke selatan. Wajah Frans redup. Namun Robert segera membuyarkan kesedihan itu.

“ Mungkin lebih baik aku tetap tidak ingat apapun daripada mengetahui bahwa dirimu ternyata seorang pria kejam soal cinta,”

Frans menyeringai. Dia tahu Robert bercanda, tapi kalimatnya semakin menegaskan keadaan sebenarnya.

“ Sudahlah, ayo pulang. Sebelum istriku menyuguhkan omelan panjang tentang arti pentingnya makan malam bersama untukku.”

“ Ya..,” Frans mendesah panjang, “ Mari kita pulang..”

 

 

Cerpen  oleh : Rana Wijaya Soemadi

Kota tua kedinginan, 25 Oktober 2008

 

See also on :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s