#1. Tak Ada Nyanyian Burung Pagi Ini

Oct 19, ’09 8:08 PM
for everyone
Pohon itu berkibar membangunkanku, mengetuk jendela kotakku, menghembuskan angin dingin. Aku menggeliat dan menatap langit yang seharusnya biru. Terasa hambar tak ada nyanyian burung pagi ini. Terasa sunyi tak ada gemuruh kesibukan jalan pagi ini. Terasa suram karena seluruh penghuni rumah telah pergi berlalu.
Aku sendiri. 
Aku berdiri dan kudekati jendela dengan tirai putih kelabu. Kutatap jalan aspal yang masih basah di bawah. 
Malam tadi kuingat Bias berdiri disitu, menatap kamarku. Memerangi hujan yang turun deras. Menjerit dalam diamnya yang teramat sangat menusuk hati terdalamku.
Ku ingat dia dengan hanya memakai jaket kain yang teramat basah terus saja menatap jendela kamarku, menatap diriku yang berada dibaliknya, menatap hatiku yang ingin berlari memeluknya..
Gemuruh terdengar sayup –sayup di cakrawala.
Kulihat satu dua orang berjalan di trotoar pagi ini sambil merapatkan jaketnya, menghangatkan tubuhnya yang menggigil. 
Apakah sungguh hati ini sedingin cuaca diluar sana ?
Tukang loper koran dengan sepeda mininya susah payah memerangi angin yang datang menerpanya dan melemparkan seikat koran ke depan pintu rumahku yang tak berpagar, yang hanya berhias halaman luas nan hijau dan taman berhias bunga – bunga mungil.
Aku agak melongok memandang tukang loper koran itu pergi dan berlalu.
Apakah sungguh hatinya jua tak semendung pagi ini ? Tapi apa dia pernah bisa menjawab pertanyaan ini seandainya dia mendengarnya ? Lalu kenapa aku terlalu ingin tau urusan orang ?
Ah,
Aku usap embun yang bersandar di kaca jendelaku. Kutatap lagi langit yang seharusnya biru pagi ini.
Sungguh tak kudengar sedikitpun ada nyanyian burung pagi ini. Tak ada semangat gemuruh kesibukan pagi ini. Tak kutemui orang – orang berlalu lalang di atas jalan yang basah pagi ini.
Kenapa hari ini begitu sunyi ? Kenapa pagi ini terasa mendung ?
Kutatap lagi jalan aspal yang masih basah tepat dibawah jendela kamarku.
Aku membayangkan Bias yang masih saja berdiri disitu, menatap jendela kamarku, menatap diriku yang berada dibaliknya, menatap hatiku yang ingin berlari memeluknya, hingga aku sadar tidak ada siapapun lagi di jalan itu pagi ini…tidak juga Bias..
Dan aku menarik nafas berat lalu berlalu. Berusaha tanpa meninggalkan hati yang berarti.
31 Oktober 2004
Kenangan Oktober
FF oleh : Rana Wijaya Soemadi

addicted2thatrush
addicted2thatrush wrote on Oct 20, ’09
Semoga sudah bersiul lagi..

tousche
tousche wrote on Oct 20, ’09
Rana emang dari dulu udah jago nulisnya yah.. Aku salut Na! dan juga kagum tentu saja..🙂 Keep writing yahhh… Chayoo!

ninelights
ninelights wrote on Oct 20, ’09

Semoga sudah bersiul lagi..

dan terbang suatu hari nanti..terbang dengan kesederhanaan dan bahagianya….^^

ninelights
ninelights wrote on Oct 20, ’09
tousche said

Rana emang dari dulu udah jago nulisnya yah.. Aku salut Na! dan juga kagum tentu saja..🙂 Keep writing yahhh… Chayoo!

Aleeeeeeeeeeeeei……..senang rasanya kalau Alei datang berkunjung….^^
aku pun salut dan kagum padamu, tulisanmu, ceritamu….^^Semoga kita tetap menulis dan membangun mimpi, dengan langit di atas sana sebagai batasannya, dan ketika tiba saatnya dia runtuh,
kau, aku, kita, akan berhenti mengejar…mimpi. Just like u said..:-)…keep dreaming..keep writing…ohh..miss u so all……*bolehkah aku minta foto-foto yang di mertilang dulu?*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s