Arti Kematian [1]

Jun 9, ’09 1:56 PM
for everyone

 

 

Hari itu kami harus menerima sebuah kenyataan hidup. Meski mulanya hanya tertuju penuh pada nenek tiri saya yang terbaring koma belasan hari di rumah sakit, pada nenek saya yang lain yang jatuh dari kamar mandi, pada firasat kami yang akan kehilangan salah satu eyang tercinta sebentar lagi,

 

Om Eddy meninggalkan kami semua untuk selama-lamanya ‘tanpa tanda-tanda’ dalam perjalanan pulang ke rumahnya di Bekasi, Jakarta, dengan usianya yang masih cukup muda untuk seorang ayah. 46 tahun.

 

Beliau mengalami kecelakaan tunggal yang cukup tragis. Mobilnya hancur. Tubuh bagian dalamnya yang sebelah kanan remuk dan bagian kening kepala juga mengalami benturan yang keras hingga retak cukup parah. Saat kami semua, yang ada di Kendal, mendengar kabar tersebut, tak terbayangkan perihnya kami, terlukanya kami, tak terimanya kami, kehilangan sosok anak, paman, keponakan, adik, ayah, suami, teman, dan sahabat kami direnggut begitu saja dengan cara terpahit yang tak bisa kami pahamidalam sekejap mata.

 

Beliau seperti seorang malaikat bagi kami semua yang memberikan kenangan manis di hati setiap kami masing-masing.  Di hati kakek dan nenek. Di hati ibu saya sebagai kakaknya. Di hati kakak saya sendiri. Dan juga di hati saya pribadi, hati keponakannya yang sering sekali manja dan begitu keras kepala.

 

Om Eddylah yang selalu menssuport saya untuk tetap semangat menulis. Om yang bangga pada keponakannya sendiri karena satu karyanya (yang mungkin sangat tidak berarti untuk orang lain) waktu itu, dimuat full satu halaman di sebuah Koran di Jawa Tengah, sampai seluruh keluarga yang kami temui, dia beritahu dengan semangatnya kalau ‘karyanya Nana dimuat’. Om, yang pada suatu waktu berkata pada saya, kalau “suatu hari nanti kamu akan menjadi seperti dia (menunjuk salah satu tokoh perempuan yang terkenal yang sedang berbicara di televisi), yang akan diwawancarai banyak stasiun televisi karena karyanya,” dengan rasa kagum dan bangga luar biasa.

 

Lalu kenyataan hidup menghampiri tiba-tiba tanpa permisi. Saat itu umur saya 20 tahun, dan seseorang yang kami tunggu, datang juga ke kota Kendal (untuk dimakamkan) dalam keadaan terbungkus kain kafan yang dibalut jarik, dan menghadap kiblat.

 

Ketika keesokan pagi tiba, dan saat kami harus melihat wajah Om untuk terakhir kalinya di dunia, hati saya hancur sehancur hancurnya. Dan seluruh ruangan tumpah ruah dalam kepedihan tak terperi.

 

Namun Tuhan menunjukkan berbagai macam keajaiban lewat caraNya sendiri. Dan keajaiban dan kebesaran Tuhan telah saya saksikan hari itu saat seluruh amalan baik yang telah Om Eddy lakukan selama hidup di dunia begitu melindungi dan membantunya bahkan sampai beliau masuk ke liang lahat dan pergi untuk selama-lamanya.

 

Om Eddy pergi dalam damai dan tersenyum bahagia, dan karena itu, hari itu saya tidak menangis untuk melepasnya pergi.

 

 

 

Meski suatu hari nanti, bahkan pada saat saya menulis ini, air mata saya tumpah hingga dada terasa sesak karena rasa perihnya, hari itu saya telah belajar banyak hal tentang hidup, tentang ilmu ikhlas, tentang arti kehilangan yang dirasakan hampir semua orang yang hidup di dunia ini, tentang sosok Om, the greatest man, the golden man for our families, yang tidak akan pernah akan kami lupakan seumur hidup kami.

 

Terima kasih, Om..Kami akan selalu meresapi makna untuk semua ini, karena apapun yang terjadi, kehidupan akan terus berjalan..tak berhenti..

 

 

 

 

Kenangan untuk :

Eddy Sindhu Widodo

22 Juni 1958 – 8 Agustus 2004

reply edit delete
Sponsored Links

READY STOCK FLOWER JELLY SHOES , IMPORT HK , RESELLER WELCOME

Semua Ready ya..Harga Super Murah untuk Lebaran , Rp 110.000 , min 3 Rp 100.000 , SMS 02151238498 , Pin BB 31323C07

Ready Stock Women’s Secret Braset , reseller welcome

Women’s Secret Braset nya ready ya , special price for reseller , SMS 02151238498 , Pin BB 31323C07
13 CommentsChronological   Reverse   Threaded
delete reply
ariefkurni wrote on Jun 9, ’09
Rana..
Ikut bersedih jg..
Ingat mati selalu
delete reply
duniapeng wrote on Jun 9, ’09
sedih… hiks.. hiks…

ayo Rana. buat Om-mu bangga dengan karya2 mu.

edit delete reply
ninelights wrote on Jun 9, ’09
@mas Arif : Trima kasih..:-)

@Mas Peng :..I’ll do my best,Mas Peng..makasih ya..:-)

delete reply
neztsmileyfaces wrote on Jun 10, ’09
ya ampuun…………………………………………
*sumpah speechless*
edit delete reply
ninelights wrote on Jun 10, ’09
@mbak Agnes :
Mbak Agnes..

…trima ksh sdh mampir yah,Mbak..berarti byk..:-)

So,thanks again..

delete reply
alexast wrote on Jun 13, ’09
duh… Rana bikin gue mellow pagi-pagi ih…
my deepest condolonces ya? HUGS
edit delete reply
ninelights wrote on Jun 13, ’09
@Alex:duh..Alex..bikin hati saya jd terharu siang2 begini krn dpt kunjungan darimuw..:-)

Thanks Alex..
*HUGS BACK*

delete reply
alexast wrote on Jun 13, ’09
hihihihii pagi-pagi atuh, Na. Kan gue komennya jam 7 pagi! heheheheh
edit delete reply
ninelights wrote on Jun 13, ’09
@Alex:
hihihi..iyah,deh..siang..hahahaha..akuw yg ksiangan mksodnyah..baru bangon td..libor euy..hihihi
delete reply
alexast wrote on Jun 13, ’09
ih anak perawan bangun siang. Ntar ga laku lho! hihihihi
edit delete reply
ninelights wrote on Jun 13, ’09
@Alex:nyahahahahahaha..iyah,Mbah Surip..besok aku bangun pagih..kan ngantor lagi..hihihihi
delete reply
alexast wrote on Jun 13, ’09
kyaaaaaaaaaaaa besok minggu, kan? kok ngantor?

*segera gugel sapose itu mbah surip*

edit delete reply
ninelights wrote on Jun 13, ’09
@Alex:iyah,Alex,besok minggu,dan,besok masuk..:-)

*dah gih bobo jangan gugling dulu,kan-belon-tidor-43-jam-lamanya, nanti biar digendong kemanah-manah sama Mbah Surip..

Hihihi

Night, Alex..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s