Matahari

Mar 2, ’10 12:39 AM
Aku terjaga dari tidur. Dan baru menyadari setelah mata ini terbuka, rasa itu masih saja sama. Dan singgah. Dan sakit rasanya. Berharap bisa meraba sesuatu untuk menambal sesak di dada ini. Tapi tidak ada, dan aku tahu, sia-sia saja berharap.
Semuanya seolah menjadi hitam dan putih dan aku merasa tidak ada tempat untukku, yang kutahu. Aku sudah mencoba, tapi kadang, aku merasa tidak sanggup menatap langit dan berkata, semuanya akan baik-baik saja.Ben pun pernah berkata itu padaku saat aku melihat dia, laki-laki itu, Matahari, sekali lagi, membuatku merasa menjadi wanita paling tidak berguna sedunia.

“ Lebih baik kamu katakan perasaanmu sekarang padanya, Win..”,saran Ben suatu ketika, saat dia tahu aku menyukai pria itu, pria yang belum pernah Ben temui tapi aku telah bercerita banyak tentangnya. Banyak. Tapi tidak semuanya, “ Daripada kamu tersiksa begini…”

“ Tapi nggak mungkin, Ben…”

“ Kenapa..? Karena dia sahabatmu..?”

Ben menatapku penuh arti. Dan aku bingung menjawab pertanyaan itu. Bukan cuma itu, Ben, sebenarnya. Ahh..Aku..Entahlah..Mengatakan atau tidak, aku rasa, akan sama sakitnya.

Dan malam itu rasanya lebih baik aku tidak ada di situ..Lebih baik aku mencoba menyembuhkan sendiri rasa ini di sebuah sudut kamar, merebahkan diri, dan berharap esok pagi semuanya akan kembali baik. Tidak akan ada lagi luka. Tapi tidak mungkin.

Ujung langit tampak hampir selalu sama warnanya malam itu. Kelam, abu-abu, hitam. Dan ombak di ujung bergelombang dan lalu pecah di sibak batu karang. Pria itu, dengan membawa botol birnya, sempoyongan di tepi pantai dan lalu ambruk, tapi masih saja tertawa-tawa. Pipinya merah. Tapi aku merasa dia cukup sadar untuk tahu bahwa yang menghampirinya adalah aku, sahabatnya.

“ Sudahlah, Har..kamu cuma semakin menyakiti dirimu..,” kataku sedih. Dia tertawa dengan matanya yang tertutup. Botol di tangan kanannya hampir dia daratkan di bibirnya untuk ditenggak, tapi aku segera membuangnya jauh-jauh. Aku melihat kilat kemarahan yang ada pada matanya. Dia lalu membentakku dan memakiku habis-habisan.

“Balikin gak ! BALIKIN BOTOL GUE SEKARANG !”

“ Enggak…”, jawabku datar. “ Gak penting semua itu…,”
Dengan kekuatan setengah sadarnya dia lalu meremas lenganku. Sakit rasanya. Tapi lebih menyedihkan lagi saat aku berhasil merobohkan tubuhnya dan membuat dia jatuh ke tanah. Tak berdaya.

“ Tidak ada gunanya kamu minum itu semua, Har..Nggak akan buat dia balik..Dan kamu tau itu..”

Dia lalu tertawa sekencang-kencangnya dan lalu diam dan tersenyum-senyum sendiri. Dan tertawa lagi. “ Apa yang elu tau tentang perasaan gue, Win..?Ahahaha…Elu bahkan gak pernah ngrasain gimana jadi gue..gue, yang orang-orang pandang aneh…,”

Aku diam. Andaikan kamu tahu, Har..

“ Lu nggak tau kan..?,” dia kembali menebak. Mukanya sangat merah. Sejenak dia menatap benci ke arahku, selebihnya, dia merasa sangat membenci dirinya sendiri. Dan setelah itu dia berguling guling di pantai, mencoba berdiri, tapi tidak mampu.

“ Har..”, aku menatapnya sedih. “ Sudahlah, Har…”

Aku melihat dia merayap, mencoba meraih botol yang tadi kulempar jauh disana, dan dia hampir berhasil meraihnya lagi. “ Aku sayang sama kamu, Haar..!”

Aku melihat dia berhenti berusaha merayap. Dan aku terlalu takut melihat reaksi yang dia berikan padaku hingga aku palingkan wajahku. “ Pertama kali ngeliat kamu, aku udah sayang sama kamu ! Pertama kali liat senyummu, aku juga udah sayang sama kamu ! Aku gak tau apa ini salah, tapi aku gak tau gimana cara ngelupain kamu !”

Aku mengusap air mata yang jatuh di kedua pipi dan berusaha mengendalikan diri dengan duduk. “ Tolong…aku mohon..Aku ingin kamu nggak mabuk-mabuk lagi itu sudah cukup buat aku…aku liat kamu senyum, itu udah cukup buat aku…Jadi,tolong, Har..hentikan semua itu….aku gak pengen liat kamu sedih lagi…”

Dan aku berharap malam itu semua akan berjalan dengan baik-baik saja. Ya…aku tahu akan tetap sedih..tapi semua akan baik-baik saja. Dan aku percaya, suatu hari nanti rasa ini akan sembuh dengan sendirinya. Tapi malam itu aku tetap menangis juga. Malam itu, ketika kemudian aku tahu, dia telah tertidur dan tidak mendengarkan apapun yang kubicarakan. Aku tertawa. Tapi aku lalu menangis. Dan aku tertawa lagi. Menertawai kebodohanku. Menertawai langit yang tetap saja bergemuruh dan mengajak hujan turun memaku hati dan perasaan.

“ Tapi kenapa semuanya tak mungkin, Win..?Tak ada yang tak mungkin, Win..Dan kamu tahu itu ..”, Ben memegang kedua tanganku yang gemetar karena sedih. “ Sudah..jangan terlalu bersedih seperti ini..someday you will make it..you know that..He will love you..”

“ Tak mungkin, Ben..”, aku bersandar pada dada Ben, menenangkan perasaan yang kian sakit.

“ Kenapa…?”, Ben bertanya sedih.

“ Karena dia gay, Ben…..sepertimu…..”

Lamat-lamat terdengar suara batang besi mungil saling berbenturan tertiup angin pagi. Dan lalu hujan tiba-tiba datang saat langit biru cerah, tanpa tanda. Hanya air asin. Sementara..aku tidak lagi menangis.

Flash Fiction : Rana Wijaya Soemadi
Kotatua kedinginan, 1 Maret 2010

rudyprasetyo
rudyprasetyo wrote on Mar 2, ’10
hikssss….

alexast
alexast wrote on Mar 2, ’10
blahjadi metal gue

Mellow total….

*nenggak aer putih banyak-banyak*

fivefebruary
fivefebruary wrote on Mar 2, ’10
duh, endingnya bikin gregetan neh Ra

ramakiki
ramakiki wrote on Mar 2, ’10
*berkaca-kaca*

ninelights
ninelights wrote on Mar 3, ’10
aduh..napa pada sedih semua..?hiks..

malachinovel
malachinovel wrote on Nov 1, ’10
aduh sempat bingung sih ini dengan bagian tengah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s