Pelajaran Pertama tentang Luka

Pelajaran Pertama tentang Luka Jul 13, ’09 9:12 PM
for Rana’s network
Waktu itu saya masih kanak-kanak. Mungkin umur enam, atau tujuh, saya kurang tahu pasti. Senja belum tenggelam sepenuhnya saat saya dan anak tetangga saya main di sekitar komplek perumahan. Jalanan tidak begitu ramai. Namun kami bisa membuat dunia kami seolah-olah ramai dan menyenangkan dengan cara kami sendiri tentu saja.

Kemanapun saya pergi, anak tetangga saya ini, yang umurnya memang di bawah saya, selalu ikut di belakang saya. Biasanya, kami bermain ramai-ramai dengan teman-teman lain yang hampir sebaya, dengan bermain petak-umpet, lompat tali, bahkan pernah iseng buat kuburan malem-malem di sebelah rumah tapi pada akhirnya takut sendiri terus dibongkar dengan membabibuta karena saking takutnya*wakakakaka*, mengisi waktu sore-sore saat para bapak pulang dari kerja dan ibu selesai mengangkut pakaian kering. Kalau ingin tahu, kami, para anak kecil seperti tinggal di sebuah istana kerajaan. Dimana perumahan itu memiliki sudut-sudut bangunan dan lapangan beraneka jenis tumbuhan, termasuk kembang kentut *yang sumpah baunya kayak kentut* yang selalu saja menarik untuk kami jelajahi.

Namun saat itu ternyata hanya ada saya dan Pringgo saja, begitu panggilannya. Seperti ingin memenuhi kewajiban kami untuk tetap ‘bersenang-senang’ apapun yang terjadi, kami lalu jalan-jalan menuju ‘rumah-rumahan’ besar yang setelah agak dewasa baru sadar kalau ‘rumah-rumahan’ tanpa pintu dan jendela itu untuk menimbang berat badan truk. Lokasinya tidak jauh dari rumah kami tinggal.  Di ‘rumah-rumahan’ itu, ada sebuah tambang berat dari besi yang berfungsi sebagai ‘pintu’ yang menandakan timbangan truk itu beroperasi atau sedang off, layaknya kantor.

Di tengah-tengah rantai tambang itu, sayapun duduk. Rasanya aneh memang. Pantat saya seperti mendarat di batu yang tidak rata. Tapi ternyata, dari hal ‘aneh’ dan sangat sederhana itu, saya tetap bisa menemukan sebuah kesenangan baru.

Seperti ayunan, kaki saya kemudian membantu tambang itu untuk berayun maju dan mundur secara perlahan-lahan. Seperti ombak pula, tangan saya membantu tambang itu untuk membuat ‘gelombang’ naik dan turun. Mulanya, Pringgo hanya duduk di aspal memperhatikan kesenangan baru saya ini. Karena kelihatannya asyik, Pringgopun kemudian mengikuti apa yang saya lakukan dengan duduk di samping kanan saya.

Kami lalu sama-sama menikmati mainan baru kami, sampai kemudian tangan saya ‘memutar’ tambang itu sedikit ke depan atau mungkin ke belakang, saya kurang ingat. Dan tiba-tiba saja Pringgo sudah terduduk di aspal lagi, dalam keadaan terduduk dan…menangis.

Saya tertegun. Kenapa Pringgo duduk disitu..? Kenapa Pringgo menangis terus..?

Posisi saya masih duduk di tambang itu. Tapi mata saya tak hentinya penasaran dengan keadaan Pringgo yang tetap saja menangis tak berhenti. Sampai kemudian saya melihat ada warna merah pekat yang ‘membesar’ di kepalanya dan hampir mengalir ke keningnya. Terus mengalir. Dan tangisnya terus saja tak berhenti.

Sungguh saya tidak pernah bermaksud untuk melukainya. Saya bahkan sayang padanya karena dia sudah saya anggap sebagai adik yang sepatutnya saya lindungi. Dia teman bermain saya yang baik, yang hampir selalu ‘berguru’ dan ‘meniru’ pada apa yang saya perbuat. Tapi ternyata hari itu saya membalas ucapan terima kasih saya atas penghargaan yang dia ‘sematkan’ pada saya dengan membocorkan kepalanya dan kemudian lari sejauh mungkin dan bersembunyi, meninggalkan Pringgo terduduk sendirian di aspal itu.

Seluruh tubuh saya gemetar, dan saya memilih tidak menampakkan batang hidung saya dengan berlari memutari gudang yang luas dan bersembunyi di sudut dalam keadaan ketakutan dan merasa sangat bersalah. Entah berapa lama saya bersembunyi, hingga kemudian saya mengintip Pringgo dari kejauhan sudah dalam keadaan kepala di perban, dan wajah yang kembali riang dan bercanda di depan halaman bersama ke dua orang tua dan adiknya.

Mungkin hari itu memang seharusnya menjadi seperti hari lainnya dimana saya tetaplah menjadi anak kecil yang mudah lupa bahwa saya pernah melukai, dilukai, jatuh dan terluka dan lalu kembali tersenyum lagi seperti yang Pringgo lakukan. Namun bercermin pada apa yang Pringgo lakukan hingga tidak seorangpun, termasuk orangtuanya dan orangtua saya, pernah menanyakan bahwa sebenarnya saya ada bersamanya saat kepalanya berdarah, hari itu adalah pelajaran pertama saya tentang hidup. Agar suatu hari nanti saya mampu mengakui kesalahan dan menghadapi kenyataan, seberapapun beratnya itu..

Dan agar suatu hari nanti, sayapun bisa memaafkan dan melupakan (kesalahan) seseorang, yang tanpa sengaja telah melukai hati saya yang kemudian dia benar-benar menyesal karenanya..hingga saya tidak harus mengulangi kesalahan, dengan menghakimi seseorang tanpa melihat apa yang telah saya rasakan dulu..

-Rana Wijaya Soemadi-
Kotatua (benar-benar) kedinginan

pics from here

 

24 CommentsChronological   Reverse   Threaded

aricool08
aricool08 wrote on Jul 14, ’09
ni bukan pengalaman pribadi kan??

ninelights
ninelights wrote on Jul 14, ’09
My own experience,Ri..^^

aricool08
aricool08 wrote on Jul 14, ’09
hemmm gimana masih enak dengan or bisa nikmati pengalaman masa lalu??

alexast
alexast wrote on Jul 14, ’09
udah minta maaf ke Pringgo, Na? btw, cara bertuturnya asik banget ya? serasa baca cerpen..

ninelights
ninelights wrote on Jul 14, ’09
@alex : belum,Lex..but someday I will..I remind myself about my past by writing this blog..

Thanks anyway yah..
Biar ga pd bosen yg baca..^^

ninelights
ninelights wrote on Jul 14, ’09
@ari : maksudnya gmn,Ri ..?

julianawa
julianawa wrote on Jul 14, ’09
Aku pernah ngejatohin Siska (tetangga yg lebih muda dr aku) ke got (selokan) deket rumah Na. Sejak hari itu aku masih suka takut2 nggendong anak kecil (sampe sekarang)..

Semua org pasti punya masa lalu yang mengecewakan kok. Gapapa..

**sekarang Siska udah kuliah di UNDIP, dan dia gak inget klo saya pernah ngejatohin dia, hee..**

harahope
harahope wrote on Jul 14, ’09
Forgiving someone else’s easy. Forgiving our selves aren’t easy. But even God forgives us no matter how big our sin is. So why we don’t do the same? (halah, sok tw deh gw he2. Only a soliloqui of mine ^_^)

siregarrosey
siregarrosey wrote on Jul 14, ’09
nice story…thanks for sharing this….emang harus seperti anak kecil ya, cepat melupakan rasa sakit, dan bisa kembali ceria. Pringgo sekarang dimana?

autismelankolis
autismelankolis wrote on Jul 14, ’09
hmmm…..
numpang berrefleksi

mywolly
mywolly wrote on Jul 14, ’09, edited on Jul 14, ’09
seneng bacanya ^_^
dapet cerita baru dan ‘pelajaran’ baru….
dan.. kenalan baru😛
*salam kenal*

lalarosa
lalarosa wrote on Jul 14, ’09

Agar suatu hari nanti saya mampu mengakui kesalahan dan menghadapi kenyataan, seberapapun beratnya itu..

bukankah semestinya begitu? aku pikir penyerahan diri lebih mendamaikan dari pada terus menengok kebelakang.

*garuk2kepalamaksudteopo?*

ninelights
ninelights wrote on Jul 15, ’09

Aku pernah ngejatohin Siska (tetangga yg lebih muda dr aku) ke got (selokan) deket rumah Na. Sejak hari itu aku masih suka takut2 nggendong anak kecil (sampe sekarang)..

Semua org pasti punya masa lalu yang mengecewakan kok. Gapapa..

**sekarang Siska udah kuliah di UNDIP, dan dia gak inget klo saya pernah ngejatohin dia, hee..**

pinter…haha

well..at least..kalau suatu hari nanti ketemu, I would say, ps : I’m sorry..^^

ninelights
ninelights wrote on Jul 15, ’09

So why we don’t do the same?

I try to, my friend..try to..^^thanks yah..

ninelights
ninelights wrote on Jul 15, ’09

nice story…thanks for sharing this….

ur welcome, Mbak..^^

ninelights
ninelights wrote on Jul 15, ’09

Pringgo sekarang dimana?

sepertinya, masih di ‘istana’ itu..^^

ninelights
ninelights wrote on Jul 15, ’09

hmmm…..
numpang berrefleksi

silahkan…^^

ninelights
ninelights wrote on Jul 15, ’09
mywolly said

*salam kenal*

salam kenal….^^

ninelights
ninelights wrote on Jul 15, ’09

bukankah semestinya begitu? aku pikir penyerahan diri lebih mendamaikan dari pada terus menengok kebelakang.

Mbak Lala betul…

Andai saja pikiran itu ada saat aku umur enam atau tujuh tahun yah..:-)

siregarrosey
siregarrosey wrote on Jul 15, ’09

sepertinya, masih di ‘istana’ itu..^^

Datengin Ran…sambil nostalgia🙂

ninelights
ninelights wrote on Jul 15, ’09
@Mb Rose :..Insya Allah..^^mo hunting kembang kentutnya jugak!hehe..

siregarrosey
siregarrosey wrote on Jul 15, ’09
apa tuh kembang kentut? namanya gak keren amat

ninelights
ninelights wrote on Jul 16, ’09, edited on Jul 16, ’09
kalau dilihat dari bentuknya, harusnya namanya daun kentut, tapi saya kurang mengerti kenapa jadi kembang kentut..

jadi, Mbak Rose, kalau daun itu diremas, maka akan tersebar aroma paling sedap dari ‘kelebihan gas’ manusia..hehe

siregarrosey
siregarrosey wrote on Jul 18, ’09
Hahahaha….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s