Pintu dan Mie Lontong

Jul 22, ’09 11:54 PM
for everyone
Tadi malam kami sepakat beli mie lontong. Mie kuning, dengan lontong yang diiris kecil, lalu di campur dengan tauge, seledri, diberi kuah rasa bawang putih yang encer dan panas dengan ‘topping’ kerupuk gendar yang diremas,dan kemudian ditaburi kecap manis. Sederhana. Tapi enak rasanya…:-)*duh..laper lagi..hihi*

Enam piring yang kami pesan. Dan kami semua menunggu dengan senang. Terlebih karena ada yang bayarin..hehe. Kloter pertama, lima piring di bawakan bapak penjual mie lontong menuju kantor kami. Namun sebelum masuk ke ruangan, Bapak itu agak kesulitan dengan cara membuka pintu kantor kami. Semula, kami tidak begitu memperhatikan karena kami semua sibuk dengan pekerjaan kantor yang memang masih saja bertahan meski waktu sudah melewati maghrib. Namun saat pintu itu dibuka dengan agak sedikit dipaksakan karena bukan seperti jalan yang seharusnya, kami semua, yang posisinya dibalik meja panjang yang posisinya agak kesulitan untuk membantu, meminta tolong pada seorang teman di dekat pintu untuk membukakan.

Sebenarnya bukan hanya si Bapak saja yang melakukan ‘kesalahan’ seperti itu. Dari para pelanggan yang hadir, sering kami jumpai mereka kebingungan dengan cara membuka pintu itu, meski di dekat masing-masing gagang pintu sudah tertulis ‘TARIK’, kalau ingin masuk, dan ‘DORONG’kalau ingin keluar, dengan huruf besar dan jelas. Hingga seringkali, kita yang ada di kantor membantu mereka dari jarak jauh dengan kata, ‘Dorong, Pak, Mbak, Bu, Mas,’. Dan disahut dengan ekpresi bengong sejenak di depan pintu lalu berkata, ‘Oh, iya, ya..ada tulisannya..hehe..’, lalu mulai mendorong pintu dengan lancar.

Namun ketika kloter kedua datang lagi dengan membawa satu piring, Bapak itu masih saja kesulitan membukanya dengan melakukan dorongan ke depan. Dan kemudian ada yang nyeletuk,

‘Bapaknya rak pernah sekolah kuwi, dadi rak iso moco..'(terjemahan : Bapaknya tidak pernah sekolah itu, jadi tidak bisa baca..)

Sayanya tertawa. Tujuannya, bukan untuk Bapaknya, tapi untuk teman saya yang saya kira niatnya bercanda saja, karena peristiwa itu sudah sering terjadi pada orang lain. Tapi sewaktu Bapak itu masih memaksakan pintu itu dibuka dengan cara yang salah, teman saya kemudian berkomentar, yang terus terang agak keras, pakai emosi pula, ‘Bapake goblok kuwi rak iso moco !'(red : Bapaknya bodoh itu gak bisa baca !), dan diulangi lagi kata, ‘Goblok kuwi !'(red : Bodoh itu),

dan beberapa detik kemudian pintu itu berhasil dibuka Bapaknya. Saya berharap semua perkataan teman saya tadi tidak didengar oleh Bapaknya. Namun saya yakin beliau mendengarnya. Karena meski pintu itu tertutup, kalau ada suara sedikit keras dari dalam dan kita ada di posisi depan pintu persis, semua akan kedengaran.

Bapak itu tetap melakukan tugasnya, membawakan satu piring mie lontong dan ditaruh di meja dekat dia berdiri, meski ekspresinya tidak seperti tadi saat datang pertama.

Saya bukan orang suci yang tidak pernah berkata kasar, teman. Dalam keadaan sangat emosi, sayapun bisa mengumpat, dan berkata ‘S**t’,atau kata menjatuhkan yang sangat menyengat di telinga kalau didengar meski dalam bahasa jawa. Dulu, karena lingkungan yang cukup parah tata krama bahasanya, saya sering membuat kakak dan ortu marah-marah karena saya bertutur tidak pada tempatnya. Namun sekarang, saya berusaha untuk tidak lagi memaki karena sungguh itu terasa sangat menyakitkan..(Mohon ingatkan bila saya salah dan mulai memaki, teman…)

Mungkin malam tadi saya telah melihat masa lalu saya. Dada saya rasanya seperti disayat sembilu melihat Bapak tadi, yang sudah berusaha berjuang untuk menghidupi dirinya dan keluarga, telah diberikan cobaan berupa pintu hingga akhirnya dimaki hanya karena masalah sepele.

Saya hanya bisa menatap matanya, menatap wajahnya, menatap tangan-tangannya yang lunglai tapi tetap melayani hingga sejenak pergi meninggalkan kami yang masih menikmati mie lontongnya. Mungkin Tuhan telah menggerakkan hati teman laki-laki kami di kantor hingga akhirnya ada tiga yang menambah porsi. Agar Bapaknya senang kembali. Agar bisa mensyukuri rejeki hingga melupakan kesedihan yang tidak perlu lagi dipikirkan..

Maafkan teman saya ya, Pak..

Semoga Allah selalu melindungi Bapak dalam kebaikan dimanapun Bapak berada…^^

Terima kasih ya…Mie lontongnya enak sekali..^^

Rana Wijaya Soemadi
Kotatua kedinginan

 

15 CommentsChronological   Reverse   Threaded

aricool08
aricool08 wrote on Jul 23, ’09
hemmm

ninelights
ninelights wrote on Jul 23, ’09

hemmm

hummm

aricool08
aricool08 wrote on Jul 23, ’09
numpang batuk aja yaa
hemmmmm

ninelights
ninelights wrote on Jul 23, ’09

numpang batuk aja yaa
hemmmmm

numpang nglancarin batuknya yah…sinih, Nenek urut. himmmmmmm

alexast
alexast wrote on Jul 23, ’09
Jo, komennya ga kreatif banget.. hihihi..

Aku dulu suka dikerjain waktu di Malang, Na.. pernah sama temen sekolah disuruh ke warteg, *kelas 6 sd, bok, dan buta bahasa jawa*
“Lex, ke warteg gih, bilang : Mbak, tuku djanc**!”
“Djanc** itu paan sih?”
“Tempe goreng, bego!!”
Gue yang waktu emang bego, masuk ke warteg dan ngomong dengan lantang ke Mbak yang jualan.
“Mbak, tuku djanc**!!”
Satu warteg bengong semua. Si mbak nya untung baik, dan bisa ngendus yang beli makanan sama dia buta bahasa jawa. Dan untungnya, mukaku so adorable, and loveable.. hihihihi…

Tapi abis itu gue ngamuk ke temen gue yang udah kurang ajar.. sialan deh… malunya itu lho bokkkkkk

ariefkurni
ariefkurni wrote on Jul 23, ’09
Belum smpet baca na

duniapeng
duniapeng wrote on Jul 23, ’09
subhanallah, alhamdulillah hehehehehehehehe🙂

yup… dulu gw suka ngomong kasar, dan sekarang mo belajar untuk ngomong yang perlu2 aja dan lemah lembut bak putri keraton :))

julianawa
julianawa wrote on Jul 23, ’09
Ihh menyebalkan.
Temenmu itu Na menyebalkan. Kan kesian bapaknya. Untung gak dikasi racun tuh mie lontong yg buat dia.
Ahh pasti engga, bapaknya kan baik. Temenmu itu yg JAHAT..😦

*ingetin aku jg ye buu..*

tousche
tousche wrote on Jul 23, ’09
kirain posting tentang makanan yang sepertinya sangat mengundang itu ajah.. eh ternyata ada pelajaran di bawah-bawahnya. Paling benci sama orang suka nyeplas seenaknya tanpa mikirin perasaan orang lain.. pengennya tak sundut aja tu mulutnya pakek rokok.

*sabaar sabaaar*

siregarrosey
siregarrosey wrote on Jul 23, ’09
tfs…nice story

siregarrosey
siregarrosey wrote on Jul 23, ’09
alexast said

Mbak, tuku djanc**!!”

djanc** apa sih? kok diketawain?

ninelights
ninelights wrote on Jul 24, ’09
@Alex : Ya Allah,Lex…

Ngerjain org si ngerjain..tapi temennya Alex itu mah parah….kalo kang Haji Oma Irama bilang,’Ther-lha-lhu’

@Mas Arief : gapapa,Mas..Sesempetnya..:-)

ninelights
ninelights wrote on Jul 24, ’09
@Mas Peng : Gyahahahahaha*Ngebayangin mas peng pake konde,jarik,kemben,terus duduk dgn anggun selayak putri keraton*

ninelights
ninelights wrote on Jul 24, ’09
@Yeti : Duh..jd merasa bersalah bikin dikau emosi krn cerita ini..:-(

Sabar,Bu..Insya Allah orang baik dpt hadiah terbaik drNya..tuh buktinya udah lgsg dkasih byk rejeki..:-)

Insya Allah berkah..

ninelights
ninelights wrote on Jul 24, ’09
@Alei :
Haluw,Alei..:-)
Thanks commentnya..
Hihihi,penasaran yah sama mie lontongnyah?^^

@Mbak Rose : Sama-sama,Mbak..
Hm,meski bukan org Surabaya dan arti sebenarnya apaan,kata ‘dja****’ itu setauku kata makian yg kasar..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s