Pom Bensin dan Air Conditioner

May 10, ’09 6:45 PMfor Rana’s network

Hari itu aku masih bisa melihat langit dengan warna orange dan riak awan yang memudar keemasan. Aneh kalau aku merasa senang melihatnya. Namun karena pekerjaanku berhubungan dengan waktu dan waktu itu sangat berharga, maka masih bisa menikmati sore dengan matahari di ujung cakrawala merupakan sebuah kado yang terindah.

 

Sebelum pulang menuju rumah, aku membawa kendaraanku untuk mampir dulu ke pom bensin. Dalam perjalanan ke sana, aku melihat beberapa pekerja kantoran mulai memadati jalan. Ada yang memakai seragam pns, sebagian terlihat berpakaian selayak pegawai swasta, dan sisanya adalah orang-orang wiraswasta. Mereka tampak senang dengan rutinitas itu dan itu membuat mataku meredup tiba-tiba.

 

Ngilu rasanya memiliki perasaan ini. Banyak hal dan keinginan yang menguap begitu saja di depan mata hanya karena ruang dan waktu yang ternyata sering tidak memberi kita banyak kesempatan. Hanya bisa memaksa tubuh membalikkan badan dan berjalan menjauhi meski kadang masih melihat sesuatu yang berarti itu pada akhirnya hilang begitu saja. Dan pada akhirnya rasa lelah dan keinginan untuk keluar dari pekerjaan hinggap di angan-angan.

 

Aku memalingkan muka ke depan. Tampak beberapa kendaraan roda dua tertib mengantri untuk di isi bensin. Aku masih berada di urutan ke enam waktu itu. Namun aku tidak mungkin lupa pada orang yang masih sibuk melayani customer dengan selang bensin yang masuk liter per liter dari tangki kendaraan di hadapannya.

 

Elis namanya. Seingatku dulu dia menjadi pujaan banyak pria waktu SMA. Memiliki kulit yang putih, berparas ayu, dan berhidung mancung. Dalam soal berdandan, dia adalah salah satu diantara teman-temannya yang lain yang tampil sdikit mencolok dan pastinya membuat banyak lelaki jatuh hati. Namun hari itu, dia menjadi seorang pengisi bensin dengan peluh dan keringat bercucuran.

“ Eh, Nana..gimana kabarnya..?”, sapanya kemudian saat aku menyebut namanya dengan kepala yang tadi masih menunduk.

 

Aku tersenyum. “ Alhamdulillah..”

 

“ Eh, berapa (mau isi bensinnya ) ini..?”,

“ Lima belas ribu..”

Dia kemudian memencet tombol di sebuah box dengan cepat sambil bertanya “Kerja dimana sekarang,Na..?”

 

Aku tesenyum dulu lalu menjawabnya. “ Di bla bla bla bla…”

 

Dan reaksi dia kemudian, “ Wah, enak ya, kerja di situ …ada ACnya..disini panas..”

 

Aku agak terkesiap mendengarnya. Di antara perasaan campur adukku terhadap kepenatan kerja, ada seorang teman yang masih bisa menilai bahwa apa yang melekat pada statusku yang seorang karyawati swasta adalah pekerjaan yang nyaman dan menawarkan kemewahan fasilitas yang dimulai dengan benda bernama Air Conditioner, yang seharusnya aku berterima kasih untuk semua itu.

 

Aku bercermin pada diri sendiri kemudian. Mungkinkah selama ini aku kurang mensyukuri apa yang diberikan Tuhan padaku ? Terlalu mengeluh, terlalu melihat ke atas, tidak pernah puas, melihat rumput tetangga yang selalu lebih hijau ?

 

Pada awalnya aku merasa seperti itu. Dan rasanya tidak karuan di hati. Namun saat membaca cerita Andy F Noya tentang dilema yang ternyata juga pernah dialami olehnya, juga oleh orang-orang dengan tingkat kenyamanan yang cukup mewah dimata orang terhadapnya, dia menilai permasalahanku ini dengan kalimat yang cukup puitis dan mengena di hati. Dia memandangku sebagai manusia yang belum menemukan lentera jiwanya. Belum menemukan hasrat dan tujuan hidupnya. Hanya mengalir dan mengikuti arus, meski impiannya yang meledak-ledak terpaksa dia kubur dalam-dalam hingga kemudian mati di gilas waktu.

 

Bukan pada masalah pekerjaan itu besar atau kecil, hanya pedagang atau bahkan pejabat. Yang lebih utama adalah hati kita ada dan menyatu di dalamnya atau tidak.

 

Mungkin saja permasalahanku dan Elis sama. Kami sama-sama masuk ke dalam dunia yang bukan menjadi bidang kami dan hati kami belum benar-benar merasa ada di dalamnya. Sebuah ironi ketika berusaha mencapai sesuatu yang seperti keinginan kami itu, masalah lain yang cukup pelik menghadang perjalanan itu. Pahit karena keinginan itu tidak bisa begitu saja dengan mudahnya dibalik seperti telapak tangan kita ketika sedang bermain hom-pim-pa.

 

Aku tidak hendak mencela apapun perjalanan yang sudah kulewati. Namun perasaaanku pada masalah ini seperti ketika aku sedang bertunangan dengan pria kaya raya dan tampan bernama A namun hati dan pikiranku terpusat pada kesederhanaan dan kenyamanan seorang B..

 

Keinginanku, suatu hari nanti aku bisa mengumpulkan keberanian untuk mengatakan bahwa B adalah pilihan hidupku..akan kukejar dia kemanapun dia pergi, jatuh, bangun, tanpa penyesalan, tanpa beban, karena aku senang dan aku menikmati perjalanan itu..

 

Sementara, aku masih belum menemukan kunci untuk pintu gerbang pembukaan menuju semua itu..entah kenapa, kunci itu masih saja hilang..belum kutemukan..

 

 

 

 

~ up and down ~

 

 

 

Rana Wijaya Soemadi

Kotatua kedinginan

 

 

harblue wrote on May 10, ’09
terlalu banyak distorsi dalam diri manusia untuk bisa menikmati apa yang ia miliki *apaan si?!, wkwkwkwk…*

malachinovel wrote on May 10, ’09
ehm sama gw juga mengalami seperti itu kalo istilah psikologi quarter life crisis

alexast wrote on May 10, ’09
eh kirain ini ini cerpen, ternyata curhat.. hihihi…Perasaan seperti itu wajar kali ya, Na? Soalnya gue juga gitu tuh… mungkin itu yang menjadikan kita “manusia”….

ariefkurni wrote on May 10, ’09
Rana rana..belum nemuin konci ya.sabar pasth dpt deh.kalo g dpt2 ke mataram wae,kan akeh tukang kunci.hihi

ninelights wrote on May 11, ’09
harblue said

terlalu banyak distorsi dalam diri manusia untuk bisa menikmati apa yang ia miliki *apaan si?!, wkwkwkwk…*

Eh, Bang Harri..^^senangnya kau hadir kembali…Terlalu banyak distorsi yah..Tapi apa harus mematikan mimpi..?*distorsi apaan sih??hehehe*

ninelights wrote on May 11, ’09

quarter life crisis

..satu ilmu lagi yang kudapat..thanks Mala..so..di buku psikologi itu, ada cara untuk mengatasi quarter life crisis tsb..?

ninelights wrote on May 11, ’09
alexast said

mungkin itu yang menjadikan kita “manusia”….

..terima kasih Mas Alex..for your kind attention..:-)

ninelights wrote on May 11, ’09

sabar pasth dpt

AMIN..Thenkiyu…

ninelights wrote on May 11, ’09

kalo g dpt2 ke mataram wae,kan akeh tukang kunci.hihi

<iipsmiley>
cuapue deee….hehehe

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s