Surat Untuk Tuhan

Surat Untuk Tuhan Nov 8, ’09 9:47 PM
for everyone
Aku menulis surat untuk Tuhan malam ini. Dalam surat itu aku bercerita tentang kisah sarapan pagi yang tak sanggup kutelan siang kemarin. Tak ada selera. Tak ada nafsu. Hanya mual dan sebah kurasa. Berapa kali aku naik turun tangga dari lantai satu ke lantai tiga demi untuk menjawab rasa sakit pada perutku yang tak kunjung mereda.

Aku kenapa ?

Aku baik-baik saja. Aku yakin aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah. Hanya sedikit memaksakan diri kurasa. Tapi aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Aku yakin aku baik-baik saja. Siang tampak terik dan perutku masih belum diisi sama sekali. Tapi semuanya sudah biasa. Semuanya sudah terlampau biasa hingga aku bisa menahannya sampai sore tiba dan baru kuisi sesuap nasi.

Seharusnya ceritanya memang begitu. Seharusnya aku bisa makan agar siangnya aku mampu mencari uang untuk ibu yang kehabisan beras bulan ini. Namun aku muntah-muntah. Dan kata orang mataku menjadi merah dan terus menitikkan air mata. Aku kenapa ? Aku tidak tahu. Aku pasti tahu, tapi hari itu aku sumpah tidak tahu. Aku hanya sempat berjalan di anak tangga dan kemudian duduk di sudut ruangan dengan tatapan kosong ketika tiba-tiba aku terbangun dan sudah berada di kamar tidur sebuah rumah sakit.

Aku kenapa ? Itu pula yang aku tanyakan kepada orang di sampingku. Namun kulihat matanya terus bersimbah air asin dan tak kunjung berhenti saat mulutku disumpali oksigen dan kelopakku terbuka menatap ternit kamar. Siapa orang itu. Siapa dia. Apa dia kukenal ? Apa dia yang sering kutemui di supermarket waktu itu ? Aku tidak tahu. Aku tidak ingat. Tapi aku senang karena senyumnya sedikit menenangkan hatiku yang terus saja bertanya tentang hal yang belum bisa dijawab siapapun. Kudengar detak jantungku di sebuah mesin, sementara infus itu tak kunjung usai untuk menderaskan cairannya ke dalam tubuhku.

Tidak pernah. Aku tidak pernah begini. Aku tidak ingin begini. Tapi aku hanya sanggup menggerakkan mataku ke kiri dan ke kanan sementara tubuhku sunyi tak bergerak. Lalu aku tiba-tiba menjumpai hal yang berbeda lagi dini harinya. Aku melihat diriku sendiri rebahan di tempat tidur. Apa-apaan ini ? Hanya dalam setengah hari aku merasa Tuhan sedang mempermainkan diriku. Aku marah pada tuhanku. Aku tak sanggup melihat ibuku menangis karena beras pesanan ibuku belum juga kubeli sementara kami sudah puasa menahan makan seharian.

Tuhan..tolong kembalikanlah aku..Aku hanya ingin membelikan ibuku beras agar kami bisa makan dan bisa menabung untuk membeli rumah yang lebih baik. Yang tidak bocor. Yang bisa membuat kami hangat pada malam hari, dan teduh pada siang hari. Yang bisa membuat ibuku tidak lagi mengomel karena tikus dan kecoa dimana-mana. Yang tidak harus membuat kami terpaksa tidur terduduk karena banjir memasuki lorong pintu kami dan menggenang beberapa centi dibawah kami.

Tolong Tuhan..Apakah aku terlalu berlebihan..? Apakah aku terlalu memaksakan kehendakku sementara mungkin memang tidak ada siapapun yang membutuhkanku ? Termasuk ibuku..? Termasuk juga laki-laki yang tengah menangisku itu ? Apa benar dia menangisiku ? Atau dia hanya teringat seseorang yang wajah dan lakunya sama sepertiku ?
Apakah memang begitu Tuhan? Apa memang begitu adanya hingga kamu berikan aku pilihan antara hidup dan mati itu untuk memilih ?Apakah tidak cukup semua derita yang Kau sumpalkan pada kami hingga aku harus Kau panggil semntara ibuku sendirian di sini ? Apakah tidak cukup satu orang kami yang kami sayangi Kau geret pada arus banjir yang membuatku menjadi yatim dan janda pada tahun terbaik kami bersama –

Apaka—?!
ApaKA-?!

Aku melihat crusor itu berkedip-kedip pada kalimat yang belum selesai. Kepalaku semakin pening.

Apakah…

Crusor itu masih berkedip sementara emosiku mulai surut dan sepenuhnya hilang. Kepala yang kian berat ini kupegang dan akhirnya kuremas kuat-kuat helaian rambutnya.

Tidak Tuhan. Maafkan aku. Tidak jadi. Ini bukan salahMu. Sepenuhnya bukan salahMu. Aku yakin aku baik-baik saja. Aku tidak apa-apa. Aku kuat. Agar besok aku bisa menyambung hidup kami dan membeli beras untuk kami bertahan. Aku akan baik-baik saja. Aku benar baik-baik saja. Aku sudah meninggalkan rumah sakit itu dan berhasil membeli beras untuk ibu. Aku yakin aku tak kekurangan apapun karena aku masih tetap berdiri dan berjalan menuju pulang. Jaraknya tak jauh. Hanya sepuluh menit berjalan. Dan ketika sampai, ternyata Ibuku mengamuk murka karena seharian aku tidak ada kabar. Seharian aku di bilang kelayapan. Seharian aku di bilang sedang menghamburkan uang sisa kerja jual cerita.

Tapi aku senang karena beras itu sudah ada di tangan ibu untuk di masak. Dan aku bisa tidur dengan tenang dan tak memikirkan apapun lagi..Tidak satupun..Sampai kulihat ibuku menjerit dan meraung-raung memeluk tubuhku yang tak lagi ada diriku disana.

Tapi aku yakin Tuhan tidak akan membalas suratku cepat-cepat, hingga aku yakin, keesokan harinya aku tetap akan membelikan kebutuhan ibu yang lain. Karena surat itu belum kukirimkan. Karena surat itu belum kububuhi perangko sama sekali.

Flash Cerpen : Rana Wijaya Soemadi
Kota tua kedinginan

8 November 2009

 

19 CommentsChronological   Reverse   Threaded

sannysaja
sannysaja wrote on Nov 8, ’09
Kisah yang menghanyutkan..

sannysaja
sannysaja wrote on Nov 8, ’09
Kisah yang menghanyutkan..

percikanku
percikanku wrote on Nov 9, ’09
wow…kakak…

rudyprasetyo
rudyprasetyo wrote on Nov 9, ’09
hmmmmmm

yagizaaa
yagizaaa wrote on Nov 9, ’09
Dear,bagus banget!

ninelights
ninelights wrote on Nov 9, ’09
@mb sanny: sampai mana,mb,hanyutnyah?:-)terima ksh yah..

ninelights
ninelights wrote on Nov 9, ’09
@om jody:aeh..17 taon belom boleh baca kek ginian,dek..hahaha..
makasih yah:-)

ninelights
ninelights wrote on Nov 9, ’09
@mas rudy : hummmmmmmm

ninelights
ninelights wrote on Nov 9, ’09
@yagiza ::-)..thanks dear..

siregarrosey
siregarrosey wrote on Nov 9, ’09
udah pernah diterbitkan dimana Na?

franstheconductor
franstheconductor wrote on Nov 9, ’09

kisah sarapan pagi yang tak sanggup kutelan siang

makanya kalau mau sanggup nelan, yah nelannya waktu pagi… kalau siang khan udah dingin atau mungkin udah basi… yah gak sangguplah nelan…

franstheconductor
franstheconductor wrote on Nov 9, ’09

Aku kenapa ?

Kau hamil kallleee..

ninelights
ninelights wrote on Nov 9, ’09
@mb rose : di http://www.multiply.com/room 09: ninelights production…br kmrn fresh from the oven..:-D:-D

ninelights
ninelights wrote on Nov 9, ’09
@bang Frans : PLAAAAAAK!*tampar pake panci+siram pake aki+terr+dipaku bumi sampe tenggelem*

gapaiimpian
gapaiimpian wrote on Nov 9, ’09
Wah bagusnyo karya mbak q yg 1 ni, keep writing mbak yu…

ramakiki
ramakiki wrote on Nov 9, ’09
hmm, walau belom di kirim pake perangko Tuhan tau kok…
cerpen yang menyentuh.

ninelights
ninelights wrote on Nov 10, ’09
@dhin: terimakasih..I will Dhin..🙂
@Oki ::-)thank u, Oki..comentnya bwt ak tersipu..:-)

alexast
alexast wrote on Nov 11, ’09
Wow…

Harusnya cerpen ini yang di muat di Sketsa 2, Na. Lebih menyentuh. Sedih tanpa harus menye-menye dan cengeng. And.. not tacky at all..

Superb job..

ninelights
ninelights wrote on Nov 12, ’09
alexast said

Wow…Harusnya cerpen ini yang di muat di Sketsa 2, Na. Lebih menyentuh. Sedih tanpa harus menye-menye dan cengeng. And.. not tacky at all..Superb job..

Alex..
thank u…..

tersanjung….

Biarkan ‘Dua Hati Kunang-Kunang’ yang ada di sana, Lex……Aku sudah merasa cukup senang karenanya…

Mungkin akan ada sketsa lain yang mau menerima ‘Surat untuk Tuhan’ ini…dan ‘surat’ lain yang belum sempat kububuhi perangko…..

thanks again, Lex…..thank you…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s