Tentang Lelaki Itu

Jan 16, ’10 11:06 PM
for Rana’s contacts
 

Aku bertemu lelaki itu di ambang pintu kantor sore itu. Setengah jam menjelang pulang dan kami semua masih saja sibuk membicarakan hal beraroma pekerjaan.

 

Lelaki itu, dengan wajah kuyunya dan matanya yang sayu mewarnai raut mukanya yang sudah keriput,masih menyisakan senyum untukku ketika aku keluar dan menyapanya. Tangan kananku sibuk merogoh uang di saku kanan, sementara tangan kiriku membantu bahu kananku menahan satu pintu itu untuk tetap terbuka.

 

Kami dan lelaki itu sering bertemu. Sekitar waktu mahgrib dan waktu hampir Isya, dengan tongkat penahan ketiak di kedua sisi untuk membantunya berjalan, dia datang dan dengan sopan mengetuk pintu kantor, berdiri di luar, menanti salah satu di antara kami keluar untuk memberinya sedikit uang.

 

*Tidak ada satu orangpun, selama aku bekerja di tempat itu, yang pernah mengetuk pintu tembus pandang itu selain lelaki itu. Lelaki tua yang sopan hingga pernah saat kami semua masih dalam suasana lebaran, diapun sampai bersalaman dengan salah satu di antara kami untuk mengucapkan Minal Aidzin wal waidzin.*

 

Dia pengemis. Kami tahu. Tapi kami tak hendak menghakimi kenapa dia harus menyodorkan telapak tangannya kepada orang lain untuk meminta-minta. Hidup kadang tidak harus dijawab dengan kedetilan seperti treatment dalam skenario. Dan hidupnya, mungkin saja, sebagian, telah seperti dalam cerita Slumdog Millionaire atau Turtles can fly..who knows….

 

Lalu malam itu menjadi malam yang sedikit tidak biasa ketika akhirnya lelaki itu mengajakku berbicara banyak di ambang pintu itu. Dengan giginya yang ompong dan suaranya yang agak cadel, dia meminta tolong padaku untuk mengantarnya ke rumah sakit.

 

Uang di saku kananku masih belum sampai ke tangannya saat dia menunjukkan sebuah luka yang cukup lebar di kaki kanannya. Sebuah borok yang memang harus segera diobati. Ke Kariyadi katanya. Aku dengan senang hati mengangguk dan bersedia mengantarnya. Diapun dengan semangat bersedia untuk menungguku sampai pulang kantor tiba* karena dia sudah hafal kalau jam pulang kami adalah jam tujuh malam*.

 

Akupun meminta lelaki itu untuk mau menungguku dan duduk di tempat dia biasa istirahat, dan nanti jam tujuh tepat, aku akan datang menghampiri dia…

 

Didalam kantor, aku masih memperhatikan lelaki itu duduk di lantai sembari menghitung uangnya yang nanti akan dia gunakan untuk berobat. Tadipun aku sempat melihat ada satu plastik putih berisi satu botol sesuatu yang masih baru, seperti dari sebuah apotek. Dan, mataku sedikit redup menatap lelaki itu menghitung lembar per lembar uangnya..Then I asked to myself, dimanakah keluarganya..?

 

Saat jam hampir mendekati waktu pulangpun ada rejeki makanan yang datang dan niatnya, sebagian ingin kuberikan padanya, nanti……

 

Lalu pintu pagar di kantor kami*bukan pagar pada halaman kantor. Dan di kantor, kami juga tidak ada pagar halaman. Tapi maksudnya adalah pagar, semacam tirai besi yang menutup kantor kami agar tidak lagi terlihat oleh publik*, akhirnya ditutup oleh kaum laki-laki.

 

Aku keluar kantor untuk mengatakan pada lelaki itu agar mau menungguku sebentar lagi karena aku hendak membagi rejeki yang baru saja kudapat dan memindahkannya di plastik lain buat lelaki itu makan malam..

 

Tapi dia sudah tidak ada…

 

Aku bingung..

 

Aku bertanya pada kedua teman yang menutup pagar tentang kemana lelaki itu berada. Dan mereka hanya menjawab, ‘dia sudah pergi’..

 

Aku bergegas naik sepeda motor dan mencarinya, karena aku berpikir, lelaki itu pasti belum jauh….Ke daerah pandanaran…ke daerah kampung kali..ke tamrin..ke mugas…karena, mungkin saja dia memilih tidak jadi pergi, atau sesuatu yang membuat dia berubah pikiran..

 

Tapi dia tidak ada..Dia tidak kelihatan..Dan, hati ini rasanya kecewa sekali. Bukan karena aku marah padanya, tapi karena mungkin lelaki itu berpikir aku tidak sungguh-sungguh ingin mengantarnya karena pintu pagar itu telah ditutup dan aku tidak juga nampak…

 

Aku berharap semoga saja ada orang lain yang telah menolongnya untuk mengantar..karena letak rumah sakit itu jaraknya sungguh jauh kalau harus berjalan kaki…Tapi, entah kenapa, hati ini jadi sedih sekali..Mungkin karena dia tidak memiliki jam, jadi dia mengira aku meninggalkannya…ahh…

dan aku lalu teringat sebuah cerita masa lalu..Cerita seorang kakek yang dulu juga pernah meminta pertolonganku untuk mengantarnya ke suatu tempat…Tapi aku tidak bisa..dan kakek itu menolak untuk diantar temanku dan memilih memutar tubuhnya dan berjalan menjauh, meninggalkan punggungnya yang semakin mengecil dan tenggelam. Sementara aku hanya bisa berdiri terpaku, menatap punggungnya dengan hati berdesir.

 

 

 

Rana Wijaya Soemadi

Kotatua kedinginan

 

16 Januari 2010

 

16 CommentsChronological   Reverse   Threaded

aricool08
aricool08 wrote on Jan 17, ’10
panjanggg

vodkaholique
vodkaholique wrote on Jan 17, ’10
Aku suka cerita ini.
Um…pengen nge-komen yang lain,but honestly, that’s all I can say.
I like it. Very much.

rhehanluvly
rhehanluvly wrote on Jan 17, ’10
Terima kasih mbk rana bwt cerita inspiratifnya… Sampe takut kirain pak tua itu knapa2

siregarrosey
siregarrosey wrote on Jan 17, ’10
Ahhhh….ini tho ceritanya di balik QN kemarin?
Hmm….mudah-mudahan si Bapak baik-baik saja

starlite2404
starlite2404 wrote on Jan 17, ’10
Ini kisah nyata,Na? Smg ada org lain yg nolong si Bapak itu..eh tapi kok dia sempat minta tolong sm kamu,ya?

yogahart
yogahart wrote on Jan 17, ’10
Bahkan , untuk membuktikan niatan berbuat baik (sesuatu hal yg berarti bagi orang lain) pun ,
ternyata tidaklah sesederhana itu . .

addicted2thatrush
addicted2thatrush wrote on Jan 17, ’10
Hmmm.. Berbahagialah..

lalarosa
lalarosa wrote on Jan 17, ’10
kasihan….

ninelights
ninelights wrote on Jan 17, ’10

panjanggg

hahaha…
biasa kalo komennya Ari mah, setipe-setipe gini kalo Rana posting….hehehehe

ninelights
ninelights wrote on Jan 17, ’10

Aku suka cerita ini.
Um…pengen nge-komen yang lain,but honestly, that’s all I can say.
I like it. Very much.

Uneeeeeeeeeee…..

thank you, Unee…:-)
kalo ada komen lain, komen ajah gak papa..sampe seratus juga gak papa..akan kujawab semuanya…Insya Allah:-)

ninelights
ninelights wrote on Jan 17, ’10

Terima kasih mbk rana bwt cerita inspiratifnya… Sampe takut kirain pak tua itu knapa2

Sama-sama..
He’s fine..Already met him this afternoon…^^

ninelights
ninelights wrote on Jan 17, ’10

Ahhhh….ini tho ceritanya di balik QN kemarin?
Hmm….mudah-mudahan si Bapak baik-baik saja

Iya Mbak Rose…
aku udah ketemu tadi siang…^^
dan Bapaknya cerita, kalo temenku ternyata ngomong kalo aku udah pulang, jadinya dia langsung pergi………

ninelights
ninelights wrote on Jan 17, ’10

Ini kisah nyata,Na? Smg ada org lain yg nolong si Bapak itu..eh tapi kok dia sempat minta tolong sm kamu,ya?

Iy Anggi…hmm..bapaknya tidak jadi ke rumah sakit..dia memutuskan pulang karena mengira bahwa akupun sudah pulang…

ninelights
ninelights wrote on Jan 17, ’10

Bahkan , untuk membuktikan niatan berbuat baik (sesuatu hal yg berarti bagi orang lain) pun ,
ternyata tidaklah sesederhana itu . .

Iya mas Yoga….
ah….

ninelights
ninelights wrote on Jan 17, ’10

Hmmm.. Berbahagialah..

..karena?

ninelights
ninelights wrote on Jan 17, ’10

kasihan….

:-)…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s