Menu Spesial Hari ini

Menu Spesial Hari ini May 28, ’10 9:22 PM
for everyone
Hidup itu kadang seperti ketika kita memilih sebuah menu baru yang belum pernah kita coba, tapi kita ingin sekali mencicipinya. Kita tambahkan dengan mencoba memesan yang pedas, meski lidah kita tidak suka dengan pedas. Kita memesan yang berkuah, meski saat itu cuaca sedang panas dan lembab.

Tak apa, kata kita. Karena kita masih ingin mencoba bagaimana rasanya menu masakan itu. Karena kata orang, dengan menu pilihan dan tambahan pesanan pedas dan berkuah itu, rasanya akan lebih enak. Karena kata orang, bumbunya lain dari pada yang lain. Karena kata orang, harganya sesuai dengan sajiannya. Mantab !

Kita jadi penasaran. Kita rela untuk mengantri dan bersabar meski tubuh kta sudah basah kuyup karena keringat. Lama menunggu, akhirnya menunya datang juga. Sedap dipandang. Nikmat dibayangkan. Menggoda untuk segera ingin mencicipinya. Dari asap yang mengepul membuat tangan kita tak sabar untuk meraih sendok dan memasukkannya ke dalam mulut. Dan begitu menu santapan itu tiba di lidah, kening kita berkerut sejenak. Batin kita diam-diam bertanya dengan kaget.

“Kok rasanya..gini ya?” Aneh. Asing. Tidak biasa. Tapi kita tetap menelannya sampai ke tenggorokan karena sayang. Karena ’eman-eman’. Karena telah memikirkan perjuangan kita sebelumnya untuk bisa menyantap menu santapan yang lain daripada yang lain ini. Namun belum ada seperempat perjalanan santap menu kita, mulut kita terasa panas. Airmata mulai menggenang di pelupuk. Dan tangan kita mulai sibuk mencari tisu untuk mengusap ingus yang keluar. Oh.

Kita mulai meneliti isi di dalam mangkuk menu santapan kita itu. Kita berpikir, “ada baiknya saya menyingkirkan ranjau merah dan hijau itu sebelum saya kepedasan lagi”.

Kita lalu mengaduk-aduk dan menyingkirkan cabe-cabe yang bertebaran di dalam mangkuk itu. Lama. Seakan kita tidak ingin mencelakakan mulut sendiri walau sepotong cabepun. Lalu saat kita merasa sudah aman, kita mulai menyantapnya lagi.

Tapi seperti halnya kehidupan, meski kita sudah berhati-hati, tetap akan ada hal tak terduga yang datang dan membuat kita tersentak. Membuat kita kaget, membuat hati kita merasakan hal yang lebih pahit dan lebih pedih dari sebelumnya. Membuat lidah kita terceplus cabe yang kita yakini sudah kita singkirkan semuanya tadi, tapi masih ada yang tertinggal dan tersembunyi sehingga bukan hanya mulut kita yang terbakar. Tapi perut juga mulai terasa mulas. Dan airmata berlinangan tak karuan.

Kitapun menyerah. Kita singkirkan mangkuk santapan itu. Kita sudah tak perduli lagi betapa mahalnya harga yang harus dibayar untuk semangkuk menu yang kata orang enak, kata orang mantab, kata orang rasanya lain dari pada yang lain. Karena kita adalah kita. Bukan mereka. Karena kita nyaman dengan bakmi jawa, atau cireng buatan sendiri, atau bakso, atau nasi kucing yang sederhana tapi mengenyangkan dan membuat kita bahagia karena bisa menikmatinya sampai tetes menu santapan itu berakhir. Bukan menu mewah, yang sedap dipandang, enak dibayangkan, tapi sama sekali tidak bisa kita nikmati.

Lalu apa yang harus dilakukan jika semuanya sudah terlanjur ?Apa yang harus dilakukan jika kita ragu-ragu di tengah perjalanan menyantap menu makanan itu? Melarikan diri ? Pura-pura mati?Menyerah dan langsung meninggalkan menu sialan itu sementara orang-orang diluar sana bersedia berebut semangkuk menu mewah  yang tak sanggup mereka bayar itu karena mereka lebih tak mampu daripada kita ?

Saya tidak tahu jawabannya, teman. Karena sekarang, sayapun telah salah memilih menu itu. Menu, yang kata orang, sungguh sangat sayang untuk ditinggalkan begitu saja sementara saya sedang berusaha keras agar bisa tiba di rumah dengan selamat, tanpa kekurangan sesuatu apapun dengan perut yang mulas, muka yang pucat dan tubuh yang mulai menggigil kedinginan.


-Rana Wijaya Soemadi-
Kotatua (yang masih) kedinginan
28 Mei 2010 
14 CommentsChronological   Reverse   Threaded

addicted2thatrush
addicted2thatrush wrote on May 28, ’10
Dingin mulu kotamu tuh..

addicted2thatrush
addicted2thatrush wrote on May 28, ’10

ninelights
ninelights wrote on May 28, ’10

Dingin mulu kotamu tuh..

kotanya masih di dalam kulkas, Bang…

ninelights
ninelights wrote on May 28, ’10
sudah meluncur….wuih….Abang Kodok ikutan kan?

lutungdiwarung
lutungdiwarung wrote on May 28, ’10
harga cabe sekarang berapa yah??
*itung koin*

addicted2thatrush
addicted2thatrush wrote on May 28, ’10
Gak tau..sepertinya berat..tapi buat peruntungan..gpp deh.. Hehe..tp gw lum dftar. Lum pnya konsep

mupengml
mupengml wrote on May 29, ’10
menu macam apa yg bisa bikin Rana “emoh-emoh”….

yagizaaa
yagizaaa wrote on May 29, ’10
enak baca tulisan ini..

ariefkurni
ariefkurni wrote on May 29, ’10
Tumben ik rana emoh…hihi biasane kurang2..

ninelights
ninelights wrote on May 29, ’10

harga cabe sekarang berapa yah??
*itung koin*

lema ribu per kilobyte,Bang…*nyisirin cabe kriting*

ninelights
ninelights wrote on May 29, ’10

Gak tau..sepertinya berat..tapi buat peruntungan..gpp deh.. Hehe..tp gw lum dftar. Lum pnya konsep

how about a flying bird ?Just an idea for you,Bro..

ninelights
ninelights wrote on May 29, ’10

menu macam apa yg bisa bikin Rana “emoh-emoh”….

oblog oblog mercon, Bang…emoh banget…

ninelights
ninelights wrote on May 29, ’10

enak baca tulisan ini..

hei Booo….how are you tonight?

ninelights
ninelights wrote on May 29, ’10

Tumben ik rana emoh…hihi biasane kurang2..

ah..mas Arief perhatian bener sama pilihan menu Rana….*xixixixixi*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s