Sebuah Cerita yang Belum Selesai

Apr 10, ’10 5:48 PM
for everyone
Padang itu hijau. Dan aku melihat ilalang yang menguning melambai menyapa mataku yang sayu pagi itu. Tak ada yang bisa kuandalkan selain hati yang berdesir dan gelombang air yang mendesak untuk segera keluar lewat mata, namun tak bisa jua. Hanya rasa perih yang tertinggal, yang kadang membuatku sering berpaling hanya untuk membantu paru-paruku mengais segerombol oksigen di udara dan lalu bernafas lagi.

Apa yang sebenarnya terjadi, kubertanya. Tak ada siapapun yang menjawab kecuali jalan perbatasan yang lenggang dan aroma sepi kehidupan. Telepon genggam yang ada di sakukupun tak berfungsi dengan baik dan sudah memberi tanda, ‘aku akan mati sebentar lagi.Jangan salahkan aku kalau kau sendirian nanti..’

Sesekali kusentuh keningku yang terasa pening dan ngilu. Akhir-akhir ini rasa pening itu tak mau hilang. Terus saja mengganggu. Membuat tidurku sering terjaga di malam hari. Namun tetap harus tersenyum saat aku berjumpa banyak manusia diluar sana. Dan kemudian aku menghembuskan nafas dengan ritme yang berat. Lalu bertanya lagi, apakah harus selalu rumit seperti ini ? Haruskah menjadi komplek dan tak berujung seperti ini ?

Jika saja aku menetapkan hati pada orang yang benar..Jika saja aku jatuh cinta pada pilihan yang bisa kujadikan pilihan…Semua ini tak harus terjadi. Semua ini tak perlu terjadi. Semua ini…

Kuremas minuman kaleng yang sudah habis itu dan lalu kubuang ke udara. Jauh. Hingga aku tak mendengar jatuhnya. Lalu aku kembali terdiam. Merenung. Lelah. Teringat pada Han yang datang membawa perhatian. Menyuguhkan satu cangkir teh panas dan sarapan pagi yang sederhana. Telur mata sapi dan mie rebus yang teramat dangkal airnya. Membuatku tertawa, sementara dia tersenyum sembari meminta maaf karena tidak bisa memasak dengan baik. Dan diam-diam aku akan memperhatikan tiap detail wajahnya. Entahlah..Aku suka saja melakukannya. Seakan, ada sesuatu yang harus aku lihat disana dan tak mau berpaling.

Jika saja bisa kujabarkan, senyuman Han mengingatkan aku pada mentari sore yang meneduhkan. Memberikan rasa rindu dan kehangatan hati hingga membuatku tetap ingin disana. Bertahan. Tapi aku merasa tak pantas. Merasa kotor. Merasa bukanlah pilihan yang baik untuknya. Merasa..

Dia hanya menatapku. Dan lagi-lagi aku tak kuasa untuk tidak menelusuri unsur wajahnya yang saat itu memancarkan kesedihan. Dan pasti aku telah membuatnya terluka.

“ Aku..tak bisa, Han…”

Dia hanya berdiri diam. Tapi aku tahu apa yang ada dipikirannya. Aku tahu. Tapi aku tak bisa. Dan aku langsung meninggalkannya, berharap tidak menangis di harapannya. Entah kenapa aku merasa Han masih berusaha mengejarku. Mengejar hatiku. Dan lalu menarik lenganku dan menghempaskan kepalaku dalam pelukannya tanpa kata.

Aku meronta. Tapi dia tetap bertahan dan mengusap rambutku yang berantakan. Mengusap hatiku yang sakit. Menenangkan. Tapi aku tetap tak bisa..Aku tetap menyuruhnya pergi menjauh hingga akhirnya aku berada disini. Di sebuah padang rumput yang hijau dengan ilalang melambai-lambai di ujung sana. Seorang diri.

Aku bisa hidup tanpamu, Gia..Tapi aku tidak mau jika hidup tanpamu……Sekarang kau dimana..?Biarlah kujemput….,tanya Han di sebuah pesan singkat. Sementara tanganku bimbang membalas, hingga akhirnya aku memilih mengabaikan semua.

Jika saja aku tidak harus menjelaskan dengan bicara. Jika saja aku bisa membisikkan lewat angin bahwa aku telah dan masih mencintai kakakmu yang sudah beristri dan hampir memiliki anak. Jika saja aku sanggup mengatakan aku tak layak. Jika saja aku mampu bilang kakakmu telah mengisi banyak hal di hati ini hingga saat dia mengusirku dari hatinya, aku masih tak sanggup menerima. Aku masih terluka. Aku masih belum sanggup membedakan apakah ini salah atau ini benar..Dan aku masih berjuang melawan diri sendiri untuk tidak mengharapkan apapun hingga lalu pergi menjauh..

Tapi..bukankah tidak semua hal harus dijelaskan dengan kata-kata. Tidak juga untuk Han. Tidak juga untuk Bima. Aku hanya ingin pergi. Sejauh mungkin. Tak dikenal. Tak terjangkau. Tak ada yang tahu.

Lalu aku mendengar suara ledakan di udara. Satu kali. Aku masih tak sepenuhnya sadar. Dua kali. Aku mencari di langit. Tiga kali, aku berdiri, mencari tahu, hingga aku merasa sebuah timah bersarang di dada dan membuat jantungku terasa tak lagi mampu menjangkau oksigen dan roboh di tanah lapang.

Entah kenapa semuanya menjadi lambat. Dan darah yang mengalir di aspal hitam itu memanduku pada Han yang menungguku. Bima yang mencintaiku tapi tak akan bisa menjadi pilihan. Pada perempuan disamping Bima, yang tanpa sengaja telah ku sakiti hingga aku memilih diam agar tidak mengacaukan kehidupan. Pada semua hal dalam hidup yang seakan tidak membiarkan aku untuk memilih sendiri..

Aku masih bisa melihat beberapa orang dengan seragam hitam-hitam selayak pasukan densus 88 mendekati tubuhku dengan hati-hati. Aku masih mampu menatap gerak bibir satu orang laki-laki berkata pada HT yang ada dibahu kanannya.

“ Peluru nyasar telah mengenai warga sipil ! Segera kirim bantuan ! Diulangi, peluru nyasar telah mengenai warga sipil ! Segera kirim bantuan !”

“ Bagaimana bisa ada warga sipil disini ??Bukankah area ini sudah disapu??”

Akupun masih sanggup menatap satu pesan terakhir yang terkirim di inbox hapeku sebelum kemudian hape itu mati. Aku, yang masih bisa melihat diri sendiri menangis dan menatap tanah lapang dengan tatapan kosong, meredup, dan lalu hilang. Aku..yang hanya ingin mencoba mencari kebahagiaan sederhana dari perjalanan hidup yang tak pernah kutahu cerita sebenarnya hingga akhirnya berakhir sendiri.

Andaikan semua cerita dapat kuselesaikan..tapi nyatanya, aku tak pernah bisa melakukannya. Hanya berharap, semoga semua bisa bahagia tanpa ada aku. Aku, yang tak bisa menyelesaikan sebuah cerita dengan baik dan..benar.

Maaf. Sungguh maaf.

Flash cerpen oleh: Rana Wijaya Soemadi

Kota tua kedinginan

10 April 2010


cerpenonline

addicted2thatrush
addicted2thatrush wrote on Apr 10, ’10
Menghanyutken..

pennygata
pennygata wrote on Apr 10, ’10
tragis ih…

askwhy
askwhy wrote on Apr 10, ’10
…..bagus….

yagizaaa
yagizaaa wrote on Apr 10, ’10
**sedang dibaca**

ninelights
ninelights wrote on Apr 10, ’10

Menghanyutken..

Matur suwun….

ninelights
ninelights wrote on Apr 10, ’10
@mb agatha::-)..life is cruel smtime

ninelights
ninelights wrote on Apr 10, ’10
@mb wahyu :mksh,mb..

@boo:udah smpe halaman seratus brp skrg..?:-)

alexast
alexast wrote on Apr 11, ’10
aduh. kasian… cep cep cep…

ninelights
ninelights wrote on Apr 11, ’10
alexast said

aduh. kasian… cep cep cep…

Aleeeex….hu hu hu*sesenggukan bawa lap pel*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s