Hari Yang Buruk Untuk Si Pemuda Berhati Baik

Hari Yang Buruk Untuk Si Pemuda Berhati Baik Dec 14, ’10 4:52 PM
for everyone
Hidup itu keras. Kau pernah bilang padaku. Saat itu aku masih teramat muda dan meletup-letup. Aku membawa cita-cita tinggi dan dia menawarkan masa depan cerah. Orang-orang lalu mulai tinggi mengukur kemampuanku. Tak ada yang salah. Mereka begitu karena dia begitu memujaku. Mereka begitu karena dia memperkenalkanku sebagai orang terpandang. Aku biasa, tapi dia begitu menunjukkan antusiasnya. Lalu aku terbuai akan kebaikan sampai kemudian dia meninggalkan aku begitu saja dengan harapan tinggi yang sia-sia. Aku terkapar, sementara dia menyerap seluruh mimpi dan merobohkan pondasi kepercayaan.
“Hidup tak bisa kau ubah begitu saja seperti yang kau mau, kawan.” Katamu. “Kamu baik tapi mereka tidak. Kamu menawarkan mimpi tapi mereka sudah berniat merebutnya. Kamu berkehendak menolong tapi mereka menyembunyikan kebusukan yang tak bisa kau endus sampai sejauh mana mereka merencanakannya. Kamu berniat baik, tak jarang mereka membalas dengan fitnah yang lebih keji yang ujungnya kau tahu, uang.”

“Aku tak bisa terima!” teriakku kala itu, “Akan kukatakan pada orang-orang, akan kuteriakkan pada mereka bahwa aku tak bersalah, aku cuma alat untuk menyenangkan orang-orang brengsek macam dia, macam mereka!”

“Lalu setelah itu?” kau bertanya. Oh, tidak. Kau lebih bernada meremehkan. “Kau pikir hanya dia satu-satunya yang seperti itu? Buka matamu lebar-lebar, kawan!” Dia merentangkan tangannya lebar-lebar lalu berputar-putar, berharap bisa terbang dan berdiri lebih tinggi dariku untuk menerangkan padaku arti dari sebenar-benarnya dunia ini. “Lihat sekelilingmu! Mereka tersenyum ramah tapi mereka menikam, mereka menawarkan bantuan tapi mereka mengharapkan imbalan, mereka ingin mendengarmu tapi setelah itu mereka bisa saja membunuhmu.”

Aku tercengang. Tak mungkin! Tak mungkin seseram itu! Tak mungkin dunia mengerikan seperti itu. Kau pasti salah. Kau pasti terlalu skeptis!

Kau, yang katamu adalah pemakan asam garam kehidupan, yang telah hidup dan besar di jalanan. Kemeja dan dasi yang terjahit pas di badanmu tampak tertiup-tiup angin di sebuah halaman kantor ternama. Kamu melihatku begitu rapuh. Mataku bergerak-gerak, mencoba untuk tidak menangisi nasib. Tak ada lagi yang tersisa. Tak ada lagi harta di tangan setelah rantauanku yang begitu jauh sampai masuk ke kota itu, tak ada lagi impian terwujud, tak ada lagi dia yang ternyata dengan keji merampas itu dan pergi begitu saja.

“Meskipun kamu berusaha, mereka juga akan dengan sekuat tenaga membuatmu tutup mulut, kawan. Sudahlah. Lanjutkan hidupmu..Percayalah sepenuhnya pada Tuhan tapi jangan sekalipun percaya pada siapapun lagi. Siapapun. Termasuk aku.”

Dia tersenyum, memelukku, berkata lirih, “Baik-baik kau yah,” dan lalu pergi. Aku roboh dalam duka.

* * *


Hidup itu tak selalu indah. Kau pernah bilang padaku. Bahkan orang sebaik aku, katamu, sewaktu-waktu akan dipaksa untuk mencebur di lautan para babi sialan. Tanganmu terkotori uang haram untuk membungkam mulut penjilat, para pembuai mimpi tapi juga penculas yang pasti akan juga menikammu dari belakang suatu hari nanti, para pencari keuntungan di atas penderitaan orang-orang yang lebih sengsara daripada dirimu. Para pengecut yang hanya bisa berteriak saat situasi telah aman, dan lalu melarikan diri saat mereka terancam. Babi sialan ini bahkan hidup di sekitarmu, dia ada di antara orang-orang yang kamu teriakkan, orang baik-baik.

Aku menelan ludah. Tatapanku nanar. Langkahku gontai. Tuhan, apakah begitu kejam dunia ini? Tidakkah ada orang-orang baik yang benar-benar baik? Sudahkah berubah semua? teriakku dalam hati. Angin desember membuat gigil jalanan. Aku menembus melewati aspal kaku dan dinding-dinding yang angkuh.

Terdengar beratus suara mencoba memasuki sebuah masjid. Saat aku mendongak, ada pengumuman berbagi sembako. Aku hanya melihat mereka dari jauh. Kadang aku juga menyaksikan di antara mereka ada yang berprofesi pengemis. Setelahnya aku terpaku melamun. Aku melamun cukup lama sampai ada yang berteriak, “Lariiiiiiii! Selamatkan dirimuuuuuu !”

Orang-orang yang tadi mencoba memasuki masjid berhamburan. Mendadak, jalan juga dipenuhi, tak hanya pengemis, tapi juga para polisi dan preman-preman jalanan yang ikut andil membuat kacau suasana. Riuh asap, tembakan di udara, lemparan batu, dan bahkan ayunan benda-benda tumpul. Aku ikut melarikan diri, menghindarkan diri dari bahaya yang mengancam. Sembunyi di balik dinding yang orang-orang tak banyak yang ikut melewatinya.

Saat posisi cukup aman, di antara kerumunan orang-orang yang berkelebatan tak karuan itu, aku melihat seorang pengemis tua sedang berebut sembako dengan seorang pemuda. Sang pemuda tampak bertahan dengan sembakonya. Aku yang melihat bentuk fisik pengemis tua yang sungguh ringkih itu jadi tidak terima, dan berniat mengadili. Aku ikut merebut sembako itu dari tangan si pemuda, tapi pemuda berteriak,
“Dia hendak mencuri sembakoku! Dia yang hendak mencuri sembakoku!”

“Mana mungkin! Berikan sembakonya!” teriakku lebih lantang.

“Jangaaan! Ini buat ibuku! Jangaaaaan! Kau salah oraaaaang!”

Seharusnya pengemis tua itu mendengar kalau aku membelanya. Tapi dengan secepat kilat dia mengeluarkan pisau kecil berkarat dan mengiris puggung tangan pemuda itu sampai hampir putus dan pergi begitu saja membawa bungkusan berisi sembako tadi. Darah membasahi kemeja kuning gadingku. Pemuda itu berteriak kesakitan dan roboh.

Aku ternganga dan tak percaya dengan kejadian barusan. 

“Brengsek kau! Gara-gara kau aku dan ibuku tidak makan seminggu! Gara-gara kau! Gara-gara-aaaaaaarrrrrrgh!”

Pemuda itu murka. Bibirku gagu karena tak bisa lagi berkata-kata. Seluruh kesalahan kini ada padaku. Di antara kerumunan, muncul pula teman-teman premannya yang membawa benda tumpul berlari mendekat. Tatapan mereka terlihat marah saat mereka melihat ada darah di kemejaku. Tatapan mereka terlihat murka saat teman mereka tercederai dan memaki-maki diriku. Tak ada waktu menjelaskan. Mereka tak akan percaya bahwa bukan aku pelakunya. Mereka tak akan mendengar kalau kejadian tadi adalah cuma salah paham. Aku yang telah salah paham mengira kakek itu baik. Tapi aku kini mengerti kenapa orang-orang baik tak selamanya tampak baik. Aku kini mengerti kenapa ada baiknya tak perlu terlalu mengurusi urusan dan lalu melanjutkan hidup saja. Tak ada yang benar-benar baik di dunia ini. Tak ada.

Teman-teman itu secara berjamaah mengeroyok dan menghabisi tubuhku. Darah bercucuran keluar lewat mulut dan pelipis. Lebam bermunculan lewat pipi, perut dan tangan. Mungkin saat aku tak sadarkan diri mereka masih menghujamkan pukulan, aku tak tahu. 

Mungkin dunia terasa belum lengkap tanpa melihatku hancur. Tapi mungkin dengan cara kejam itu mereka membuatku belajar untuk benar-benar tidak mempercayai siapapun lagi. Tidak pula dengan orang-orang yang berniat baik menolongku. Tidak pula dengan orang-orang yang mengatasnamakan kemiskinan atau rapuh.

“Desember tanggal 14, baiklah, akan kuingat hari ini.”

Aku berjuang untuk bangun di antara hujan yang mengguyur dan menusuk seluruh sendi lukaku lalu meninggalkan perih itu seorang diri. [ ]

Rana Wijaya Soemadi
Di antara hujan yang menderas di Kotatua kedinginan
14 Desember 2010

12 CommentsChronological   Reverse   Threaded

anotherorion
anotherorion wrote on Dec 14, ’10

Tapi aku kini mengerti kenapa orang-orang baik tak selamanya tampak baik. Aku kini mengerti kenapa ada baiknya tak perlu terlalu mengurusi urusan dan lalu melanjutkan hidup saja. Tak ada yang benar-benar baik di dunia ini. Tak ada.

kalimat pertama suka dan setuju, ning kalimat terakhire kok marake loyo meneh?

ninelights
ninelights wrote on Dec 15, ’10

kalimat pertama suka dan setuju, ning kalimat terakhire kok marake loyo meneh?

:))
don’t take it to hard, Pak Guru…
sengaja sih, biar Pak Guru tambah pusing..
:))
*murid kuyang ajay*

anotherorion
anotherorion wrote on Dec 15, ’10
heu dasar, tp emang sih kadang aku dewe lebih sering mengucapkan

bisa, tapi sulit ——–>>kokean alasan

mbange

sulit, tapi bisa ——–>> fight hard

ninelights
ninelights wrote on Dec 15, ’10

heu dasar, tp emang sih kadang aku dewe lebih sering mengucapkanbisa, tapi sulit ——–>>kokean alasanmbangesulit, tapi bisa ——–>> fight hard

ahahahaha…kidding, Pak;-p

well, terlepas makna cerpennya yang temanya sih “pemuda yang memang lagi ketimpa musibah dan moodnya lagi bad banget*

ttg in the real world,
kalo sedang dalam keadaan pesimis, yg pertama yang lbh dominan..
kalo sdg dalam keadaan optimis, yang kedua yg lbh dominan..

tapi sementara, masih take and give..kadang opitimis kadang pesimis..tapi sejauh ini, fight hard sih..berjuang buat percaya “ada mimpi, ada niat, ada jalan”

masih berusaha sampai sekarang..:)
*kok-dadi-curhat?hehehe*

anotherorion
anotherorion wrote on Dec 15, ’10
hehehehe ya bagus lah berarti lagi on fire nih?? pijitin dunk? tanggung kan klo semangatnya ga digunakan buat kebaikan???

*nggomblay

ninelights
ninelights wrote on Dec 15, ’10

hehehehe ya bagus lah berarti lagi on fire nih?? pijitin dunk? tanggung kan klo semangatnya ga digunakan buat kebaikan???*nggomblay

aku panggilin Aki loh, berani-berani nggodain Nyai..

:))))

anotherorion
anotherorion wrote on Dec 15, ’10
wkwkwkwk mentang2 si aki dah selesai prajab nih

an99a
an99a wrote on Dec 15, ’10
4 thumbs up! Biar seru pake jempol gorila..😀

ninelights
ninelights wrote on Dec 15, ’10

wkwkwkwk mentang2 si aki dah selesai prajab nih

hehehehe…

ninelights
ninelights wrote on Dec 15, ’10
an99a said

4 thumbs up! Biar seru pake jempol gorila..😀

hahahaha..mantab itu!
:))

Makasih,Mira…:)

an99a
an99a wrote on Dec 17, ’10
^__________^

bambangpriantono
bambangpriantono wrote on Mar 25, ’11
Kok malih atis yooo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s