Panggung, Senyum, Teman Semirip Peri

Oct 25, ’10 5:40 AM
for everyone

Aku menemukan pagi yang masih hangat.

Burung bertengger, langit membiru, dunia hidup.

Satu per satu berharap senin menjadi hari baik untuk semua.

Sementara aku; hanya mendengar mereka dalam keramaian yang sunyi.

Aku tak pernah tahu kapan langkah ini akan sampai.

Aku tak pernah mengerti akan sedu sedan yang kadang datang tanpa diundang dan menggelanyut di hampir sepanjang waktu.

Tapi burung-burung itu tetap berkicau di pagi hari, langit tetap menyuguhkan birunya, dan dunia hidup.

Terang malam. Mendung kelam. Cerah senja.

Ini adalah kota yang tak pernah tidur dan aku tinggal di dalamnya.

Selayak timeline. Semirip bumi.

Semua, akan terus berputar, tak henti.

Lalu akan tiba masa dan tiba giliran :

Panggung, senyum, teman semirip peri di kayangan dan dunia tentang

hadiah terindah untuk semua yang pernah kulewati.

Tak apa jika kau tak mengerti.

Tak apa jika kau tak tahu pasti.

Kesunyian dalam ramai dan ramai dalam sunyi kadang juga menghampiri 

mu,ku, kita dalam sebuah porsi yang tak berkadar dan terbatas.

Namun akan selalu ada bonus untuk setiap air mata dan ketegaran hati.

Dan itu kata orang yang dulu pernah susah sungguh melebihi cerita klasik sederhana ini.

Jadi aku hanya tersenyum saja dan menyapa burung yang melirikku dengan tajam pagi itu. Kejudesannya pada setiap hadirku ternyata menguji sabar hingga akhirnya kulemparkan satu batu untuknya. “Apa kau lihat-lihat!”, celaku. Seperti tak ada kerjaan saja menggunjingkan. Hingga lalu dia pergi terbang dengan kicauannya yang disebar dengan cerita lebih dramatis dari yang sebenarnya.

“Ah, burung kurang ajar!”, celaku lagi.

Tapi kurasa burung itu menilai diriku berdasar apa yang dia lihat. Kadang berbumbu lebih tajam, kadang manis di depan tapi cari celah di belakang.

Sungguh-sungguh burung kurang ajar kurasa. Tapi itu hanya sekedar burung. Dan burung-burung itu juga seperti timeline, selayak bumi.

Akan ada masa dimana semua akan baik-baik saja. Asal hati teguh, niat tak runtuh.

Tak apa jika kau tak mengerti.

Tak apa jika kau tak tahu pasti.

Yang jelas, aku sedang berkemas.

Aku sedang menguasai keadaan dan mempersiapkan semua :

Panggung, senyum, teman semirip peri di kayangan dan dunia tentang

hadiah terindah untuk semua yang pernah kulewati.

Selamat hari senin kuucapkan. Selamat berjuang untuk hal yang kau tanam dengan hati dan perasaan cinta di antaranya.Aku pamit menempuh pagi di gua peraduan ini. Aku pamit hingga kita berjumpa lagi. Esok pagi. Lusa pagi. Atau, seselanya waktu yang Tuhan beri untuk kita bertemu lagi.

Kotatua kedinginan

25 Oktober 2010

Oleh : Rana Wijaya Soemadi

Tags:

 

saturindu
saturindu wrote on Oct 25, ’10
sketsa
datang
dan berpindah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s