Setelah Kunjungan Doa

Sep 3, ’10 6:37 AM
for everyone

 

AKU telah mengenalmu lama sebelum ini. Di ujung kota tempat kau memberiku mimpi tentang masa depan, dan tentu saja, kehangatan hati yang mampu tinggal hingga kini.  

Jalan begitu lenggang. Pohon pinus yang terukir hijau manis macam gulali disebar sumbu, mempersilahkan kita mengaguminya. Tapi retinaku tak bisa kesana. Mataku hanya sibuk menatap elokmu yang terus mendekat dan menggembangkan tawa.

Aku bahkan telah lupa bahwa itu adalah cinta. Ah, rasanya..

 

PAGI itu, kita tidak bicara. Tapi tanganmu lembut menggapai jemari ini. Bersama, kita menyesap dinginnya  embun yang belum kunjung turun. Lalu setelah pucuk bukit berbatas, kau genggam keduanya dan ungkapkan tiga kata sakti itu, “ Menikahlah denganku. Mau ?”

Ah. Pertanyaan bodoh, gelakku. Bagaimana bisa aku berkata tidak untuk mimpi, ya, mimpi yang selalu kubangun di tiap-tiap doa dan tidurku. Aku mencintaimu. Tapi aku tak mampu mengiyakan maumu dengan suara. Hanya rengkuhan rindu dan jawaban iya yang terwakili. Lalu gaun putih seperti lonceng yang berderai-derai itu tiba dan terpakai jua.

Kau dan aku akhirnya satu. Aura berbinar-binar ada diantara rona kita berdua. Lamat-lamat kudengar riuh rendah tepukan tangan menyambut hari bahagia kami. Kita.

Tak pernah kubisa meramal bagaimana cinta ini akan untuk selamanya. Aku hanya sedang sangat bahagia. Tapi mungkin detik ketika seorang pria itu mengobrak-abrik kerumunan orang dan meminta penjelasan pada semua yang terjadi, kau tahu, akan ada satu yang hilang dan satu memilih pergi, berakhir.

Aku tak pernah sempat bertanya tentang apa yang terjadi. Pria itu telah bermain api dalam pistol yang teracung ke udara. Saat larasnya berpacu menuju pusat kepalaku, kau lerai semua arah itu hingga ia menghujami peluru yang menembus kemeja hingga memerah, membeku, bisu.

 

AKU sungguh telah lama mengenalmu sebelum ini, Sayangku. Tapi aku tak pernah mengerti, pria pesakitan itu dan sosokku yang sekarang berdiri di nisanmu, masih sama-sama merindukan engkau untuk kembali disisi. Ah, rasanya..[ ]

 

Kotatua beranjak cerah

Semarang, 3 September 2010

Sebuah Prosa oleh Rana Wijaya Soemadi

 

­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­Dalam rangka berpartisipasi mengikuti lomba di Cerita EKA yang berlangsung dari tanggal 21 Agustus sampai dengan 3 September 2010.

 

 

 

ayanapunya wrote on Sep 3, ’10
wah udah meninggal ya..

ninelights wrote on Sep 3, ’10

wah udah meninggal ya..

:-)…dan dia gay..
em….mantan.
atau,masih ya?..:-)
Mainkan imajimu..#halahSalam kenal anyway..
terima kasih sudah berkunjung…:-)

yant165 wrote on Oct 4, ’10
Selamat yaa… masuk 8 besar tuh.🙂

ninelights wrote on Oct 4, ’10
yant165 said

Selamat yaa… masuk 8 besar tuh.🙂

Trima kasih..iya,tadi udah baca..tapi gak tau kenapa gak bisa masuk buat komen di postingan Mbak Eka..
thanks anyway udah mampir..:)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s