Pemuda Di Balik Box Tiket Kereta

Mar 16, ’11 12:56 PM
for everyone
“Kau sadar kalau matamu itu indah sekali, Tia?” pemuda itu mengatur nafasnya supaya terdengar normal di telinga orang lain.

Dengan kedua tangan yang sibuk menekan perut pemuda itu, Tia memandangnya dengan wajah terkejut. “Darimana kau tahu namaku?”

Pemuda itu tertawa, lalu terbatuk. Tia menatap wajah pria yang ada di hadapannya itu dengan raut wajah cemas. Tak lupa, sesekali juga Tia menoleh ke sekeliling, berharap temannya yang lain segera datang membantunya.

“Aku pernah melihatmu di sebuah restoran,” jelas pemuda itu. “Kau memakai gaun warna mer-!” Dia tercekat dan lalu terbatuk lagi. Setelah itu dia merintih kesakitan.

“Sudah, Tuan. Tidak perlu dijelaskan lagi..” sergah Tia.

“Tidak-tidak!” pemuda itu bersikeras. Dia membenarkan posisi duduknya yang menurutnya terlihat berantakan. Tangan Tia basah oleh darah yang merembes dari kain yang coba dia tekan di perut pemuda itu. “Kau memakai gaun warna merah muda,” ulang pria itu, “duduk di dekat jendela, memesan segelas jus strawberry dengan topping vanilla dan chocolate ice cream kepada seorang pelayan lalu memandang matahari terbenam di balik sebuah gedung tua.”

Tia tersenyum-senyum sekaligus terheran-heran. “Oke. Baiklah. Apa kau sengaja mengikutiku? Karena sepertinya kau tahu banyak tentang diriku.”

Pemuda itu tertawa. Dahi dan pipinya bercucuran keringat sementara matanya merah, menahan sakit karena tertembak peluru nyasar setengah jam yang lalu. “Apa kau lupa kepadaku, Tia?”

“Kamu di mana, Bram?!!” Tia marah-marah di HT dan lalu kembali melihat wajah pemuda itu lekat-lekat. “Apa kita pernah kenal sebelumnya, Tuan?”

Tia menyapu pandangan lagi. Dia melihat temannya, Bram, dan satu kawannya lagi, Tio, tergopoh-gopoh lari mendekat ke arahnya membawa sebuah tandu dan kotak P3K untuk pemuda itu.

“Kita selalu bertemu saat kau hendak pergi dan pulang dari tugasmu.” Jelas pemuda itu, mengaku. “Aku menyerahkan karcis kereta kepadamu dan kamu menyerahkan beberapa koin uang sembari tertawa kegelian. Aku suka cara tertawamu, Tia..Dan aku tidak akan marah kau suruh aku menghitung koin-koin itu..Karena aku ingin melihatmu lebih lama..”

Tia terkejut. “Kau si penjaga karcis itu…?” Tia mengamati wajah pemuda itu lebih detail. “Kau si penjaga karcis yang selalu memakai topi dan menundukkan mukamu itu dan kalau kau bicara kepadaku kau seperti takut-takut itu??”

Pemuda itu tertawa dan sekaligus merintih.

“Aku juga suka mendengar suaramu, sebenarnya..” puji Tia, akhirnya. “Tapi aku benci karena kau selalu menundukkan mukamu saat kita bertemu.”

Bram dan Tio mendekat. Mereka berdua berniat untuk segera memindahkan pemuda itu dari posisinya, tetapi pemuda itu memberikan isyarat agar tubuhnya tidak usah dibawa ke mana-mana.

“Hey, ayolah..” Tia mengiba. “Kau harus segera ditangani, Tuan. Darahmu keluar cukup banyak.”

“Aku sudah tidak punya siapa-siapa untuk menangisi dan merawat diriku, Tia, jadi percuma saja…” pemuda itu berkata sembari membenarkan posisi duduknya. Bram dan Tio tidak memedulikan racauan pemuda itu. Tangan mereka berdua mulai menggotong badan pemuda itu. Tetapi pemuda itu meronta, enggan diangkat.

“Aku mohon, tidak usah!” tegas pemuda itu.

Bram, Tio dan Tia saling berpandangan mata.

Bunyi gemuruh peluru dan batu-batu yang terlempar dan membentur dinding masih terdengar di sekitar mereka. Bentrok antar kelompok mahasiswa membuat beberapa warga sekitar yang tidak berdosa terkena imbasnya. Beberapa rumah hancur dan terbakar. Selebihnya, ada korban luka-luka karena terkena lemparan batu. Sementara pemuda itu, terjatuh mendadak di tempat karena ada peluru nyasar masuk menembus perutnya.

Pandangan pemuda itu semakin meredup. Nafasnya semakin tersenggal-senggal, membuat Tia harus melakukan tindakan cepat.

“Sudah, teman. Gotong dia! Ayo!” Tia mengajak kedua temannya untuk tidak usah menghiraukan permintaan pemuda itu.

Bertiga, mereka kemudian menggotong pemuda itu hingga sampai ambulan. Tia menggunting baju pemuda itu dan melakukan pembersihan di sekitar luka tembak sementara ambulan mulai tancap gas menuju rumah sakit.

“Maukah kau menikah denganku, Tia..?” tanya pemuda itu, lirih.

Tia berhenti mengelap darah di sekitar perut pemuda itu.

Dengan nafas yang semakin tersenggal-senggal dan tidak teratur, pemuda itu bicara lagi. “Aku janji aku tidak akan meminta untuk tidak dibawa kemana-mana lagi kepadamu..Aku janji aku akan menuruti semua kata-katamu, Tia” pinta pemuda itu, membuat Tia tertawa sekaligus terharu.

“Sudahlah, Tuan..”

Pemuda itu lalu menggenggam tangan Tia. “Aku sungguh-sungguh, Tia..Maukah kau menikah denganku, setidaknya bahagiakanlah aku sebelum aku tak lagi ada di dunia ini..”

Dada Tia berdesir.

Siapa pemuda itu? Seorang penjaga tiket kereta yang jatuh cinta kepadanya dan satu jam bersamanya seakan telah mengenalnya lebih lama dari sebatas pertemuan dan perpisahan di stasiun itu?

Pemuda yang membuat hatinya berbinar saat di sekelilingnya semua terasa sangat genting untuk orang lain?

Pemuda yang telah membuat matanya menoleh sejenak untuk berteduh dan bersandar di sana?

Pemuda yang membuat satu hari itu menjadi begitu berarti untuk dirinya?

Laju ambulan terus menggilas jalan. Aspalnya yang bergelombang membuat mata Tia terbuka. Seorang perawat laki-laki terlihat sibuk menekan beberapa carik kain ke dada Tia yang mengeluarkan banyak darah. Luka tusukan pisau dapur dari seorang mantan prianya.

“Halo gadis cantik..” sapa perawat laki-laki itu dengan ramah. “Bertahan yah..Kita akan tiba sebentar lagi..”

Tia memutar-mutar matanya lalu melihat perawat laki-laki yang tak asing di matanya itu dengan nafas yang tersenggal-senggal. “Apa kau sungguhan ingin menikah denganku, Tuan..?”

Pemuda itu tersenyum terkejut lalu menggenggam tangan Tia, “Kau akan baik-baik saja, Tia..” yakin pemuda itu, “Kita akan segera sampai tujuan…”[ ]

Flash Fiction Oleh Rana Wijaya Soemadi

Semarang, 16 Maret 2011

12 CommentsChronological   Reverse   Threaded

tiarrahman
tiarrahman wrote on Mar 16, ’11
berapa kata?

ninelights
ninelights wrote on Mar 16, ’11
828, Pak..:-)

tiarrahman
tiarrahman wrote on Mar 16, ’11
masih masuk ff? 400 juga dah kerasa kebanyakan😀

ninelights
ninelights wrote on Mar 16, ’11
setahu saya ff berjumlah kurang dari 2000 kata,Pak Tiar..
ada juga yang menganggap dan membatasi flash fiction dengan jumlah kata 250 sampai 1000 kata..
kalo cerpen antara 2000 – 20,000 kata…:)

tiarrahman
tiarrahman wrote on Mar 16, ’11
Berani 100 kata?

ninelights
ninelights wrote on Mar 16, ’11
^_^

Boleh saja..:)
dalam rangka apa ngomong-ngomong?
🙂

tiarrahman
tiarrahman wrote on Mar 16, ’11
Kadang bikin ff 100 kata mengasyikkan dan bikin ketagihan. Harus milih kata, potong sana sini. Tetapi cerita dan pesannya sampai.

Oh iya. Aku tadi baca di journal kembaran ini. Masih gantung endingnya?

mahasiswidudul
mahasiswidudul wrote on Mar 16, ’11
nin bikin ff kemaren 160 kata.. hehehe😀

ninelights
ninelights wrote on Mar 16, ’11
@Pak Tiar : Iyah..seru..hehe..Semoga berkenan..sudah coba saya lunasi yah tantangannya..:)
http://ninelights.multiply.com/journal/item/298/FF_100_Kata_Lima_Puluh_Lima_Puluh

Rahasia..hehe..Menurut Pak Tiar sendiri, cerita di atas bercerita tentang apa?
🙂
*mencoba mencari tahu dari sudut pandang pembaca ini, Pak :)*

ninelights
ninelights wrote on Mar 16, ’11
@Nina : gak nanya, Nina..:))
*dilides traktor,hehehe*

tiarrahman
tiarrahman wrote on Mar 16, ’11
Baru baca ulang ujungnya dengan perlahan. I got it! Good job.

bambangpriantono
bambangpriantono wrote on Mar 25, ’11
Aduh ngitung dulu aaah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s