[Random] Too Much

[Random] Too Much Sep 14, ’11 1:49 PM
for everyone
Suatu malam di alun-alun kidul jogja waktu itu, saya berkesempatan bicara banyak dengan seorang kakak perempuan yang juga merupakan penulis dan pasti akan menjadi penulis yang hebat dan sepantaran dengan Seno Gumira Ajidarma atau Djenar Mahesa atau Muhidin M Dahlan, dan bahkan lebih, suatu hari nanti (ini doa untukmu, dan kuamini sepenuh hati). Salah satu pembicaraannya adalah tentang mimpi ini, mimpi menjadi penulis. Ada salah satu pertanyaan kakak itu yang saya ingat sampai hari ini, “Kenapa saat kita bermimpi besar, orang lain selalu menganggap itu sebagai sebuah kesombongan?”

Maksud kakak itu tentu adalah mimpinya yang bisa menembus koran-koran (yang saya pribadi juga salut dengan mimpinya karena cukup susah menembusnya tapi saya yakin dia bisa karena tulisannya juga bagus ) tersebut, dan mimpi-mimpi saya yang someday novel saya akan ngehits karena daya khayal yang berlebihan ini. Intinya, niat kami adalah memotiavasi diri sendiri supaya bisa lebih baik lagi setiap harinya. Aslinya untuk hal tdaya khayal tersebut, saya hanya berusaha memaksimalkan apa yang saya punya saja. Istilahnya, itu adalah hal yang bisa saya kerjakan karena kemungkinan cuma itu yang saya bisa. Intinya, aslinya jika saya sedang minder, itu adalah sebuah bentuk kekurangan. Tapi saat saya membaca hal-hal yang berkaitan dengan daya khayal yang kelewat lebay sehingga membuat orang lain menyikapi keberadaan saya cenderung kepada ‘manusia aneh, menyebalkan, pengangguran banyak ngayal dll’ dan itu ternyata sesuatu yang istimewa, saya menjadi bersemangat kembali.

Lalu pada hari di mana saya menuliskan hal yang menurut saya adalah hal biasa, yang menurut saya itu juga adalah sesuatu yang menurut saya pribadi semata-mata hanyalah sebuah kelebayan dari bentuk kekurangan yang dengan senang hati saya terima sebagai kelebihan yang membuat diri saya sangat istimewa, ternyata dicap sebagai sebuah bentuk kesombongan juga, saya berhenti berjalan dan menatap ke atas, “Tuhan…. kemungkinan saya ini terlalu banyak bicara, bukanlah bekerja.”

Maka saya teringat lagi dengan teman baik itu, kakak perempuan penulis itu dan teringat salah satu potongan komentar di fbnya. “Mari diam-diam saja…”

15 CommentsChronological   Reverse   Threaded

mupengml
mupengml wrote on Sep 14, ’11
mari rame2…..ngopi…srupuuuuuuttt….

nawhi
nawhi wrote on Sep 14, ’11

“Mari diam-diam saja…”

ada satu nasihat bijak di buku panduan menulis yang menjadi buku fave saya: ketika seorang penulis mempunyai suatu ide maka segera kerjakan, jangan habiskan waktu n pikiran dengan menceritakan atau bertanya2 pada orang lain. sebab ketika kau menceritakannya maka kau akan kehilangan energi yang mendorongmu untuk menuliskannya. *kurleb seperti itu.

ninelights
ninelights wrote on Sep 14, ’11

mari rame2…..ngopi…srupuuuuuuttt….

aku ndak suka kopi, ganti es krim boleh tak?sithik wae es krime…ning pucuk…

😄

mupengml
mupengml wrote on Sep 14, ’11

aku ndak suka kopi, ganti es krim boleh tak?sithik wae es krime…ning pucuk…

😄

*sodorin es krim sekotak*…..😀

puritama
puritama wrote on Sep 14, ’11
suka…
talk less do more…. *sok enggres

kangen kalian jadinya…

ninelights
ninelights wrote on Sep 14, ’11
nawhi wrote today at 2:10 PM
ninelights said
“Mari diam-diam saja…”
ada satu nasihat bijak di buku panduan menulis yang menjadi buku fave saya: ketika seorang penulis mempunyai suatu ide maka segera kerjakan, jangan habiskan waktu n pikiran dengan menceritakan atau bertanya2 pada orang lain. sebab ketika kau menceritakannya maka kau akan kehilangan energi yang mendorongmu untuk menuliskannya. *kurleb seperti itu.

>>>Makasih,Mas…
Iya..aku merasa talk more do less, dan itu membuat hati ini kurang nyaman.

ya sudah…back to write again yah…
see ya..:)

henidebudi
henidebudi wrote on Sep 14, ’11
Naaaa..
Yuk kita diam2 aja sambil terus berkarya dengan apapun yg kita bisa lakukan🙂

revinaoctavianitadr
revinaoctavianitadr wrote on Sep 14, ’11

“Kenapa saat kita bermimpi besar, orang lain selalu menganggap itu sebagai sebuah kesombongan?”

Tergantung kepada siapa kita mempertanyakan hal tersebut.
Sependek yang saya tahu, tidak ada orang yang mempunyai rasa percaya diri tinggi mampu menyebut orang lain sombong.

topenkkeren
topenkkeren wrote on Sep 14, ’11
Semoga terkabul

myelectricaldiary
myelectricaldiary wrote on Sep 14, ’11
sukses yaaa,mbak..
moga jadi penulis yg sukses,,
amiiiin😉

darnia
darnia wrote on Sep 14, ’11
GO NANA GO NANA GOOOOOOOOOOOO!!!

Be what you wanna be or die trying!!

darnia
darnia wrote on Sep 14, ’11

“Kenapa saat kita bermimpi besar, orang lain selalu menganggap itu sebagai sebuah kesombongan?”

karena yang komen begitu merasa kesentil ego-nya
dia pernah kehilangan mimpi, iri dengan orang lain yang bisa bermimpi besar dan dia sendiri tak mampu lagi mengejar impiannya.

CASE CLOSED! :p

pennygata
pennygata wrote on Sep 14, ’11
Bermimpi besar itu perlu, kalo gak, bisa2 kita jalan ditempat gak maju2.
Kupikir itu bukan kesombongan sih, aku pikir org sombong itu yg liat org lain cenderung mrendahkan n menghina.

addicted2thatrush
addicted2thatrush wrote on Sep 15, ’11
Ehm..

onit
onit wrote on Sep 20, ’11

“Kenapa saat kita bermimpi besar, orang lain selalu menganggap itu sebagai sebuah kesombongan?”

hmmm berarti yg menganggap kesombongan itu bukanlah orang yg tepat utk dibagiin cerita2 ttg mimpi kita..🙂

semangat yaaa ^^

ps: bagi2 mimpimu yak, ntar kuamini hehehe
pss: mimpiku juga ada, blon pernah kubagi di blog -_-;;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s