Beware #STOPACTA

Beware #STOPACTA

Jan 29, ’12 12:12 AM
for everyone
Kamu yakin #SOPA dan #PIPA yang sempat menghebohkan dunia kemarin itu cuma ‘omong doang’ dan memang ‘enggak bakal terjadi’ karena emang enggak ada?

Lalu, sekarang kamu percaya begitu saja pendapat orang-orang yang bilang bahwa #ACTA itu pasti enggak bakal terjadi, karena #SOPA dan #PIPA cuma omdo???

Saya sebelumnya enggak peduli, guys.., tapi pas tahu betapa ngeri efeknya bagi kebebasan berekspresi kita di internet, di seluruh dunia, termasuk Indonesia, dan efeknya pada masing-masing individu, maka, saya merasa wajib menyebarkan info ini ke sebanyak mungkin teman.

Apa itu ACTA? the Anti-Counterfeiting Trade Agreement

ACTA merupakan traktat (perjanjian antar bangsa) kesepakatan plurilateral yang ditujukan untuk menetapkan standar internasional penegakan hukum tentang hak kekayaan intelektual, termasuk juga mengatur tentang distribusi di internet dan teknologi informasi.

Kesepakatan ACTA ini telah digodok sejak tahun 2007 oleh sejumlah negara, yaitu AS, Komunitas Eropa, Swiss, dan Jepang.

Traktat ini juga melibatkan Australia, Republik Korea, Selandia Baru, Mexico, Jordania, Maroko, Singapura, Uni Emirat Arab, dan Kanada.

ACTA akan membentuk kerangka hukum internasional yang baru dimana akan menciptakan “lembaga pemerintahan sendiri di luar lembaga-lembaga internasional yang ada”

Okey, sepertinya terlihat baik yaitu melindungi hak kekayaan intelektual, lantas dimana masalahnya?

Dalam situs ini http://www.stopacta.info/ disampaikan bahwa masalah utama dengan perjanjian ini adalah bahwa semua negosiasi dilakukan secara diam-diam alias tidak transparan.

Dokumen yang telah dibocorkan menunjukkan bahwa salah satu tujuan utama dari perjanjian ini adalah untuk memaksa negara-negara penandatanganan  tersebut menerapkan kebijakan anti file sharing dalam bentuk three-strikes schemes dan praktek penyaringan sapu bersih.

Pusing?

Begini simpelnya…

Misalnya saja kamu sekarang sedang ikut kursus memasak. Di kursus memasak itu Anda dilarang menyebar informasi mengenai resep yang didapat dari kursus itu. Kemudian, pihak yang punya otoritas pelaksanaan ACTA melakukan pengawasan terhadap Anda untuk memastikan informasi resep itu tidak tersebar. Jika Anda memberikan informasi mengenai resep yang Anda dapat di kursus itu ke teman Anda, maka Anda dan teman Anda bisa terancam pidana yang diatur dalam ACTA di negara Anda tinggal.

ACTA memiliki efek yang lebih besar dari SOPA

Dalam perjanjian ACTA dikatakan bahwa pemerintah dari pihak-pihak yang terlibat dalam perjanjian itu akan memantau semua distribusi dari barang-barang atau produk-produk yang memiliki hak paten tanpa terkecualitermasuk produk-produk yang berkaitan dengan komputer dan internet.

INI ISI PERJANJIANNYA, SILAKAN DIBACA:

http://cdn.thejournal.ie/media/2012/01/20120125acta.pdf

 Jelas disebutkan bahwa teritori yang termasuk didalamnya adalah “wilayah pabean dan semua zona bebas dan internet termasuk di dalamnya. Inilah yang menyebabkan ACTA akan menjadi ancaman yang cukup meresahkan para pengguna internet di seluruh dunia.

Ini adalah salah satu artikel tentang #ACTA yang bukan lagi sekedar OMONG DOANG!

Pemerintah Irlandia dan Uni Eropa akan menandatangani kesepakatan kontroversial ACTA besok
Wed, 25 January 2012, 4:37 PMPemerintah Irlandia berencana akan menandatangani perjanjian internasional kontroversial esok hari yang berisi kebijakan utama untuk menumpas perdagangan barang palsu dan berbagi file / berkas di internet secara ilegal.Perwakilan dari Irlandia akan menandatangani Anti-Counterfeiting Trade Agreement (ACTA) secara resmi besok (Jumat, 27/01/12) waktu setempat dan akan ditemani perwakilan dari masing-masing 26 negara anggota Uni Eropa lainnya dan perwakilan dari Uni Eropa itu sendiri.

Apabila perjanjian ini telah menemui kata sepakat dan ditandatangani, maka kemudian ACTA dapat secara formal disahkan dan segera diadopsi menjadi hukum di Parlemen Eropa. Perjanjian itu akan ditandatangani besok di Tokyo oleh Duta Besar Irlandia untuk Jepang, John Neary.

Meskipun perjanjian ini terutama ditujukan untuk menghentikan perdagangan barang fisik yang sengaja dipalsukan, namun ACTA juga berisi ketentuan yang menuntut negara-negara yang berpartisipasi untuk menawarkan perlindungan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran hak cipta digital.Kesepakatan perjanjian ini telah dikritik oleh banyak orang, termasuk Kelompok Electronic Frontier Foundation, tentang dampak potensial yang ditimbulkan pada area privasi dan kebebasan berekspresi.

Secara khusus, negara-negara anggota setuju untuk memberikan otoritas pada Internet Service Provider (ISP) dalam mengungkapkan informasi pengguna ke pemegang hak cipta, bila dirasa cukup bukti adanya pelanggaran hak cipta mereka oleh pengguna.

Tidak boleh dihindari

Negara-negara anggota yang menandatangani perjanjian harus memberikan “solusi hukum yang efektif” untuk memastikan bahwa langkah-langkah anti-pencurian – seperti Digital Rights Management (DRM) dalam hal perlindungan terhadap file musik yang dibeli – tidak boleh diabaikan.Sesuai klausul perjanjian itu dapat dicontohkan misalnya Apple, harus menonaktifkan fasilitas rekaman MP3 di iTunes – karena hal tersebut dapat disalah-gunakan untuk menghapus perlindungan DRM atas sebuah file musik yang dibeli melalui toko iTunes.

 (catatan saya: DRM mencegah terjadinya distribusi atau penggandaan file musik secara ilegal, setiap file musik yang dibeli akan disertai nomor unik untuk dikenali DRM. Fasilitas rekaman MP3 berguna untuk menggandakan file musik original yang telah dibeli, untuk itu Apple harus mampu mendeteksi bahwa fasilitas itu telah OFF)

Kritikus lainnya menyampaikan bahwa perjanjian itu juga melarang distribusi obat generik yang murah – karena hal itu dianggap melanggar hak cipta dari perusahaan farmasi yang berkat penelitiannya menghasilkan penemuan obat tersebut.

Seorang juru bicara Komisi Eropa mengatakan bahwa ACTA bukanlah kebijakan hak kekayaan intelektual yang baru, tetapi hanya berfungsi untuk menegakkan kebijakan yang sudah ada – dan tidak akan memantau lalu lintas internet secara terus menerus.Michele Neylon of Carlow, dari perusahaan berbasis internet hosting Blacknight mengatakan bahwa perjanjian itu bisa memaksa host internet untuk berhubungan langsung dengan perintah yang dikeluarkan oleh pemegang hak cipta, bukan perintah yang dijatuhkan oleh pengadilan.”Jika kita sudah diberi perintah oleh pengadilan, -meski tanpa ada pertemuan, dan hakim telah membuat keputusan-, (Anda akan langsung terhubung dengan pemegang hak cipta), sehingga Anda tidak akan menghabiskan hari Anda di pengadilan.”

(catatan saya: Jadi, Anda berhubungan langsung dengan pemegang hak cipta untuk penyelesaian masalah denda)

Menurut Neylon itu adalah masalah “ekonomi dasar” bahwa perusahaan seperti itu tidak bisa beroperasi sampai terdapat biaya kepastian hukum yang signifikan, yang memastikan bahwa prosedur pengadilan telah diikuti, ketika biaya-biaya kepastian hukum jauh melebihi uang yang diterima untuk meng-host situs di tempat pertama.

Dia menambahkan bahwa situasi hukum saat ini di Irlandia, di mana tidak ada definisi yang baku dari ‘fair use”, maka blog pribadi dapat dikenakan perintah penutupan jika mereka memasang logo perusahaan tanpa izin.

Kerugian Industri senilai $ 200 miliar

ACTA ditujukan untuk membasmi barang palsu khususnya elektronik, yang menurut Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) percaya jika kejahatan tersebut bernilai sekitar USD 200 miliar pada tahun 2007. Angka ini setara dengan 2 persen dari seluruh perdagangan legal dunia pada tahun itu.

Semua Departemen Pemerintah Irlandia harus mengkonfirmasi bahwa Irlandia telah memiliki sarana hukum sebelum pelaksanakan ACTA berlaku secara resmi.

Seorang juru bicara pemerintah mengatakan, bagaimanapun juga, Irlandia tidak harus mengubah undang-undang untuk saat ini – percaya bahwa ketentuan-ketentuan pada kesepakatan itu sudah disesuaikan dengan hukum Irlandia.

Dia menambahkan bahwa dalam perundingan tentang kesepakatan itu terdapat wakil dari Departemen Pekerjaan, Enterprise dan Inovasi dan anggota dari perwakilan tetap Irlandia di Uni Eropa di Brussels.

Berita tentang ACTA yang diratifikasi oleh pemerintah Polandia awal pekan ini memancing amarah Anonymous dan kelompok lain yang disebut Underground Polandia, yang menyerang banyak situs milik pemerintah sebagai bentuk protes atas penandatanganan perjanjian oleh Pemerintah Polandia.

Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, Australia, Selandia Baru, Jepang, Korea Selatan, Singapura dan Maroko – yang semuanya mengambil bagian dalam negosiasi perjanjian – telah mendaftar untuk ACTA pada Oktober tahun lalu.

Pemerintah Uni Eropa dan Swiss juga akan menawarkan dukungan mereka untuk perjanjian tersebut dan akan menandatanganinya untuk segera dilaksanakan.Negara-negara lain yang berminat akan kebijakan ACTA dapat mendaftarnya sebelum Mei 2013. Sumber: thejournal.ie: ireland-and-eu-to-sign-controversial-acta-treaty-tomorrow

Salah satu komentar atas berita dari TheJournal:

“Lavente Csoti:

Effects of ACTA:
– many Radio and TV stations will be shot down cuz they arent using copyrighted music, schools will be shut down cuz they dont have money for the copyrighted softwares.
– by using copyrighted music in ur YouTube videos u will get arrested, for example a mother post a video with her baby dancing on LadyGaga song, because the song is copyrighted she will be sued and have to pay crazy amount of money.
– DJ’s who are remixing copyrighted songs, will go to prison.
– YouTube, Facebook, Twitter… will be all shot down after some time, cuz they wont be able to handle the pressure.
– and so on, just google what are the consequences of it, and check this clip

And u think that the artists will benefit from this… ur wrong, only the owner of the companies will make more !!!”
Tetapi bukan cuma urusan ‘bajak-membajak’ di internet, download musik, dll, guys! Masalah hak paten karya budaya negeri sendiri yang kasusnya pernah terjadi di sini dan di sini, bakal terulang, dan bertambah, dan membuat Indonesia tak punya apa-apa karena kecolongan hak cipta karya seni dan budaya karena #ACTA ini!

Jadi, yuk, mari, buka mata, hati, dan rasa pedulimu. Ini bukan cuma soal kamu dan aku, tapi soal kita, kepentingan bersama, kebebasan mengutarakan pendapat dan berekspresi di internet untuk seluruh umat di dunia.

Let’s fight against ACTA! 
47 CommentsChronological   Reverse   Threaded

anotherorion
anotherorion wrote on Jan 29
lets

fightforfreedom
fightforfreedom wrote on Jan 29, edited on Jan 29
Sekedar tambahan:

Perlu diketahui bahwa SETIAP file musik (mp3), film (avi), e-book (pdf) yang dibeli secara resmi akan diberikan nomor unik. Tanpa nomor unik tsb maka sistem akan mendeteksinya sbg barang ilegal.

Setiap PC / laptop harus memiliki DRM (Digital Right Management) di dalamnya. DRM inilah yg mengendalikan semua materi legal di dalam PC Anda.

Dengan adanya penerapan ACTA, berlaku kebijakan “three-strikes schemes”, artinya setelah mendapat peringatan (warning letter) sebanyak 3 kali yg dikirim oleh sebuah sistem, maka secara otomatis ISP akan memutus jaringan internetnya, sehingga ia tidak bisa melakukan aktivitas internet dengan IP-nya yg sudah diblokir itu. Ini masih kategori ringan, karena mendownload materi ilegal untuk pentingan sendiri.

Yang masuk kategori berat adalah ketika kemudian ia mendistribusikan material ilegal tersebut, maka ancamannya adalah pidana.

onit
onit wrote on Jan 29

SETIAP file musik (mp3), film (avi), e-book (pdf) yang dibeli secara resmi akan diberikan nomor unik. Tanpa nomor unik tsb maka sistem akan mendeteksinya sbg barang ilegal.

Setiap PC / laptop harus memiliki DRM (Digital Right Management) di dalamnya. DRM inilah yg mengendalikan semua materi legal di dalam PC Anda.

tapi aku masih gak ngerti, kenapa ini yg dipermasalahkan?

kalo emang para produsen mp3/film/buku itu emang mau setiap copy barangnya dibeli, bukannya itu hak yg jualan ya?

martoart
martoart wrote on Jan 29
“Kematian Steve Jobs hanya menjadikan Apple kehilangan seorang legenda, tapi kematian internet bisa menjadikan Apple hanya sekadar legenda”.

(MartoArt, 29 Januari 2012)

rokunco
rokunco wrote on Jan 29
Google beserta kelompoknya spt youtube, dll mulai 1 maret 2012 akan menerapkan regulasi baru utk penggunanya…….barangkali ini antisipasi rencana UU SOPA & PIPA ataupun ACTA. (?)……

lugusekali
lugusekali wrote on Jan 29
waaaah berarti bisa-bisa bunyinya dunia tanpa internet ya?

Aku bayangin aja… Berarti nanti di FB, Twitter, MP hanya berisi curhatan pribadi tanpa musik, video, mungkin bahkan CSS (CSS masuk hak cipta toh?). kalo gak kan ISPnya di blokir tuh, klo ISP di blokir berarti kan mati tuh gak bs dipake internetan lagi.

Hm… Mbayangin juga dunia tanpa internet, bahkan dunia tanpa musik (radio, TV acara musik hilang). Hm… Balik ke zaman aku kecil dong..
Radio akan putar lagu2 indonesia aja, tv musik juga. Hanya indonesia.

Artis luar negeri gak laku di Indonesia krn kita gak tau lagu terbaru mereka apaan (kan berarti gak boleh iklan lagunya toh?). Efeknya seniman mati gaya, pemilik label gigit jari, negara yg ttd ACTA, SOPA, PIPA ikutan puyeng… Udaaah biarin aja… Kita ikutin arus kalo itu beneran terjadi. Kita lihat berapa lama undang2 itu bisa berlaku tanpa bikin yg ttd perjanjian ataupun yg usul perjanjian itu kaya cacing kepanasan.

Well, utk skrg mereka mikirnya stop aksi negatif secara global. Mereka lupa, kalo merekapun punya kepentingan/Kesenangan pribadi. Saat mereka lupa diri dan kena akibat dari perjanjian yang mereka sepakati, mereka akan menyesal (sangat menyesal). Hidup gak tenang, plain tanpa musik. Dll.

Ps : DRM itu mungkin sama cara kerjanya dengan windows genuine. Kalo windows secara online deteksi software bajakan, maka akan muncul genuine. screen saver berwarna latar, gak bs tempel gambar apapun. Tp secara umum, dy masih bs bekerja.

dreclarkson
dreclarkson wrote on Jan 29
*speechless*

tintin1868
tintin1868 wrote on Jan 29
noted..

akuai
akuai wrote on Jan 29
oh, ya ampun.. ga ngerti tapi ngebayanginnya kok serem yaa?😐

puritama
puritama wrote on Jan 29
zaman canggih kembali terisolasi, nih?

puritama
puritama wrote on Jan 29
vote-nya kok rada mbingungin ya..

myelectricaldiary
myelectricaldiary wrote on Jan 29
mbak ran,,,
aku izin sebar d fb yaa..

edwinlives4ever
edwinlives4ever wrote on Jan 29
Comment deleted at the request of ACTA.

ninelights
ninelights wrote on Jan 29
@Onit: aku sebagai seorang penulis akan seneng-seneng aja karena hakku dilindungi, Nit. Tapi enggak jadi sesimpel itu kalau ada yang enggak mampu beli buku misalnya, dan hanya bisa menikmatinya dengan baca ebook gratisnya dari warnet, atau software-software gratis itu diblokir sementara kapasitas dana pendidikan gak mampu beli yang legal.

Nggak usah jauh-jauh sama orang yang enggak mampu, aku saja yang ngefans sama Neil Gaiman, rada-rada pusing gitu mau ngoleksi bukunya yang harganya yang terjemahaan paper book 60-seratus ribuan lebih. Antara milih nahan diri smpai nanti ada bazar buku yang dijual cuma 10r-20rb misalnya, atau download ebooknya gratis. Kalau cara hemat, uang 60.000-125.000 itu bisa buat makan, buat beli pulsa, buat beli gula, misalnya.

Apa dengan ini aku udah termasuk nakal dan melakukan sesuatu yang ilegal? Karena ebook itu juga enggak aku jual.

Aku gak ngerti apakah ACTA ini juga akan mengawasi penerbitan buku di seluruh dunia. Tapi kala iya dan ketahuan ada penerbit yang gak minta izin nerjemahin karangan orang luar dan atau orang luarnya itu gak dapet royalti atas kayranya yang diterjemahkan, apakah ini akan jadi perkara juga atau tidak? Apakah penerbit itu akan dicabut hak terbitnya? *ini hanya asumsi saja, saya belum ada dasar yang kuat yes?*

Menurut sumber tersebut di atas, ACTA disusun secara diam-diam dan enggak transparan, jadi ya ibarat jebakan betmen kalau misal mendadak saja suatu hari nanti ada yang mengaku-ngaku mendoan hasil karya cipta bangsa eropa, dan mereka udah bawa barang bukti hak paten.

onit
onit wrote on Jan 29

@Onit: aku sebagai seorang penulis akan seneng-seneng aja karena hakku dilindungi, Nit. Tapi enggak jadi sesimpel itu kalau ada yang enggak mampu beli buku misalnya, dan hanya bisa menikmatinya dengan baca ebook gratisnya dari warnet, atau software-software gratis itu diblokir sementara kapasitas dana pendidikan gak mampu beli yang legal.

Nggak usah jauh-jauh sama orang yang enggak mampu, aku saja yang ngefans sama Neil Gaiman, rada-rada pusing gitu mau ngoleksi bukunya yang harganya yang terjemahaan paper book 60-seratus ribuan lebih. Antara milih nahan diri smpai nanti ada bazar buku yang dijual cuma 10r-20rb misalnya, atau download ebooknya gratis. Kalau cara hemat, uang 60.000-125.000 itu bisa buat makan, buat beli pulsa, buat beli gula, misalnya.

kalo mau mengikuti hukumnya, jelas ini. kalo aku pribadi, mo punya duit pun tetep akan beli sesuatu berdasarkan rasio kegunaan vs. harga. misalnya, pilih ngeluarin duit banyak utk beli windows / macbook daripada ngeluarin duit dikit2 utk beli mp3, krn lagu2 bisa didengar di radio (mereka gak ilegal, udah bayar ijin, sistemnya udah ada dari dulu).

kemarin2 di twit ada yg ngomong, “sudah pernah kamu bayangkan, kamu beli musik legal di itunes tapi trus kamu pergi ke toko nilep sebotol minuman?”

bukannya aku gak pernah donlod. tapi kalo peraturan ini sudah dilegalkan, maka aku gak komplain. ya wis. di satu sisi penulis/artis kan butuh makan juga. hasil karyanya dijual kan untuk makan.

mungkin ini akan menghasilkan kreativitas cara penjualan mereka. contohnya dalam penjualan barang biasa (consumer goods) kan ada tuh setelah sekian waktu tiba2 diskon 50%, karena setelah dapet untung sekian persen (yg di harapkan), maka harga menjadi tak penting lagi. ntar tumbuh penerbit2 / label musik / produser film yg gak kapitalis. penulis & artis bisa pilih diterbitkan / diproduseri oleh mereka2 itu. yang akan nurunin harga drastis atau gratis kalo sudah sekian persen keuntungan tercapai. sebagai konsumer mungkin pertimbangan kita tinggal uang vs. waktu aja. mau murah ya nunggu harga turun.

onit
onit wrote on Jan 29

Aku gak ngerti apakah ACTA ini juga akan mengawasi penerbitan buku di seluruh dunia. Tapi kala iya dan ketahuan ada penerbit yang gak minta izin nerjemahin karangan orang luar dan atau orang luarnya itu gak dapet royalti atas kayranya yang diterjemahkan, apakah ini akan jadi perkara juga atau tidak? Apakah penerbit itu akan dicabut hak terbitnya? *ini hanya asumsi saja, saya belum ada dasar yang kuat yes?*

selama negeri kita belum meratifikasi peraturan itu, maka justru kita bisa semangat bikin produk2 dalam negeri utk pasar dalam negeri yg semakin banyak kelas menengahnya ini.

gak usah takut jadi miskin gara2 ini. justru mengkonsumsi produk luar lah yg bikin duit kita lari ke luar negeri.

fightforfreedom
fightforfreedom wrote on Jan 29, edited on Jan 29
onit said

tapi aku masih gak ngerti, kenapa ini yg dipermasalahkan?

kalo emang para produsen mp3/film/buku itu emang mau setiap copy barangnya dibeli, bukannya itu hak yg jualan ya?

Saya juga menghargai bila industri dalam hal ini penjual materi yg ber-copyright menghendaki demikian, mbak Onit. Namun yg menjadi masalah adalah adanya ISP yang seolah-olah bertindak sebagai polisi dunia maya. Coba mbak Onit simak kembali cara kerjanya dalam video tsb, bagaimana “three-strike schemes” itu diterapkan.

Satu file musik yang dibeli akan diregister oleh DRM sesuai dg PC yg nantinya akan digunakan sebagai tempat memutar file musik tsb. File musik tsb hanya bisa diputar di PC dimana saat di-register. Register hanya berlaku satu kali. Bila kemudian kita ingin meng-copy file tsb ke media lain (PC / laptop lain, atau hp/bb), maka itu akan dianggap sbg tindakan mendistribusikan materi secara ilegal.

Ketika PC dikoneksikan di internet, ISP akan memastikan apakah semua fasilitas perekam telah dinonaktifkan. Bila ternyata diketahui bahwa fasilitas tsb tidak dinonaktifkan, kemudian sebuah sistem memeriksa dalamnya PC, dan ketika ditemukan materi ilegal, maka sistem tsb akan memberikan sebuah peringatan. Bila peringatan itu didapat sebanyak tiga kali, maka ISP akan memutus koneksi internet dan memblokirnya.

Bayangkan ketika kita membeli 50 file musik (setara dg 5-6 album) dan kemudian di register di PC A, namun suatu saat PC A mengalami trouble / kerusakan. Maka tentunya urusannya akan panjang, bukan?

Tapi ACTA ini tidak hanya mengatur soal distribusi file yg ber-copyright saja. Tetapi juga mengatur penggunaan materi yg ber-copyright tsb. Misalnya, ketika anak saya ingin memainkan piano Maksim Mrvica, maka harus mendapat ijin dari manajemen Maksim sebelum mengunggahnya di situs berbagi video (Youtube misalnya). Tanpa ijin maka akan dianggap sbg pelanggaran hak cipta.

Ada contoh yg banyak beredar di internet ttg Justin Bieber. Kalo ACTA ini diterapkan dari dulu, tentu si Bieber itu akan dihukum 5 tahun penjara, krn sebelum terkenal ia banyak mengunggah videonya saat menyanyikan lagu-lagu orang lain.

Could this really happen?

A new bill in Congress makes posting a video containing any copyrighted work a felony– with up to 5 years in prison.

But wait… didn’t Justin Bieber get famous by posting YouTube videos of himself singing copyrighted R&B songs?
Yep. If this bill passes, he could get 5 years in jail.

onit
onit wrote on Jan 29

Menurut sumber tersebut di atas, ACTA disusun secara diam-diam dan enggak transparan, jadi ya ibarat jebakan betmen kalau misal mendadak saja suatu hari nanti ada yang mengaku-ngaku mendoan hasil karya cipta bangsa eropa, dan mereka udah bawa barang bukti hak paten.

ya, ini yg susah. ini alasanku kenapa aku sign melawan acta kmrn.

lha sblm ada acta aja udah pada seenak udelnya mematenkan barang2 asli suatu daerah. kalo besok2 kita gak bisa ngomong “aku wong semarang” cuma gara2 semarang dipatenkan jadi nama sesuatu di negri kapitalis gimana? :p

utk hal ini, aku sependapat dgn kata2 ibu perwakilan belanda di parlemen eropa
http://www.reddit.com/r/politics/comments/ow1v5/acta_note_from_marietje_schaake_member_of_the/
kata doi: “it is not the government’s job to preserve certain business models against the forces of the free market”

(yes, setelah aku browsing2 kemarin, nemu juga yg tentang belanda, & udah ada situsnya sendiri utk kampanye ini dlm bhs belanda. di inggris malah ada yg bikin website utk otomatis mengemail perdana menteri, tinggal masukin email, nama, kodepos, trus send.)

onit
onit wrote on Jan 29

Satu file musik yang dibeli akan diregister oleh DRM sesuai dg PC yg nantinya akan digunakan sebagai tempat memutar file musik tsb. File musik tsb hanya bisa diputar di PC dimana saat di-register. Register hanya berlaku satu kali. Bila kemudian kita ingin meng-copy file tsb ke media lain (PC / laptop lain, atau hp/bb), maka itu akan dianggap sbg tindakan mendistribusikan materi secara ilegal.

Ketika PC dikoneksikan di internet, ISP akan memastikan apakah semua fasilitas perekam telah dinonaktifkan. Bila ternyata diketahui bahwa fasilitas tsb tidak dinonaktifkan, kemudian sebuah sistem memeriksa dalamnya PC, dan ketika ditemukan materi ilegal, maka sistem tsb akan memberikan sebuah peringatan. Bila peringatan itu didapat sebanyak tiga kali, maka ISP akan memutus koneksi internet dan memblokirnya.

Bayangkan ketika kita membeli 50 file musik (setara dg 5-6 album) dan kemudian di register di PC A, namun suatu saat PC A mengalami trouble / kerusakan. Maka tentunya urusannya akan panjang, bukan?

ini sih urusan teknis ya.

sama halnya dgn beli produk potosop yg udah diaktivasi lalu upgrade ke komputer baru, maka musti ada fungsi deaktivasi sblm diinstal di komputer lain.

metode drm atau ipmp (intellectual property management & protection) udah lama diteliti. emang secara teknis bikin mumet. ini urusan para peneliti.

kalo produser mau pakai metode yg masih buggy, ya ntar kena sendiri batunya. gak laku produknya.

sementara kita sebagai konsumer kan nothing to lose. produk susah dibeli ya gak usah dibeli. mereka yg rugi.

onit
onit wrote on Jan 29

Tapi ACTA ini tidak hanya mengatur soal distribusi file yg ber-copyright saja. Tetapi juga mengatur penggunaan materi yg ber-copyright tsb. Misalnya, ketika anak saya ingin memainkan piano Maksim Mrvica, maka harus mendapat ijin dari manajemen Maksim sebelum mengunggahnya di situs berbagi video (Youtube misalnya). Tanpa ijin maka akan dianggap sbg pelanggaran hak cipta.

Ada contoh yg banyak beredar di internet ttg Justin Bieber. Kalo ACTA ini diterapkan dari dulu, tentu si Bieber itu akan dihukum 5 tahun penjara, krn sebelum terkenal ia banyak mengunggah videonya saat menyanyikan lagu-lagu orang lain.

ini mirip diskusi sopa/pipa kemarin ya. ini yg bikin aku gak setuju juga.

urusan user-created content gak ada hubungannya sama copyright. ntar fan fiction juga kena :p

(malah itu iklan gratis toh :p produsen & pencipta lagu diuntungkan)

tapi aku setuju wajib mencantumkan judul lagu/artisnya. gak mau kan kita nulis buku keren, trus besok2 ada yg menceritakan isi buku itu ke orang lain, pasang di yutub, dan gak bilang2 judul & penulis bukunya?

lain kalo ada yg bikin cover lagu utk trus dijual, baru musti bayar royalti ke si pencipta lagu.

ninelights
ninelights wrote on Jan 29
onit wrote today at 2:56 PM
kalo mau mengikuti hukumnya, jelas ini.

>>>So Im going to jail because of it? Download tanpa menjual dan hanya untuk keperluan pribadi dan atau disebarkan sebagai ilmu? Well, berarti MARI SEGERA GALAKKAN MENDOWNLOAD E-BOOK gratis sebelum dilegalkan dan bikin gigit kuku, sodara-sodara =))

>>>Kalau pemerintah Indonesia mau/wajib/menjamin membelikan software legal demi kemajuan bangsanya di sekolah-sekolah, membiayai separuh atau mungkin sepenuhnya (?) biaya sekolah bukan hanya terhadap orang-orang yang tidak mampu, tapi semuanya, dan juga mau membelikan seperangkat buku dan lalu mendirikan banyak perpustakaan gratis untuk masyarakatnya di seluruh penjuru tanah air, daripada ngurusin pembangunan gedung baru, korupsi sana-sini, urusan ini urusan itu,
aku enggak akan komplain.🙂
Toh katanya, Indonesia gudangnya orang-orang jenius. Kalau pemerintah berani menyejahterakan, menjamin, menghargai para jenius ini maju di negeri sendiri daripada di negeri orang lain,
Oke gilak deh. Gak peduli deh sama ACTA mau jumpalitan kayak gimana karena Indonesia udah independen.

ninelights
ninelights wrote on Jan 29
onit wrote today at 2:56 PM
kalo aku pribadi, mo punya duit pun tetep akan beli sesuatu berdasarkan rasio kegunaan vs. harga. misalnya, pilih ngeluarin duit banyak utk beli windows / macbook daripada ngeluarin duit dikit2 utk beli mp3, krn lagu2 bisa didengar di radio (mereka gak ilegal, udah bayar ijin, sistemnya udah ada dari dulu).
>>>untuk radio yang memang udah dapet ijin dan udah terdaftar, setuju. Aku pernah kerja di radio juga dan memang udah ada dan akan selalu dikirimi lagu setiap bulannya oleh major label agar radio bersangkutan mempromosikan lagu-lagu tersebut.
Tetapi mungkin untuk radio yang didirikan hanya via streaming yang dapet lagunya dari cara download musik via youtube, TV, radio lain, direcord sendiri, mp3, bakal kena.
Kalau DJ dan televisi, aku enggak tahu. Di televisi juga sering memutar video yang dilabeli ‘courtesy of youtube’. Kalau kena juga, bakal ada banyak televisi Indonesia yang kena juga berarti.

ninelights
ninelights wrote on Jan 29
onit wrote today at 2:56 PM
kemarin2 di twit ada yg ngomong, “sudah pernah kamu bayangkan, kamu beli musik legal di itunes tapi trus kamu pergi ke toko nilep sebotol minuman?”
>>>Dihati kecilku juga ini yang menjadi kekhawatiran, Nit. Kejahatan akan semakin meningkat. Orang berbeda-beda daya tahannya dan pemahamannya dalam cara membeli suatu barang, Nit. Mungkin bagi si hemat (Rana kalau dalam keadaan sekarang-sekarang ini, juga akan melakukan tindakan sehemat mungkin untuk meminimalisasi pengeluaran tapi kerjaan tetap kudu jalan terus)ini bukanlah suatu masalah besar. Apalagi yang enggak begitu penting-penting banget untuk mengunduh,membeli, menggunakan software/music/ hal-hal yang sejenisnya itu.
Tetpi untuk mereka yang konsumtif, ya itu, bisa jadi mereka mau menikmati barang mewah dan rela puasa makan dan lalu tetangga yang iri, maling barang mewahnya itu dan lalu terjadi keributan. Atau yang lebih sadis, perebutan kekuasaan wilayah, tanah, pulau, dan lain-lain karena merasa sudah mematenkan wilayah/tanah/pulau itu. Akan ada perang saudara, perang antar negara.
Semakin sulit/ketat peraturan akan berdampak pula pada cara individu menyikapinya.
Amit-amit banget sampai begitu, tapi kalau ACTA resmi disahkan, perekonomian, politik, dan lain-lain, juga akan kena imbasnya.
Aku sih nyantai aja kalau misal produk-produk tertentu yang dilegalkan dan harganya mahal itu akan bangkrut karena jarang yang beli. Meski di beberapa bagian, aku pasti juga akan rada errr dan akan cuma bisa garuk-garuk karena font-font yang kubutuhkan untuk keperluan book cover design misalnya, dipatenkan dan dibandrol harga yang lumayan daripada lumanyun.😀

ninelights
ninelights wrote on Jan 29
onit wrote today at 2:56 PM
bukannya aku gak pernah donlod. tapi kalo peraturan ini sudah dilegalkan, maka aku gak komplain. ya wis. di satu sisi penulis/artis kan butuh makan juga. hasil karyanya dijual kan untuk makan.
>>>Kalau peraturannya enggak jebakan betmen, aku manut, Nit.  Kalau peraturannya jelas, transparan, dan dipikirin masak-masak bukan cuma karena issue A, atau issue B atau kejadian A atau kejadian B, dan lalu ketok palu kalau semua yang begini salah atau semua yang begitu salah, aku manut. Tapi kalau enggak, itu namanya diktaktor dan enggak adil abis.
Peraturan wajib diperjelas, sampai sebatas mana pelanggaran hak cipta itu akan dikenai denda dan atau hukuman pidana.
Kan ora lucu banget kalau misalnya aku nulis sebuah quote “Tanpa krupuk dan sambal, makan makanan mewah enggak lengkap rasanya.” – Dulkoni-, misalnya. Lalu Dulkoni melaporkan bahwa aku telah melanggar hak cipta padahal aku udah mencantumkan sumber siapa yang ngomongin siapa pemilik quote itu.
Apa yang aku langgar? Bahwa ternyata mengutippun ternyata harus mbayar? Dan aku enggak tahu peraturan seperti itu lalu tiba-tiba ditagih denda sekian juta misalnya. Elah. Ini sama aja pemerasan karena aku kena jebakan betmen karena kurangnya penyuluhan tentang batas-batas pelanggaran hak cipta, dan lain-lain.
Begichu, Nit.

fightforfreedom
fightforfreedom wrote on Jan 29, edited on Jan 29
onit said

tapi aku setuju wajib mencantumkan judul lagu/artisnya. gak mau kan kita nulis buku keren, trus besok2 ada yg menceritakan isi buku itu ke orang lain, pasang di yutub, dan gak bilang2 judul & penulis bukunya?

lain kalo ada yg bikin cover lagu utk trus dijual, baru musti bayar royalti ke si pencipta lagu.

mbak Onit, ketika SOPA maupun ACTA ini diberlakukan; ketika seseorang membawakan lagu dan mengunggahnya ke YouTube, tidak cukup hanya dengan menuliskan judul dan nama penyanyi/pencipta aslinya dalam video tsb, meski bukan untuk tujuan komersil. Namun, orang tersebut harus mengajukan ijin secara tertulis kepada pemegang hak cipta. Alasan adanya pengaturan hal ini adalah melindungi pemegang hak cipta agar karyanya dipergunakan dengan sebagaimana mestinya. Saya rasa ini juga wajar, karena tidak semua pemegang hak cipta berkenan ketika lagu karyanya menjadi backsound sebuah video yg mengandung unsur pornografi atau kekerasan dalam sebuah video karya orang yg tidak ia kenal.

Sebagai contoh, ketika ada seorang ABG mengikuti lomba karaoke 17an di kampungnya, ia membawakan salah satu lagunya Celine Dion, dan kemudian setelah acara selesai ia berniat mengunggahnya di Youtube. Maka menurut aturan SOPA dan ACTA ia harus meminta ijin kepada manajemen Celine Dion. Bila hal itu tidak dilakukan maka ia dianggap menyalahgunakan hak cipta, meski dalam video yg diunggah sudah menyertakan judul dan nama penyanyi dan penciptanya. Ia terancam hukuman pidana.

Mestinya aturannya tidak dibuat sekejam itu yaitu HARUS IJIN, cukup diperlunak dg ketentuan bahwa setiap lagu yg ingin dijadikan materi dalam video, dimana bila video tsb mengandung unsur pornografi, kekerasan, politik, dan agama harus meminta ijin penggunaannya pada pemegang hak cipta. Meski nanti juga bakal debatable ttg batasan unsur2 tsb, namun pada intinya seharusnya diperlunak aturannya dalam hal penggunaan hak cipta.

onit
onit wrote on Jan 29

Sebagai contoh, ketika ada seorang ABG mengikuti lomba karaoke 17an di kampungnya, ia membawakan salah satu lagunya Celine Dion, dan kemudian setelah acara selesai ia berniat mengunggahnya di Youtube. Maka menurut aturan SOPA dan ACTA ia harus meminta ijin kepada manajemen Celine Dion. Bila hal itu tidak dilakukan maka ia dianggap menyalahgunakan hak cipta, meski dalam video yg diunggah sudah menyertakan judul dan nama penyanyi dan penciptanya. Ia terancam hukuman pidana.

iya, makanya sudah jelas saya tulis di atas, ini user created content, karena dia yg nyanyi sendiri. saya dukung orang2 melakukan ini selama dia tulis judul dan nama penyanyi dan penciptanya. sehingga, saya tidak setuju jika acta mempermasalahkan ini.

tapi saya tetap tidak dukung mereka yg complain acta cuma karena jadi gak bisa ngunduh lagu/pilem/software gratis lagi. gak punya duit ya gak beli. ini masalah mindset. kalau tau ambil barang tanpa bayar itu ilegal, maka itu juga berlaku pada barang perangkat lunak.

onit
onit wrote on Jan 29

Mestinya aturannya tidak dibuat sekejam itu yaitu HARUS IJIN, cukup diperlunak dg ketentuan bahwa setiap lagu yg ingin dijadikan materi dalam video, dimana bila video tsb mengandung unsur pornografi, kekerasan, politik, dan agama harus meminta ijin penggunaannya pada pemegang hak cipta. Meski nanti juga bakal debatable ttg batasan unsur2 tsb, namun pada intinya seharusnya diperlunak aturannya dalam hal penggunaan hak cipta.

saya setuju jika ada ketidaksukaan pribadi si pemilik lagu terhadap penyalahgunaan lagunya, lebih baik dipasang di user agreement waktu sblm unduh lagu, pengumuman jika anda menggunakan ini utk bla bla bla maka anda akan dituntut tindak pidana (dgn tombol accept seperti sebelum install software).

onit
onit wrote on Jan 29

>>>Kalau peraturannya enggak jebakan betmen, aku manut, Nit.  Kalau peraturannya jelas, transparan, dan dipikirin masak-masak bukan cuma karena issue A, atau issue B atau kejadian A atau kejadian B, dan lalu ketok palu kalau semua yang begini salah atau semua yang begitu salah, aku manut. Tapi kalau enggak, itu namanya diktaktor dan enggak adil abis.
Peraturan wajib diperjelas, sampai sebatas mana pelanggaran hak cipta itu akan dikenai denda dan atau hukuman pidana.
Kan ora lucu banget kalau misalnya aku nulis sebuah quote “Tanpa krupuk dan sambal, makan makanan mewah enggak lengkap rasanya.” – Dulkoni-, misalnya. Lalu Dulkoni melaporkan bahwa aku telah melanggar hak cipta padahal aku udah mencantumkan sumber siapa yang ngomongin siapa pemilik quote itu.
Apa yang aku langgar? Bahwa ternyata mengutippun ternyata harus mbayar? Dan aku enggak tahu peraturan seperti itu lalu tiba-tiba ditagih denda sekian juta misalnya. Elah. Ini sama aja pemerasan karena aku kena jebakan betmen karena kurangnya penyuluhan tentang batas-batas pelanggaran hak cipta, dan lain-lain.
Begichu, Nit.

sepertinya udah jelas ya kalo jebakan betmen macam begini jelas semua orang gak setuju. link reddit.com yg cerita ttg perwakilan belanda di eu, contohnya. juga diskusi2ku dgn mas fightforfreedom, cukup jelas.

onit
onit wrote on Jan 29

Tetapi mungkin untuk radio yang didirikan hanya via streaming yang dapet lagunya dari cara download musik via youtube, TV, radio lain, direcord sendiri, mp3, bakal kena.
Kalau DJ dan televisi, aku enggak tahu. Di televisi juga sering memutar video yang dilabeli ‘courtesy of youtube’. Kalau kena juga, bakal ada banyak televisi Indonesia yang kena juga berarti.

iya, kalo bikin radio streaming tapi pakai lagu gak bayar ya jelas kena lah. ini lebih parah lagi. udah ambil gak bayar, malah disebar2in (walaupun cuma streaming gak bisa diunduh).

tapi setauku radio streaming bayar kok. seperti last.fm & spotify misalnya, karena kita musti bayar langganan (bulanan). kenapa kita harus bayar, krn mereka butuh duit utk biaya perijinan itu.

onit
onit wrote on Jan 29

>>>So Im going to jail because of it? Download tanpa menjual dan hanya untuk keperluan pribadi dan atau disebarkan sebagai ilmu? Well, berarti MARI SEGERA GALAKKAN MENDOWNLOAD E-BOOK gratis sebelum dilegalkan dan bikin gigit kuku, sodara-sodara =))

mindset, na. apakah kalo bukunya berbentuk tidak kasat mata, alias e-book, maka layak diunduh gratis? gak kan? kamu mau bukumu dibaca gratis oleh orang2, sehingga gak ada yg beli? makan dari mana kamu?🙂

orang indonesia pintar2 kok. waktu jaman warnet dirazia aja, trus banyak warnet pake linux kok. sampai skrg ini, distro linux bhs indonesia bernama blankon masih aktif tuh. openoffice bisa menggantikan microsoft office. gimp bisa menggantikan potosop. ilmu2 gratis juga banyak, mulai dari chem-is-try.org, netsains.com, ilmukomputer.org, engineeringtown.com, dongeng geologinya pak rovicky, dll.. banyak. tinggal dibenahi aja itu sistem commenting blogdetik & kompasiana, biar pada hengkang semua dari wordpress & blogspot.

gak usah nunggu pemerintah berubah. jenggotan yen nunggu =)). yg penting mrk gak ikut2an ratifikasi acta. itu langkah pertama. selanjutnya ya.. kita kerjakan tugas kita masing2🙂

ninelights
ninelights wrote on Jan 29
onit wrote today at 6:25 PM
fightforfreedom said
Mestinya aturannya tidak dibuat sekejam itu yaitu HARUS IJIN, cukup diperlunak dg ketentuan bahwa setiap lagu yg ingin dijadikan materi dalam video, dimana bila video tsb mengandung unsur pornografi, kekerasan, politik, dan agama harus meminta ijin penggunaannya pada pemegang hak cipta. Meski nanti juga bakal debatable ttg batasan unsur2 tsb, namun pada intinya seharusnya diperlunak aturannya dalam hal penggunaan hak cipta.
saya setuju jika ada ketidaksukaan pribadi si pemilik lagu terhadap penyalahgunaan lagunya, lebih baik dipasang di user agreement waktu sblm unduh lagu, pengumuman jika anda menggunakan ini utk bla bla bla maka anda akan dituntut tindak pidana (dgn tombol accept seperti sebelum install software).

>>>setujuh!

ninelights
ninelights wrote on Jan 29
onit wrote today at 6:43 PM
ninelights said
>>>So Im going to jail because of it? Download tanpa menjual dan hanya untuk keperluan pribadi dan atau disebarkan sebagai ilmu? Well, berarti MARI SEGERA GALAKKAN MENDOWNLOAD E-BOOK gratis sebelum dilegalkan dan bikin gigit kuku, sodara-sodara =))
mindset, na. apakah kalo bukunya berbentuk tidak kasat mata, alias e-book, maka layak diunduh gratis? gak kan? kamu mau bukumu dibaca gratis oleh orang2, sehingga gak ada yg beli? makan dari mana kamu?🙂

>>aslinya bisa kok e-book diunduh gratis, dan ini melibatkan sponsor, sponsor yang akan membiayai hasil kerja keras kita, dalam kesepakatan dan periode tertentu tentunya.

Ini berkaitan dengan marketing sih. Tapi kalau banyak pihak yang mau melakukan unduh e-book gratis sebanyak-banyaknya ini (dalam periode tertentu), kenapa enggak?🙂

Win win solution juga.🙂

ninelights
ninelights wrote on Jan 29, edited on Jan 29
Ini berkaitan dengan marketing sih. Tapi kalau banyak pihak yang mau melakukan unduh e-book gratis sebanyak-banyaknya ini (dalam periode tertentu), kenapa enggak?🙂

Win win solution juga.🙂

>>>support sponsor,tentunya.

edited: dan proses downloadnya juga ada undang-undangnya juga seperti sebelum install software.🙂

ninelights
ninelights wrote on Jan 29
Btw, pada intinya, Onit, Mas Iwan dan Rana dan yang komen di sini sepakat bahwa ACTA harus digagalkan undang-undangnya. Mereka harus memikirkan ulang, masak-masak, dan enggak gegabah yang akibatnya bisa merugikan banyak pihak, budaya, negara, kebebasan berinternet, berkarya dan berekspresi.

correct?

onit
onit wrote on Jan 29
korek!😉 [ngomong semarangan]

kalo lihat contoh kamu di atas soal sponsor yg membiayai hasil kerja keras pada kesepakatan & periode dll.. itu kan yg disebut “business model”. sedangkan tiap produsen kan punya business modelnya sendiri2. ilegal/tidak kan tergantung business modelnya.

ngutip tulisan ibu belanda lagi:
“it is not the government’s job to preserve certain business models against the forces of the free market”

ninelights
ninelights wrote on Jan 29
onit wrote today at 7:29 PM
korek!😉 [ngomong semarangan]

kalo lihat contoh kamu di atas soal sponsor yg membiayai hasil kerja keras pada kesepakatan & periode dll.. itu kan yg disebut “business model”. sedangkan tiap produsen kan punya business modelnya sendiri2. ilegal/tidak kan tergantung business modelnya.

ngutip tulisan ibu belanda lagi:
“it is not the government’s job to preserve certain business models against the forces of the free market”

>>>SETOEJOE SEKALIE CYIIINNN!

fightforfreedom
fightforfreedom wrote on Jan 29, edited on Jan 29
Komennya mbak Onit dan mbak Rana sangat membangun dan penuh semangat optimisme. Nice discussion🙂

Saya rasa kalo gak ditunggangi kepentingan politik dari para kapitalis, para perwakilan negara itu bisa berpikir dengan jernih. Sampai saat ini, cmmiw, ada 5 negara anggota Uni Eropa yang tidak menandatangani ACTA: Jerman, Belanda, Estonia, Siprus dan Slovakia. We should respect them. Semoga perwakilan2 negara lain menjadi menarik dukungannya untuk ACTA, setelah didemo warganya habis-habisan.

Dan kemudian kalo ingin tetap menerapkan kebijakan anti pemalsuan dan pembajakan produk, semoga tetap mengedepankan semangat win-win solution.

martoart
martoart wrote on Jan 29
Diskusi seperti ini serasa blogging di MP menyenangkan, dan aku jadi ga peduli mo berapa kali MosCon digelar… oops!

moestoain
moestoain wrote on Jan 30
Waduh ketinggalan jaman … baca lagi ahh

edwinlives4ever
edwinlives4ever wrote on Jan 30

Diskusi seperti ini serasa blogging di MP menyenangkan, dan aku jadi ga peduli mo berapa kali MosCon digelar… oops!

Yeah, I know the feeling.

I don’t care anymore whether SBY can sing or not, as long as he leave us alone.

edwinlives4ever
edwinlives4ever wrote on Jan 30

ramarizana
ramarizana wrote on Jan 30
Gak mudheng.
Makin ribet.😦

rirhikyu
rirhikyu wrote on Jan 30
tag dulu, kayaknya berat niy bahasan di komennya

sarahutami
sarahutami wrote on Jan 30
Met kenal Mbak Rana, saya juga gak setuju dengan ACTA ini. Let’s fight against ACTA!

darnia
darnia wrote on Jan 30
Dan kayaknya kalo si ACTA ini lolos, kantor gw bakalan kedatangan FBI lagi
Tahun lalu udah dateng dia dan laptop kita semua dicekin satu-satu😦

dhave29
dhave29 wrote on Jan 30
tak perhatikna..perhatikan…. bagai katak dalam tempurung… hukum mengatur dan melindungi serta membatasi…

onit
onit wrote on Feb 1
ada diskusi2 enak macam gini lagi gak, di lapak mana?
suka baca komen2 orang2 di diskusi2 enak macam gini ^^

 

Artikel terjemahan dan info lain tentang Aware ACTA, bersumber dan sila kunjungi LINK INI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s