[FF] Kami Bisa Menunggu

[FF] Kami Bisa Menunggu Jan 28, ’12 12:36 PM
for everyone
Novel yang kutargetkan harus selesai akhir bulan ini masih sampai di halaman tujuh puluh. Ini tidak mungkin selesai, tapi aku harus terus berusaha. Sekarang jam dua lebih tujuh belas menit siang hari dan aku belum tidur dari kemarin. “Masih ada hari esok, Mayang, istirahatlah,” tegur ibunda. Beberapa minggu terakhir ini aku memang kurang tidur dan kondisi itu cukup memengaruhi kesehatanku. Tetapi aku masih saja tekun mengedit, mengetik, dan membaca ulang hasil tulisanku. Ketika kata ini dan kata itu terasa kurang pas, dua halaman aku babat habis dan memulai cerita baru yang lebih baik. Sayangnya ketika kalimat demi kalimat selesai kukerjakan, aku masih saja merasa tak ada jiwa pada paragrap-paragrap itu. Aku ikuti kata ibunda untuk tidur dan lalu membaca ulang hasil karyaku keesokan harinya.

Seorang teman baik berkata, “kamu punya bakat yang luar biasa dalam tulisan ini tetapi tidak perlu terburu-buru menyelesaikannya kecuali penerbit yang mengejar-ngejarmu.” Aku terdiam sementara aku memang merasa dikejar-kejar waktu. Aku butuh hasil nyata sesegera mungkin untuk membuktikan pada ayahku yang sekarang terbaring di rumah sakit bahwa aku bisa mencari uang dengan caraku sendiri. Aku ingin membuat ke dua orangtuaku tersenyum, aku ingin membuat kakakku bangga denganku karena aku bisa usaha sendiri tanpa harus menggantungkan hidup pada orang lain, dan aku melihat ada peluang untuk bisa segera menerbitkan novelku dengan cepat lewat print on demand.

“Kau tak perlu berusaha sekeras itu, Mayang. Ibu akan selalu mendoakan supaya kamu sukses karena ketekunan dan kerja kerasmu sekarang ini.” Ibuku memegang pipiku. “Tidak perlu terburu-buru begitu. Kami bisa menunggu.”

Ayahku yang terbaring lemah di tempat tidur juga tersenyum padaku, menandakan kebanggaannya terhadapku. Aku menitikkan air mata karena haru. Beberapa menit kemudian saudara jauhku yang sudah tiga tahun tak bertemu, masuk ke ruangan untuk menjenguk ayahandaku dan memulai basa-basinya. “Kok jam segini sudah di rumah sakit buat jagain Bapak? Mayang tidak kerja?”

Aku tersenyum, “kerjanya malam kok, Tante.”
“Oh, kerja apa? Kok malem-malem?”

“Nulis…”

“Walah, mendingan kerja sama aku ajalah, cepet dapet hasilnya. Daripada nulis, kerjaannya bengong sama mimpi aja di rumah…”

“Emang Tante pernah jadi penulis?”

“Ya belum. Tapi setahuku itu milih jadi penulis itu ya sama dengan menganggur karena waktu yang dibuang percuma lebih banyak daripada penghasilan yang didapat.”

Aku menatap ayah dan ibuku, dan kali ini mereka tak lagi menundukkan kepala karena malu dengan perkataan orang-orang tentang statusku. Tetapi entah kenapa, hatiku sangat sakit mendengar itu. Buku ‘proses kreatif: mengapa dan bagaimana saya mengarang’ kuremas sedemikian keras hingga terdengar bunyi ‘krek’. Putrimu…yang belum bisa membungkam mulut orang-orang usil macam mereka lewat cara yang kubisa. Hanya ini yang kubisa, menjadi penulis, bekerja keras siang dan malam bergelut dalam kata, menuai cacian dan pandangan sebelah mata orang-orang, dan tak pernah tahu kapan kesuksesan itu akan datang. Tapi suatu hari nanti pasti akan datang. Pasti datang. Aku hanya tidak tahu kapan. 

Word: 460
Oleh Rana Wijaya Soemadi

11 CommentsChronological   Reverse   Threaded

edwinlives4ever
edwinlives4ever wrote on Jan 28

Tapi setahuku itu milih jadi penulis itu ya sama dengan menganggur karena waktu yang dibuang percuma lebih banyak daripada penghasilan yang didapat.

The answer should be, “Well, Stephen King is rich.”

kaklist
kaklist wrote on Jan 28
mungkin mereka ga kenal stephen king tapi mungkin kenal jk rowling ?🙂

edwinlives4ever
edwinlives4ever wrote on Jan 28
kaklist said

mungkin mereka ga kenal stephen king

KAAAAAFFFFFIIIIIIIIRRRRRRRR!!!

edwinlives4ever
edwinlives4ever wrote on Jan 28
Comment deleted at the request of ACTA.

onit
onit wrote on Jan 28

jadi penulis itu ya sama dengan menganggur karena waktu yang dibuang percuma lebih banyak daripada penghasilan yang didapat.”

ini f.f… tapi tulisan ini bukan khayalanmu toh?
beneran ada org ngomong gitu toh?
idih kalo beneran, speechless…

maklum, di sekolah (kurikulum bhs di negri kita) gak diajari menulis. kecuali yg sma-nya masuk jurusan bahasa.

ninelights
ninelights wrote on Jan 28

The answer should be, “Well, Stephen King is rich.”

Ah, ini cocok untuk ff selanjutnya, Mas Edwin. FF penuh kenyinyiran. huehuehue.

Suwun.🙂

ninelights
ninelights wrote on Jan 28
kaklist said

mungkin mereka ga kenal stephen king tapi mungkin kenal jk rowling ?🙂

😀

ninelights
ninelights wrote on Jan 28

KAAAAAFFFFFIIIIIIIIRRRRRRRR!!!

😀

Kalo niat njelasin sih bisa kok, kak List. Tunggu FF selanjutnya! #JENGJENG

*abis itu ffnya isinya kacrut,beuh – -“*

ninelights
ninelights wrote on Jan 28
onit said

ini f.f… tapi tulisan ini bukan khayalanmu toh?
beneran ada org ngomong gitu toh?
idih kalo beneran, speechless…

😀

tintin1868
tintin1868 wrote on Jan 28
mmhh kaya bukan ff..
pernah temenku diomong gitu juga.. penulis = penganggur.. buang waktu doang.. tapi dia udah bikin beberapa buku ebook tuh.. lumayan..

nawhi
nawhi wrote on Jan 30
ini kayak kisah nyata….*sotoy*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s