Marie’s is for Trainee

Marie’s is for Trainee May 2, ’12 10:52 AM
for everyone

Jadi, selama hampir seminggu kemarin saya melakukan proses melukis lagi, dan lukisannya kali ini untuk diseriusi. Namun sebelum proses itu terjadi, saya sudah bertanya terlebih dahulu kepada para kurator, pengamat seni, dan orang-orang yang sebelumnya pernah memiliki pengalaman dalam bidang ini untuk memberikan sedikit guide list soal apa saja yang perlu saya persiapkan. Lalu setelah mendengarkan saran mereka dan terutama beliau (seorang kawan, lebih tepatnya guru ‘spiritual’ saya ini sihXD), saya kemudian datang ke sebuah lembaga kebudayaan untuk menanyakan soal sewa tempat dan menanyakan apa saja bentuk dukungan mereka jika saya akan mengadakan pameran lukisan di tempat tersebut, survei lokasi pembelian material melukis yang bisa memberikan saya pilihan untuk menekan biaya agar lebih murah, dan membeli satu kanvas berukuran 45 cm x 45 cm, alat melukis, agar hasilnya nanti bisa untuk saya presentasikan kepada seorang pengamat seni tersebut.

Saya sama sekali belum memiliki pengalaman soal melukis ini, jadi saya membeli alat lukis, cat, kanvas, berdasar pengetahuan saya yang terbatas dan juga kantong yang terbatas (hahahahaha), dan modal bakat saya yang sangat suka mengilustrasi gambar sedari kecil.

Jadi setelah proses ini

Didiamkan sehari lalu mulaimelukis lagi

Didiamkan sehari lagi lalu mulai melukis lagi

Jadilah ini.

 

 

Sebenar-benarnya, dari dulu saya berkeyakinan bahwa ilustrasi dan seni melukis itu tidak ada yang jelek, karena yang menurutku, atau orang awam itu, jelek, eh malah laku berjuta-juta kali lipat di luar sana. So?😄

Jadi, bagaimana karya ‘jelek’ itu bisa laku dan lain sebagainya dan agar aku tahu soal tetek bengek pameran lukisan, inilah peran guru ‘spiritual’ saat saya diminta untuk membuat lukisan dulu sebelum kemudian dia akan mengamati, menilai, menjabarkan, dan membagikan pengetahuan yang sebelumnya tidak pernah diketahui oleh awam seperti saya.

Ya, namanya sudah ahli ya, Bok. Itu lukisan dilihatnya dengan baik, dimiringkan sebentar, diendus bau catnya, dan diteliti teksturnya, penempatan warnanya, dan gradasi apa dan bagaimana yang membuat lukisan itu akhirnya memang harus banyak sekali diperbaiki.

Mendadak saja saya merasa amat sangat kayak arena ilmu yang beliau tuturkan itu … LUAR BIASA. Beneran. Saya merasa menjadi manusia paling eruntung didunia karena bisa kenal dan bertemu dengan orang seperti beliau.

Guru ‘spiritual’ saya ini kemudian menunjukkan juga ilmu-ilmu asic yang wajib saya ketahui dan saya gunakan di kemudian hari. Bagaimana cara memilih kanvasnya, membentuk gradasi warna, menyeimbangkan bentuk karakter agar tidak terkesan catat untuk orang lain yang melihatnya, sampai dengan pertanyaan ini,

“Nana, kamu pakai cat minyak apa (merek cat minyaknya) untuk melukis ini?”

Marie’s, Pak.”

“Oh, pantes. Marie’s itu untuk anak-anak yang baru latihan (melukis), Na.”

Ha? Berasa anak TK yang asal pegang crayon njuk main coret-coret aja di kertas. Hahahahahahaha

“Iya.” Beliau ketawa lihat ekspresi saya. “Ya, gakpapa. Dulu saya pas belajar juga pakai cat ini kok. Namanya juga lagi belajar. Habis itu saya pake Astro buatan Surabaya, cat itu kualitasnya malah lebih bagus dibandingkan dengan Marie’s, Na. Tidak mudah luntur, dan warnanya itu, luar biasa. Atau merek (saya lupa dia menyebutkan merek apa), tapi lebih mahal. Dan memang kalau kamu memutuskan untuk melukis di kanvas dengan cat minyak, modalnya itu besar loh, Na. Besar.”

Saya manggut-manggut sambil merenung.

“Bahwa yang perlu diketahui adalah, seni melukis itu tidak harus melulu soal kanvas dan cat minyak. Terlepas dari persoalan bahwa dengan melukis di kanvas dengan cat minyak akan bertahan sampai ratusan tahun. Namun menurut saya, kamu tidak perlu mengkhawatirkan soal itu. Nggak usah terlalu dipikirkan, Na, yang masalah seperti itu. Yang penting kamu berkarya saja sebanyak-banyaknya dengan media yang kamu bisa, yang kamu kuasai. Kamu melukis dan menggambar di kertas dan lalu dipigura dan lalu dipamerkan. Kamu tinggal harus mencari kertas yang baik, yang kualitasnya juga baik, dan lebih murah dibandingkan dengan kanvas.”

Saya kaya.

“Kalau misalkan kamu tetap ingin melukis di kanvas, yang perlu kamu ketahui bahwa seniman-seniman yang sudah professional lebih menggunakan arcilyc. Itu lebih cepat kering. Jadi kamu tidak perlu menunggu sehari untuk mulai melukis lagi.”

Sumpah, obrolan kemarin siang itu sungguh, aduh … aduh sekali. Di sela-sela obrolan itu pun beliau meminta saya untuk merenungkan apa tujuan saya untuk melukis ini (dan dia tidak meminta jawaban saya, dia meminta saya untuk merenungkan perkataan beliau ini baik-baik), karena seperti menulis, prosesnya itu panjang, dan dana yang dikeluarkan juga tidak sedikit. “Di awal-awal mulai, ini (hal melukis ini, biayanya) akan memakan kamu. Tapi nanti, seni itu yang akan memakan kamu.” Maksudnya adalah, sekarang, itu memang perjuangannya akan sangat sangat berat sekali, bahkan kamu akan keluar banyak dana dengan keuntungan yang sedikit sekali. Tetapi pada suatu hari nanti, ketika orang-orang sudah banyak yang mengenalku dan eksistensiku sebagai pelukis diakui di mana-mana, aku bisa survive hanya dari hasil menjual lukisanku itu.🙂

 

“Jadi yang perlu banyak-banyak kamu lakukan sekarang adalah sketch dulu sebanyak-banyaknya. Nanti saya bantu melihat karakter apa yang pas untuk kamu. Arahnya akan ke mana nanti. Itu, anak IKJ saja, dimintai menyeketch 500 gambar oleh dosennya, itu juga yang disetujui sama dosennya.” Aku ngakak. Set dah. 500.

“Jadi, saya harus menyeketch berapa nih, Pak?”

“Sebanyak-banyaknya saja.”Dia tersenyum.

 

HAKUH-KAYA-SEKALI.

SIAPA SIH YANG MENOLAK TAWARAN BELAJAR MELUKIS DAN ILUSTRASI GRATIS TANPA BAYAR DAN AKAN DIPANDU OLEH ORANG-ORANG ATAU DOSEN-DOSEN SERUPA ORANG IKJ GITU, BOK? AU DIKENALIN SAMA ORANG-ORANG YANG KOMPETEN LEWAT GURU ‘SPIRITUAL’SAYA ITU PADA SAATNYA NANTI, BOK?

 

Sungguh aku merasa sangat kaya sekali. Terlebih beliau juga mengajak saya berdiskusi soal karya tulis saya itu. Beliau adalah salah satu kritikus Fleur juga, yang tajam. Bagaimana tidak, dengan ikhlasnya beliau sampai meneliti satu per satu kalimat, tanda baca, sampai dengan kata penghubung yang menurut dia ‘tidak pantas’ untuk dikasih tanda baca ‘titik’ dan perbandingan referensi bacaan dan lain-lain sampai akhirnya, “Nana yang baik, aku sudah sangat kelelahan dengan banyak kesalahan di dalam novelmu makanya aku hanya sanggup membaca seperempat dari total seluruh halamanmu. Mohon Maaf.”

Waktu bertemu kemarin itu, beliau apologize soal kegamblangan beliau dalam mengutarakan pendapat soal novelku itu. Beliau bahkan sering bilang “jangan patah semangat karena ini” disela-sela kami berdiskusi. Saya kemudian katakana pada beliau, “Pak, kalau saya patah semangat dan sakit hati akibat sakit hati saya pada komentar Bapak waktu itu, sekarang, saya enggak akan mau bertemu dengan bapak lagi.”

Dan beliau tersenyum. Mbuh mikirin apa. Huehuehuehe.

 

Ini di word aku udah sampai ke halaman tiga loh ini menceritakan ini. Haduh. Pokoknya pengalaman yang sangat luar biasa, dan yes, aku akan mulai menyeketch gambar. Set. 500. Mungkin 100 dulu aja kali yah.

Seep! Cemangat menggapai cita-cita!

HOSH ITAKURE TEBAYOOO!

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s