Patah Hati yang Tertunda

May 26, ’12 12:19 AM
for Rana’s contacts

Kau tahu ini disebut apa? Patah hati yang tertunda. Seakan ada pemain saxophone bergelanyut di daun jendela yang terbuka, lalu meniup benda itu lamat-lamat demi mengiringi perasaanmu yang sedang tak menentu tatkala kau tanpa sadar memikirkan dia yang kemungkinan hanya memikirkanmu saat dia memang harus memikirkanmu saja.

 

Memang. Memikirkan sebuah pemikiran bahwa dia akan memiliki pikiran tentang pikirannya yang akan memikirkanmu saat dia memang harus memikirkanmu saja,itu bukanlah hal baik. Tapi itu bukanlah hal yang buruk juga karena … setidaknya … kau tidak terlalu berharap banyak pada dia yang kemungkinan besar tidak mungkin memikirkanmu. Bukan karena minder. Tapi dengan meramalkan pemikirannya itu kamu akan bisa mengerti bahwa tidak akan mungkin dirimu berharap seorang Johnny Depp akan bisa mengingat namamu, membayangkan wajahmu, dan berharap besok dia akan bisa bertemu denganmu lagi, sebelum dia beranjak untuk tidur dan lalu bangun keesokan harinya.

 

Tetapi persoalan patah hati yang tertunda ini tidak berhenti begitu saja tatkala kau telah benar-benar tahu bahwa dia memang hanya harus memikirkanmu saat memang diwajibkan untuk memikirkanmu. Seakan, seluruh pemandangan yang kau lihat hanya ada nama dan wajahnya semata. Yakin. Ini pula yang dirasakan banyak orang ketika mereka sedang terserang perasaan ini. Anehnya, tak ada yang berusaha mencari obatnya ketika virus ini masih bisa disembuhkan karena umurnya masih terlalu dini. Lalu ketika virus ini meresap masuk ke perasaanmu dan berbutir-butir obat tak sanggup menolong sakitnya hatimu, kamu bahkan membenci dirimu sendiri selama berbulan-bulan. Dan, itu menyakitkan. Sangat.

 

“Apa ada kemungkinan begitu? Apa itu mungkin? Dia jatuh cinta? Padaku?” tanyamu pada salah seorang teman baikmu. Hari itu matahari terik. Namun sebagian awan di atas sana berwarna kelabu. Kemungkinan nanti malam hujan turun sangat lebat.

 

“Kemungkinan itu pasti ada, Ros,” jelasnya menenangkan. “Dari kebiasaan itu, tanpa sadar kalian berdua telah saling jatuh cinta.”

 

“Oh, ya?” Kamu berbunga-bunga untuk sekian detik. Setelah itu kamu menginjak bumi lagi. “Dan bagaimana jika pemikiranmu salah? Bagaimana jika semua ini salah?”

 

Dia tersenyum lagi. “Bukankah itu sudah resiko?”

 

Kamu diam. Sampai langit begitu terburu-buru mengeluarkan air hujan sehingga bumi basah seketika dan lebat, kamu masih tetap diam.

 

Patah hati yang tertunda ini begitu terasa menyesakkan. Kamu kadang-kadang juga memikirkan sebuah pemikiran lain tentang patah hati yang tertunda ini. Bahwa kemungkinan penundaan patah hati itu sebenarnya bukanlah penundaan. Melainkan ada lubang-lubang kecil tak kasat mata yang pelan-pelan menganga dan membuatmu tanpa sadar benar-benar dalam nuansa patah hati yang sebenarnya. Kamu telah patah hati sebelum diharuskan untuk merasakan patah hati.

 

Ini adalah perasaan yang aneh. Orang yang memikirkanmu bahkan tidak pernah tahu bahwa sebelumnya kamu telah melewati tahapan patah hati yang tertunda. Dan ketika tiba-tiba saja kau tak ada di sisinya karena kau sibuk mengobati luka, dia mendadak saja mencari-carimu. Entahlah dengan orang lain. Tapi kejadian seperti ini menjadikan luka yang masih basah, jadi semakin basah saja dan sakitnya minta ampun. Kenapa ketika berniat pergi, dia malah mendekat? Kenapa ketika berniat melupakan, dia malah mengingat-ingat? Kenapa ketika berniat menyembuhkan diri sendiri, kamu dipaksa untuk juga menghadapi kenyataan bahwa bagaimanapun dan sejauh apapun kamu berlari, dia akan tetap ada di sampingmu, di sekitarmu, melihatmu menjalani kehidupan yang kemungkinan akan sedikit keluar dari jalur yang seharusnya?

 

Lalu waktu berlalu. Kesukaanmu pada lagu cinta masih tak berubah. Tanganmu masih terampil melukis dan menerima pesanan gambar. Kebiasaanmu memasukkan gula pada teh hijau di pagi hari saat sarapan, masihlah sama. Langit cerah. Tak ada patah hati yang tertunda. Hanya dinding-dinding yang penuh sketsa wajah-wajah, lukisan dengan bau cat minyak khas, tumpukan buku gambar, dan tanganmu yang mengingat detail mata, rambut, dan senyumnya yang masih tak bisa kau lupa, sampai saat ini.

 

 

Kotatua kedinginan, 26 Mei 2012

Rana Wijaya Soemadi

11 CommentsChronological   Reverse   Threaded

ayanapunya
ayanapunya wrote on May 26
patah hati yang tertunda..istilah yang unik🙂

tintin1868
tintin1868 wrote on May 26
patahati pake tertunda.. kayanya pernah punya rasa kaya gitu.. insting dulu..

jampang
jampang wrote on May 26
tertunda…. berarti… agak beruntung🙂

rhehanluvly
rhehanluvly wrote on May 26
Duh selalu suka pemilihan kata-kata punya mbk rana

bambangpriantono
bambangpriantono wrote on May 26
Galau detected

ninelights
ninelights wrote on May 26

patah hati yang tertunda..istilah yang unik🙂

hwehwe. Ma’acih, kakak!

ninelights
ninelights wrote on May 26

patahati pake tertunda..

Kesuksesan aja pake acara ketunda juga kok.Kenapa patah hati enggak? huehue

ninelights
ninelights wrote on May 26
jampang said

tertunda…. berarti… agak beruntung🙂

iya. Delay. Bisa ‘ngapa-ngapain’ dulu. :-p

ninelights
ninelights wrote on May 26

Duh selalu suka pemilihan kata-kata punya mbk rana

wah … makasih, Hani. Kebetulan udah bisa ngetik di mana-mana, jadi pas dapat inspirasi langsung tancap gas dan jadi.🙂

ninelights
ninelights wrote on May 26

Galau detected

Macacih galau? :-p

saturindu
saturindu wrote on May 26
tertunda?
delay donk…
‘kek pesawat aja’ hueheuheueheu

itu berarti rana masih berharap, sehingga menunda2 patah hatinya.

atau, ibaratnya mau jatuh, rana masih menunda2…karena masih menyiapkan landasan yang empuk, biar jatuhnya gak berasa sakit wkwkwkw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s