Extra Mile*

Aug 5, ’12 5:06 AM
for Rana’s contacts

Beberapa malam yang lalu, saya berdiskusi dengan seorang teman baik mengenai penerbitan buku di Indonesia ini. Bukan secara luas sampai ke mana-mana, tentu saja. Hanya perbandingan mengenai seberapa menantangnya jika buku itu nanti akhirnya memilih diterbitkan sendiri atau melewati sebuah proses panjang yang kemudian tayang di penerbitan konvensional seperti Gramedia, Grasindo, Bentang dan lain sebagainya. Teman baik saya ini ingin memilih jalur ‘proses panjang’. Meski memang memakan waktu, tetapi justru itu tantangannya. Ibarat kompetisi menulis, bisa lolos dan lalu berada di tangan editor dan akhirnya terbit, itu adalah nilai tersendiri buat beliau. Saya pun setuju dengan pendapatnya. Selain itu, diterbitkan di penerbitan konvensional, peluang untuk dibaca oleh banyak kalangan sampai ke seluruh Indonesia, prosentasenya jauh lebih besar dibandingkan dengan self publishing.

 

Lalu kenapa saya tetap memilih ber-selfpublishing-ria?

 

Jawaban yang sebenar-benarnya, ini semua adalah persoalan pilihan. Bisa diterbitkan di penerbit konvensional dan akhirnya dicetak serempak sekian ribu eksemplar lalu masuk dan dipajang di toko-toko buku merupakan impian saya sejak lama. Sekitar hampir setahun yang lalu sebenarnya saya dibukakan pintu untuk cita-cita tersebut. Karena saran seorang teman baik lainnya saya kemudian mengirimkan novel Fleur saya ke penerbit tersebut dan menunggu hasilnya. Awalnya saya memang kurang berminat untuk melakukan itu. Bukan karena saya menyerah. Tetapi melihat tipe penerbitnya, saya kurang yakin kalau tema novel saya akan cocok dengan mereka. Saya girang bukan kepalang saat suatu hari kemudian akhirnya ditelepon penerbit konvensional tersebut dan lalu dilanjutkan via email. Namun setelah sekian kali berbalas surat elektronik, saya kemudian diminta untuk menulis cerita sesuai dengan keinginan mereka, yang lebih ‘sederhana’, yang tidak ‘terlalu rumit’. Mungkin mereka benar bahwa novel Fleur saya memang masih banyak yang harus diperbaiki di sana sini (kalau perlu memang dirombak total dari depan sampai belakang which is reborn, new version of Fleur), tetapi untuk menjalani proses menulis yang tidak saya nikmati, I prefer to say no to them. Semoga saya tidak dinilai sombong karena telah menolak tiket masuk untuk diterbitkan secara konvensional dengan jalan ‘yang lebih mudah’ dari kebanyakan yang lain. Saya hanya tidak ingin berkarya karena dikasihani dan lalu mendapatkan banyak uang tetapi tangan dan pikiran dikontrol tanpa saya memiliki kuasa penuh atas karya-karya saya. Itu sama saja saya akan menjalani cerita lama cuma dengan versi yang berbeda.

Saya menolaknya…

 

‘Bad thing’

Secara kasat mata, memilih menerbitkan buku secara self publishing itu mudah. Semua orang bisa menerbitkan karyanya tanpa perlu ‘perjuangan yang panjang’. Dan itu betul. Bahkan tak perlu menunggu satu bulan, jika kita memiliki kemampuan  yang cukup (untuk menghemat biaya pra publishing), karya kita akan cepat sekali terbit. Namun tentu saja, proses untuk pra publishing, publishing, promoting, akan dilakukan secara ekstra keras oleh si self publishing itu sendiri. Persoalan lain, jangkauan pemasarannya juga masih terbatas dan belum bisa menyebar ke seluruh Indonesia.  Di lain sisi, seleksi alamlah yang menentukan apakah karya kita itu layak atau tidak di mata masyarakat.

 

Namun bukan berarti penerbit konvensional tak luput dari kelemahan. Tanpa bermaksud merendahkan kualitas penerbit konvensional pada umumnya, hanya melihat, mendengar, merasakan, menyaksikan kenyataan yang terjadi, in fact, tak semua buku yang diterbitkan penerbit konvensional itu bagus. Tentu definisi dari bagus itu macam-macam di setiap kepala. Bagi B yang sakit hati karena persoalan karya si A tidak lebih bagus dari B tapi ternyata A bisa dengan lancar diterbitkan oleh penerbit konvensional tersebut akan bisa membuat si B dengan mudah mengukur bahwa buku A jelek dibandingkan dengan teman-teman lain yang ‘tidak merasakannya’. Namun yang harus diketahui secara lebih mendalam adalah penerbit konvensional itu selalu berkaitan dengan banyak orang di belakang layar, banyak urusan dengan percetakan besar, toko buku, target market, dan lain-lain. Maka salah satu yang membuat buku A-yang katanya jelek itu- pun bisa lolos adalah persoalan bahwa ternyata buku A diprediksikan akan lebih laku dan menjual di pasaran dibandingkan dengan B. Pahit? But that’s the fact and that’s named as business.

 

‘Good thing’

Namun disisi lain, kenyataan tersebut di atas bukanlah mutlak 100% benar-benar ‘semenyakitkan’ itu. Ada karya bagus yang memang diakui bagus di dunia sastra dan layak untuk menembus penerbit konvensional dan kemudian terkenal di mana-mana sampai ke dunia internasional, yaitu Andrea Hirata dengan Laskar Pelanginya. Dan ada karya sederhana yang memilih tema cinta dan memilih diterbitkan secara self publishing, tapi sukses di pasaran sampai kemudian penerbit konvensional juga meliriknya, yaitu Amank dengan Long Distance Relationship-nya.Dan yang tak luput dari perhatian saya soal mereka berdua adalah faktor keberuntungan.

Bukan sebuah aib untuk menjadi orang yang beruntung, tentu saja. Semua orang juga menginginkan sebuah keberuntungan dalam hidupnya. Namun kadang makna keberuntungan kebanyakan dinilai terlalu sempit dan disematkan hanya berdasarkan yang terlihat oleh sebatas mata saja, tidak tahu bagaimana orang beruntung itu menjalani perjalanan yang cukup berat di masa sebelumnya.

 

But, well… that’s life … Saat ada satu orang terlihat bersinar, sinar itu memantul, bahkan bisa jadi membuat yang memandangnya silau hingga yang tersisa hanya ingatan akan sinarnya yang terpancar saja … baik itu yang baik … atau buruk.

Kembali ke persoalan penerbitan,

mau diterbitkan secara konvensional dan self publishing, seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, yang sebenar-benarnya hanyalah persoalan pilihan. Masing-masing memiliki resiko dan seleksi alamnya, tetapi juga masing-masing memiliki potensi dan kesempatan yang sama besar. Dan perlu dicatat juga, tidak selamanya penerbit konvensional dan self publishing adalah musuh bebuyutan yang tidak membutuhkan satu sama lain. That’s wrong. Karena faktanya kedua cara penerbitan tersebut sama-sama memasuki dunia bisnis yang memerlukan pemikiran dan perhitungan yang tak main-main dan saling membutuhkan satu sama lain dalam perjalanannya sekarang ini.

 

Saya?

Tentu saya masih terlalu dini untuk berteori ini dan itu soal dunia penerbitan ini. Jejak prestasi juga tak terlalu istimewa dibanding yang lain. Saya hanya memilih untuk menerbitkan karya-karya ini lewat jalur lain yang mungkin orang lain malas atau mungkin orang lain menyayangkan saya untuk melakukannya. Saya hanya mencoba menciptakan peluang dan kesempatan sendiri (sehingga suatu saat nanti saya mampu memberikan kesempatan juga kepada orang lain), dan menempuh jalan dengan medan tinggi dan curam secara bersamaan, yang saya tahu itu berat, but I choose to commit with it.

 

Semua keputusan selalu ada resikonya, tentu saja. Tetapi kalau sudah siap dan sudah tahu bagaimana harus menjalaninya, just do it, make it happens or seperti kata seorang teman, die trying. Teorinya begitu …

*merenges*

Puft.

Sounds scary, isn’t it?

 

Saya juga takut, kadang-kadang, membayangkan semua itu … dan, sebenarnya, saya memang takut.

 

But … Bismillah … and let’s just do the extra mile …

Allah, guide me.

Allah, bless me.

Aamiin.

 

Salam

-Rana Wijaya Soemadi

 

 

ket: * diambil dari kata-kata “We need to give extra efforts and go to the extra mile” halaman 198 dari buku Dream Catcher karya Alanda Kariza.

 

 

20 CommentsChronological   Reverse   Threaded

rhehanluvly
rhehanluvly wrote on Aug 5
Tidak semua penerbit konvensional memiliki seleksi alam yg bagus, mereka kadang bertindak sesuai keinginan pasar begitupun self publishing, tidak semua self oublishing tidak memiliki kontrol mutu atas karya-karya yg diterbitkan

rhehanluvly
rhehanluvly wrote on Aug 5
Btw seneng deh tulisan mbak rana udah optimis lagi, penuh motivasi, peace, love and gawl

kaklist
kaklist wrote on Aug 5
mendaki gunung untuk melihat sunrise🙂

edwinlives4ever
edwinlives4ever wrote on Aug 5
Mark Twain, Godfrey Chaucer, Shakespeare, Ezra Pond, J. Fenimoore Cooper, Edgar Alan Poe, George Bernard Shaw, and many others, they all had their turns in self-publishing. As long as it’s not vanity-publishing, self publishing is as good as any other method.

edwinlives4ever
edwinlives4ever wrote on Aug 5
These days, big publishing companies are eyeing the self-published books closely. When they find any they consider good and potentially selling, they approach the author and offer their adoption of the work. Eragon is one example, How To Understand Israel In 60 Days Or Less is another.

ummuyusuf24
ummuyusuf24 wrote on Aug 5
semangat semangat semangat

ninelights
ninelights wrote on Aug 5

Tidak semua penerbit konvensional memiliki seleksi alam yg bagus, mereka kadang bertindak sesuai keinginan pasar begitupun self publishing, tidak semua self oublishing tidak memiliki kontrol mutu atas karya-karya yg diterbitkan

eh-hum, Hani🙂

ninelights
ninelights wrote on Aug 5

Btw seneng deh tulisan mbak rana udah optimis lagi, penuh motivasi, peace, love and gawl

aduh, jangan dipuji gini, nanti galaunya kumat lagi :))))

ninelights
ninelights wrote on Aug 5
kaklist said

mendaki gunung untuk melihat sunrise🙂

hu-uh…

someday.🙂

ninelights
ninelights wrote on Aug 5

Mark Twain, Godfrey Chaucer, Shakespeare, Ezra Pond, J. Fenimoore Cooper, Edgar Alan Poe, George Bernard Shaw, and many others, they all had their turns in self-publishing. As long as it’s not vanity-publishing, self publishing is as good as any other method.

siyap!🙂
Dan aku harus belajar dari orang-orang yang memutuskan self publishing dari nama-nama yang dikau sebutkan itu.

HOSH!

ninelights
ninelights wrote on Aug 5

These days, big publishing companies are eyeing the self-published books closely. When they find any they consider good and potentially selling, they approach the author and offer their adoption of the work. Eragon is one example, How To Understand Israel In 60 Days Or Less is another.

dan itu juga yang terjadi di Long Distance Relationship Aman K. Melihat potensi followernya yang terus bertambah, dua penerbit sekaligus langsung nengok ke dia…

ninelights
ninelights wrote on Aug 5

semangat semangat semangat

iya iya iya
hehehe
🙂

m4s0k3
m4s0k3 wrote on Aug 5

Btw seneng deh tulisan mbak rana udah optimis lagi, penuh motivasi, peace, love and gawl

:)) bener, Han. seneng doi udah gak galau lagi

*ngacir*

tintin1868
tintin1868 wrote on Aug 5
menerbit itu soal selera ya.. padahal blom tentu selera pasar sama selera penulisnya..
jadi teringat kisah JK Rowling yang berjuang dengan HP-nya..

semangat rana.. jangan pantang penyerah ya.. be positive think..

ninelights
ninelights wrote on Aug 5
m4s0k3 said

:)) bener, Han. seneng doi udah gak galau lagi

*ngacir*

hehehehehe

darnia
darnia wrote on Aug 6
khirnya ditelepon penerbit konvensional tersebut dan lalu dilanjutkan via email. Namun setelah sekian kali berbalas surat elektronik, saya kemudian diminta untuk menulis cerita sesuai dengan keinginan mereka, yang lebih ‘sederhana’, yang tidak ‘terlalu rumit’.<– gw juga diminta gitu, Na. Naskah komik gw 200 halaman, disuruh revisi pake cerita mereka. Langsung deh “adios”

darnia
darnia wrote on Aug 6
entah kenapa, feelingku aja nih..
Nana bakalan “membangun pondasi” kokoh pake penerbit Indie ini. Soalnya Nana sudah “bergerilya” di socmed. Jangan remenhkan socmed lho. Kayaknya jika suatu hari, karyamu ada yang masuk ke penerbit major, minimal udah ada yang “ngeh”..ooh..ini Rana yang itu..😉

Besarkan namamu dulu di ranah yang sekarang kamu tekuni. Kayaknya better gitu, Na. Kalo ngeliat penerbit major satu itu, tiap minggu nelorin buku baru berpuluh judul, di sisi lain, tiap bulan juga mengosongkan gudang untuk diobral, penerbit indie bisa jadi pilihan “aman”

ninelights
ninelights wrote on Aug 6

menerbit itu soal selera ya.. padahal blom tentu selera pasar sama selera penulisnya..
jadi teringat kisah JK Rowling yang berjuang dengan HP-nya..

semangat rana.. jangan pantang penyerah ya.. be positive think..

Kebanyakan, penerbit konvensional bisa survive karena memang ‘mengikuti’ selera pasar, Mbak. Tapi tentu, tidak semua begitu dan tetap survive juga…

Makasih, Mbak Tin. I will…:)

ninelights
ninelights wrote on Aug 6
darnia said

gw juga diminta gitu, Na. Naskah komik gw 200 halaman, disuruh revisi pake cerita mereka. Langsung deh “adios”

super Blah.

ninelights
ninelights wrote on Aug 6
darnia said

disuruh revisi pake cerita mereka.

Jadi dalam arti kata lain, penerbitlah yang sebenarnya menentukan selera pasar yah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s