Good Omens

Adalah Crowley, si setan tampan, penyuka mobil klasik, pecinta musik dari band legendaris, Queen, yang sebal kalau dia sedang tidak keren yang memiliki intensitas pertemuan cukup sering dengan Aziraphale, si malaikat kutu buku, penganalisis masalah yang hebat tetapi mudah sekali tersentuh hatinya hingga sering tak enak hati jika akan melakukan/memutuskan/mengutarakan sesuatu, telah diutus oleh Para Penguasa masing-masing (Surga dan Neraka) untuk mengurus Armageddon yang akan terjadi sebentar lagi.

Sebenarnya, tanpa diketahui oleh pihak Surga dan Neraka, Aziraphale dan Crowley adalah teman akrab (Atau bisa dibilang sahabat baik) yang sering melakukan diskusi terhadap apa yang sedang dan akan dilakukan oleh Para Penguasa terhadap dunia ini, termasuk di dalamnya adalah diskusi mengenai kelahiran Anti-Kristus, seorang anak yang berpotensi untuk menjadi Iblis dan bisa juga tumbuh menjadi malaikat, tergantung bagaimana dia nanti dibesarkan. Kelahiran Anti-Kristus ini juga berkaitan erat dengan Armageddon, kiamat di dunia yang akan terjadi pada hari Sabtu, persis sebelum saat makan malam, yang nantinya bumi akan mulai porak poranda, ikan-ikan berterbangan dan jatuh dari langit, dan balatentara Baik (Surga) dan Jahat(Neraka) akan berkumpul di sebuah tempat. Ramalan itu telah ditulis secara akurat oleh Agnes Nutter si penyihir di buku ramalannya yang ditulis pada tahun 1655 berjudul, The Nice and Accurate Prophecies of Agnes Nutter Witch

Salah satu hal yang membuat saya kagum dari Good Omens ini adalah karangan berjumlah 518 halaman ini ditulis oleh dua pengarang. Pasti bukan perkara yang mudah untuk menyamakan ritme cerita, menyisipkan intonasi kelucuan yang tercipta di satu kalimat atau satu paragraph atau minimal satu halaman novel itu agar dari satu halaman ke halaman lainnya tetap tidak berubah. Lalu kemudian sama-sama bekerja keras membuat keterkejutan dan lalu diajak melancong dulu ke mana-mana untuk melupakan sejenak masalah kiamat dengan menceritakan remeh temeh yang juga lucu dan lalu diajak kembali lagi dengan kekacauan yang cantik.

Di Good Omens itu saya favorit dengan adegan saat para balatentara, baik yang memihak surga atau pun neraka, para peramal, dan pemburu penyihir, merasa tersesat dan menanyakan sebuah tempat kepada satu orang yang sama yaitu R.P. Tyler. Apalagi ketika si Tayler ini akhirnya bertemu dengan si Crowley, si setan tampan yang melintas dengan mobil yang sudah tak berbentuk mobil.

Dia mengendus. Ada yang terbakar-ada bau tidak enak, seperti logam dan karet dan kulit yang hangus.

Permisi, kata suara di belakangnya. R.P Tyler berbalik.

Ada mobil besar yang dulunya berwarna hitam di jalan. Mobil itu sedang terbakar dan seorang pria berkaca mata hitam menjulurkan tubuh dari salah satu jendela dan berbicara dari sela-sela kepulan asap, Maaf, saya tersesat. Bisakah Anda menunjukkan jalan ke Pangkalan Udara Lower Tadfield? Saya tahu lokasinya pasti di dekat-dekat sini.

Mobilmu sedang terbakar.

Tidak. Tyler tak sanggup mengatakannya. Maksudku, orang ini pasti juga tahu itu, kan? Dia sedang duduk di tengah-tengahnya. Mungkin ini semacam lelucon.

Jadi akhirnya dia hanya berkata, Saya rasa Anda salah membelok satu kilometer yang lalu. Ada rambu jalan yang tumbang.

Orang tak dikenal itu tersenyum. Pasti itu penyebabnya, katanya. Kobaran api jingga yang menjilat-jilat di bawahnya membuatnya tampak seperti setan.

Angin berembus ke arah Tyler dari belakang mobil itu, dan dia merasakan alisnya menjadi garing.

Maaf, anak muda, tapi mobilmu sedang terbakar dan kau duduk di dalamnya, dan omong-omong, beberapa bagian mobilmu tampak merah membara.
(halaman 435-436)

Dan ya, sebagai penyuka kalimat panjang juga:-p yang sepertinya masih harus banyak belajar, sumpah-harus-banyak-banyak-belajar XD- Neil dan Terry mencontohkan kalimat atau bahkan dialog yang panjang sampai hampir satu halaman tapi pembaca tetap merasa bahwa kalimat itu masihlah pendek. Atau memang sengaja panjang, tapi tetap mampu bikin ngakak seperti ini:

Lalu kecintaannya untuk memberikan instruksi, akan mengambil alih. Kalian harus kembali ke jalan itu, terus sampai setengah mil, lalu belokan pertama ke kiri, tapi jalannya memang sudah rusak sekali. Sayangnya, saya sudah berkali-kali menulis surat ke dewan kota tentang itu, saya bilang, kalian ini pegawai negeri atau penguasa negeri, itu yang saya tanyakan kepada mereka, karena bagaimanapun juga, siapa sih yang membayar gaji kalian? Lalu belokan kedua ke kanan, tapi sebetulnya bukan ke kanan, sebetulnya ke kiri, hanya saja kalian akan melihat jalan itu akhirnya memutar sampai ke kanan, di penunjuk jalan tercantum Porrits Lame, tapi tentu saja namanya bukan Porrits Lane, kalian lihat saja peta ordnance survey, kalian akan lihat, itu sebenarnya hanya ujung timur Forest Hill Lane, kalian akan tiba di desa, lalu kalian lewati Bull and Fiddle-itu public house- lalu begitu kalian mencapai gereja (aku sudah memberitahu orang-orang yang menyusun peta rdance survey bahwa itu gereja dengan spire, tugu-tugu lancip, bukan gereja dengan menara, aku bahkan sudah menulis surat kepada Tadfield Advertiser, mengusulkan agar mereka mengadakan kampanye setempat untuk mengoreksi peta, dan aku sangat berharap bahwa begitu orang-orang ini sadar siapa yang mereka hadapi, sikap mereka pasti langsung berputar balik) lalu kalian akan tiba di persimpangan jalan, setelah itu kalian lurus saja menyeberangi persimpangan itu, dan kalian akan langsung tiba di persimpangan kedua, dari sana kalian bisa mengambil cabang jalan yang ke kiri atau lurus, tidak masalah yang mana, karena kalian akan tetap tiba di pangkalan udara (meskipun cabang kiri lebih dekat hampir sepersepuluh kilometer), tak mungkin terlewat.

Kelaparan menatapnya sambil melongo. Aku, anu, aku tidak yakin aku bisa ingat, dia mulai berbcara.

AKU HAFAL. AYO KITA JALAN.
(halaman 429-430)

Dan yang tak kalah menarik adalah, footnote-nya yang sering berisi hal tak penting dan sekaligus MENYESATKAN. :))

Well Kemungkinan mereka berdua memang sudah terlahir lucu. Hanya, mungkin karena saya termasuk penggemar dari Neil Gaiman, jadi sewaktu saya membaca novel tersebut (dengan penuh perjuangan, selembar demi selembar, dan lalu tertidur, lalu selembar lagi, sampai sekian bulan-karena-segala-macam-deadline-rumah rubuh-pindahan rumah-de-el-el😄 *sungkem sama Dani*) saya hampir lupa dengan Terry yang hei, ternyata juga ikut andil dalam proses Good Omens ini ya XD*

Sempat bermain tebak-tebak buah manggis, siapa yang mendalami karakter Crowley, dan siapa yang mendalami karakter Aziraphale, tapi entah kenapa saya tetap yakin mereka berdua ini dikarang oleh satu orang yang sama, dan pengennya sih si Neil.XD Tapi entah. Karena menurut saya, salah satu karakter kuat yang keren ya mereka berdua itu, terlepas dari karakter-karakter lain yang sumpah banyak, dan tak kalah lucu. Hanya memang pembaca seperti saya harus mau membolak-balik halaman demi menguatkan ingatan kembali akan sosok-sosok baru itu.

Sebenarnya selain Crowley dan Aziraphale, ada juga tokoh Adam, si antikristus, yang digadang-gadang Para Penguasa untuk menciptakan hari kiamat pada hari sabtu itu. Cerita tentang Adam ini memang sudah mulai dikenalkan dari awalawal Bab, bahkan sampai menjadi diskusi seru antara Crowley dan Aziraphale. Hanya saja, meskipun kemudian Adam mendapat berlembar-lembar halaman cerita yang mengkisahkan dirinya dengan teman-temannya dan perubahan sikapnya yang mendadak menjadi bukan dirinya, saya merasa seharusnya dia bukanlah yang get a spot menjadi tokoh utama, karena sesungguhnya karakter yang kuat di Good Omens ini adalah si Crowley dan Aziraphale.

Jadi, untuk ending, saya merasa kurang ada gregetnya meski si penulis sudah mencoba menuturkan semenarik yang dia mampu. But, overall, well done. Penerjemahnya sendiri sudah sukses menceritakan kembali apa yang Neil Gaiman dan Terry Pratchett ingin sampaikan kepada pembaca.

Recommended Book.🙂

Terima
kasih untuk Darnia, atas kesempatan memilih dan akhirnya mendapatkan buku Good Omens yang kaya inspirasi ini.🙂

Data Buku:

Judul Buku: Good Omens
Penulis: Neil Gaiman & Terry Pratchett
Penerjemah: Lulu Wijaya
Tebal: 518 halaman
Terbit: Cetakan 1, April 2010
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

16 thoughts on “Good Omens

  1. darnia

    huahahhaha…baca repiu ini jadi pengen baca ulang XDaku paling inget omongan Adam pas nanya sama “mereka” :”Kenapa namanya belalang sembah? Mereka itu menyembah apa sih?” Pertanyaan lugu, konyol, super gak penting, tapi…itu normal😄

    Like

  2. ninelights

    darnia wrote today at 9:45 AMhuahahhaha…baca repiu ini jadi pengen baca ulang XD>>>eh, Dan. Waktu proses membacanya ini aku malah kepikiran untuk mempelajari, meneliti, dan membedah kalimat,dialog,bab demi bab dari Good Omens satu per satu, karena saking merasa ajaibnya dengan itu. Ingin tahu dia menggunakan majas apa saja, mana yang kalimat satir, terus analisis karakter, alur, dll. Berasa-kok-iso-yo-ono-wong-sing-iso-ngawe-sampek-koyok-ngene-iki :))

    Like

  3. darnia

    ninelights said: Waktu proses membacanya ini aku malah kepikiran untuk mempelajari, meneliti, dan membedah kalimat,dialog,bab demi bab dari Good Omens satu per satu, karena saking merasa ajaibnya dengan itu.

    hahaha ngerti banget, Na…aku pas baca aja sempat kok mikir, ini orang kok bisa sih bikin dialog macem ini.Lompat sana, lompat sini. Kalimatnya random tapi nggak rusak, yang — in the end — fokusnya bisa balik lagi ke kisah utama.*di sisi ini, aku malah merasa beruntung jadi pembaca, soale ndak bakalan sesetres para penulis yang mikir kayak gitu :D*– diulek trus dicocol sambel karo Nana —

    Like

  4. ninelights

    ninelights said: Waktu proses membacanya ini aku malah kepikiran untuk mempelajari, meneliti, dan membedah kalimat,dialog,bab demi bab dari Good Omens satu per satu, karena saking merasa ajaibnya dengan itu.

    darnia wrote today at 9:45 AMaku paling inget omongan Adam pas nanya sama “mereka” :”Kenapa namanya belalang sembah? Mereka itu menyembah apa sih?”Pertanyaan lugu, konyol, super gak penting, tapi…itu normal XD>>>IYO. HAHAHAHAHAHAHA. Dan si pengarang juga sukses membikin ngakak dengan mendiskripsikan si anjing, si asistennya Adam itu, seolah-olah si anjing itu punya perasaan bahwa aku ini sebenarnya gahar dan seram tapi kenapa sih aku harus nyari tulang, lompat sana lompat sini, sok imut dan menjulur-julurkan lidah untuk memuaskan hati manusia lain, eh, ternyata tuh Anjing menikmati juga perannya seperti itu dan sedikit merasa ‘puft’ ketika sudah tiba saatnya untuk mengurusi kiamat.:))

    Like

  5. ninelights

    ninelights said: @Mbak Tin: Enggak, Mbak. Mirip ya sama Rana Wijaya?😄

    darnia wrote today at 10:58 AMhahaha ngerti banget, Na…aku pas baca aja sempat kok mikir, ini orang kok bisa sih bikin dialog macem ini.Lompat sana, lompat sini. Kalimatnya random tapi nggak rusak, yang — in the end — fokusnya bisa balik lagi ke kisah utama.>>IYA. MEREKA INI MEMANG MANUSIA AJAIB. :))*jadi tambah tresno marang akang Neil* *uh!Oh!* *cuekin Terry* :))*di sisi ini, aku malah merasa beruntung jadi pembaca, soale ndak bakalan sesetres para penulis yang mikir kayak gitu :D*– diulek trus dicocol sambel karo Nana –>>>hahahahaha.Ahhhh…yang sutriskan mereka, Dan, bukan saiyah. hahahahaha. Etapi kukira si Neil dan Terry ini amat sangat fun dan enggak ada beban untuk menyelesaikan hampir semua BAB di Good Omens. Hanya memang endingnya yang kukira aura, intensitas ngakak, keterkejutan, dll, anti klimak.

    Like

  6. ninelights

    ninelights said: @Mbak Tin: Enggak, Mbak. Mirip ya sama Rana Wijaya?😄

    @Dani: Oh, ya. Dan di episode saat Adam dan teman-temannya sedang bermain dan lalu bosan dan lalu berdiskusi, dan salah seorang teman agak jiper sewaktu si Adam mulai kelihatan menyeramkan, itu … itu … Ihhh … aduh gitu …Sesuatu sekali pokoknya.Good Omens kaya banget.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s