Kakek

Jul 10, ’12 1:31 PM
for everyone

Soemadi adalah nama pena yang kuambil dari nama belakang kakekku. Meskipun semasa hidupnya terkenal otoriter dan keras kepala, selalu ada sisi baik yang kulihat dari beliau sehingga aku sangat menyayanginya.

 

Sebelum Om meninggal (anak bungsu kakekku dan adik kandung ibuku), kakekku adalah orang yang ‘tidak bisa diam’ dan ‘ceria’. Tetapi yang membuatku benar-benar melihat binar matanya yang ceria adalah ketika dia melihat cucu-cucunya datang ke rumahnya, makan satu meja dengannya, duduk satu ruangan menonton teve bersamanya, atau tidur dalam satu kamar bersamanya, seolah masalah orang dewasa tak lagi penting untuk dipikirkan. Aku adalah salah satu dari deretan cucu-cucunya yang suka melakukan itu. Mungkin ini karena keterbatasan ruang di rumahku yang lama yang hanya bisa menempatkan meja makan tanpa bangku, aku merasa sangat suka bila makan di tempat kakek dan nenekku.

Menyenangkan melihat kakek mengajakku untuk duduk bersama menemaninya. Beliau akan selalu duduk di kursi yang terhimpit dengan dinding ruangan, membalikkan piring khusus untuknya yang tengkurap di hadapannya, menawarkan makanan ini atau makanan itu kepadaku dan lalu memintaku untuk menuangkan makanan ini atau makanan itu ke atas piringnya lalu kami akan makan dalam diam, dan sesekali akan mengobrol untuk menanyakan satu atau dua hal yang kebanyakan untuk menanyakan kabarku. Sewaktu aku kecil, aku juga ingat kalau beliau pernah mengantarku sampai ke rumah dengan naik bis hanya berdua saja. Aku dan kakekku. Kendal-Kudus. Kurasa, selain karena beliau memang pernah mengalami masa perang yang membuatnya harus berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya, aku kira beliau juga seorang traveller.

Aku juga yang paling suka tidur satu kamar dengan kakek. Meski tidak dalam satu tempat tidur, tapi satu ruangan yang dibatasi oleh lemari. Kakek yang di atas, aku yang tidur di bawah, dekat dengan dinding, hanya beralaskan tikar atau kasur tipis, lalu tidur sampai bangun keesokan paginya. Bila masih kurang tidur (aku orang yang paling kesulitan untuk tidur kalau malam meski sudah berusaha memejamkan mata), aku akan bangun dan dengan segera mengambil tempat tidur kakek dan kakek akan membiarkanku smapai aku terbangun sendiri.

Setelah Om tak ada, kakek menjadi lebih pendiam dan bertambah kadar emosi dan temperamennya. Aku yakin itu karena rasa kehilangan beliau yang teramat besar karena anak bungsunya (juga anak, om,pakde kesayangan seluruh keluarga besar) mendahului pergi untuk selamanya. Rasa kehilangan itu pula yang membuat kesehatan kakekku semakin menurun dan memburuk.

 

Setelah kakek tak ada, suatu kali saat aku sedang mencoba mencari inspirasi untuk menulis novel keduaku (yang mana belum bisa diterbitkan sampai sekarang karena harus direvisi dan dirombak hampir 80% XD) di depan rumah, di bawah tratak untuk acara tahlilan kakekku, omku (anak keempat kakek, adik ke dua ibu) bercerita kalau kakek juga seorang penulis. Aku terkejut. Om cerita kalau dulu dia menemukan satu koper penuh dengan buku-buku dengan tulisan-tulisan kakek. Seperti novel dengan tokoh utamanya adalah si kakek. Aku terkesima, terus terang, mendengar semua itu. Bahkan saat aku menceritakan ulang kisah itu pada ibuku, ibuku sendiri tidak tahu kalau kakek ternyata seorang yang rajin menulis. Sayangnya, setelah berkali-kali diperbaiki dan orang datang dan pergi dari rumah kakek dan nenek, buku-buku itu hilang entah ke mana. Lewat omku, aku juga jadi tahu kalau kesukaanku menggambar itu juga sedikit menurun dari omku yang bungsu (yang telah tak ada itu). Bedanya, beliau berdua (kakek dan omku) tidak menekuninya dan memilih mendalami ilmu ekonomi/akuntansi, aku, mungkin cucu satu-satunya yang sangat keras kepala, manja, pemberontak, menyebalkan, ngeyelan, berbeda dan memilih untuk menekuni dan mendalami dan ups dan downs untuk itu, untuk menulis dan menggambar.

 

Lucu rasanya kalau suatu saat nanti aku membuat sebuah cerita dan lalu aku berkhayal kalau aku kemudian duduk dalam satu meja makan lagi bersama kakekku dan omku. Aku lalu berkata kepada mereka, “Apakah kalian bisa melihatnya? Aku berhasil … Aku berhasil …”

Dan mereka berdua lalu tersenyum bahagia, bahagia sekali.

 

 

Betapa menyenangkan.

22 CommentsChronological   Reverse   Threaded

rasikiniin wrote on Jul 10
Nyimak….

ninelights wrote on Jul 10

Nyimak….

silakan…:)

darnia wrote on Jul 10
Apakah karena figur Kakek Soemadi yang begitu berpengaruh pada masa kecilmu, makanya sket-mu banyak menggambarkan lelaki dan perempuan sepuh, Na?

— kepo, nanging sak jane gak penting —😀

ninelights wrote on Jul 10, edited on Jul 10
darnia said

Apakah karena figur Kakek Soemadi yang begitu berpengaruh pada masa kecilmu, makanya sket-mu banyak menggambarkan lelaki dan perempuan sepuh, Na?

iya.🙂
aku suka mereka, dan aku suka masa (menjadi anak) kecil.🙂

rhehanluvly wrote on Jul 10
jadi kangen kakek nenek

ninelights wrote on Jul 10

jadi kangen kakek nenek

iya…
aku juga …

jampang wrote on Jul 10
pilihlah sesuai hati nurani🙂

ninelights wrote on Jul 10
jampang said

pilihlah sesuai hati nurani🙂

cobloslah sesuai kata hati.
*iklanpilkada DKI mode on*

fightforfreedom wrote on Jul 10
Ini yg coming soon itu ya.. for the second novel.

Oiya, edisi graphic novelitu sudah terbit belum ya? soalnya saya belum pesen juga untuk novel yg pertama.

ninelights wrote on Jul 10

Ini yg coming soon itu ya.. for the second novel.

Ini cerita kakekku beneran, Mas Iwan.🙂
Untuk yang coming soon itu tunggu publish resminya yah. Kapannya? Tar ada kok.:)

ninelights wrote on Jul 10

Oiya, edisi graphic novelitu sudah terbit belum ya? soalnya saya belum pesen juga untuk novel yg pertama.

Untuk graphic novel yang novel pertama+novel pertama, I’ll let you know kalau buku itu nanti udah fixed dan mau dipublish (lagi) njih, Mas.🙂
Terima kasih banyak sebelumnya.🙂

sicantikdysca wrote on Jul 10
ntah kenapa baca jurnal ini bikin mata berkaca2.. jadi ingat kakekku juga🙂

ninelights wrote on Jul 10

ntah kenapa baca jurnal ini bikin mata berkaca2.. jadi ingat kakekku juga🙂

Iya …
🙂

kaklist wrote on Jul 10
🙂

lafatah wrote on Jul 10
Mbak, romantisme masa lalu sampeyan tak urung bikin saya mengenang kakek juga. Yang meninggal waktu saya kelas 4 Madrasah. Sayang beliau…. Sayang…

🙂

Apalagi secara fisik, saya dan kakek sering diidentikkan. Sama-sama kurus tinggi🙂

onit wrote on Jul 10

berkhayal kalau aku kemudian duduk dalam satu meja makan lagi bersama kakekku dan omku. Aku lalu berkata kepada mereka, “Apakah kalian bisa melihatnya? Aku berhasil … Aku berhasil …”

bisa kan🙂

moestoain wrote on Jul 10
Semoga sukses..

ninelights wrote on Jul 11
kaklist said

🙂

🙂

ninelights wrote on Jul 11
lafatah said

Mbak, romantisme masa lalu sampeyan tak urung bikin saya mengenang kakek juga. Yang meninggal waktu saya kelas 4 Madrasah. Sayang beliau…. Sayang…

🙂

Apalagi secara fisik, saya dan kakek sering diidentikkan. Sama-sama kurus tinggi🙂

Turut berduka cita yah, Fatah …
Fatah pasti jadi cucu kesayangan yah.🙂

ninelights wrote on Jul 11
onit said

bisa kan🙂

Baik secara kiasan dan tulisan, Insya Allah.🙂

ninelights wrote on Jul 11

Semoga sukses..

terima kasih …🙂

tintin1868 wrote on Jul 11
pasti kakekmu dan ommu sedang melihatmu dari “sana”.. bahagia..
Kakek Jul 10, ’12 1:31 PM
for everyone

Soemadi adalah nama pena yang kuambil dari nama belakang kakekku. Meskipun semasa hidupnya terkenal otoriter dan keras kepala, selalu ada sisi baik yang kulihat dari beliau sehingga aku sangat menyayanginya.

Sebelum Om meninggal (anak bungsu kakekku dan adik kandung ibuku), kakekku adalah orang yang ‘tidak bisa diam’ dan ‘ceria’. Tetapi yang membuatku benar-benar melihat binar matanya yang ceria adalah ketika dia melihat cucu-cucunya datang ke rumahnya, makan satu meja dengannya, duduk satu ruangan menonton teve bersamanya, atau tidur dalam satu kamar bersamanya, seolah masalah orang dewasa tak lagi penting untuk dipikirkan. Aku adalah salah satu dari deretan cucu-cucunya yang suka melakukan itu. Mungkin ini karena keterbatasan ruang di rumahku yang lama yang hanya bisa menempatkan meja makan tanpa bangku, aku merasa sangat suka bila makan di tempat kakek dan nenekku.

Menyenangkan melihat kakek mengajakku untuk duduk bersama menemaninya. Beliau akan selalu duduk di kursi yang terhimpit dengan dinding ruangan, membalikkan piring khusus untuknya yang tengkurap di hadapannya, menawarkan makanan ini atau makanan itu kepadaku dan lalu memintaku untuk menuangkan makanan ini atau makanan itu ke atas piringnya lalu kami akan makan dalam diam, dan sesekali akan mengobrol untuk menanyakan satu atau dua hal yang kebanyakan untuk menanyakan kabarku. Sewaktu aku kecil, aku juga ingat kalau beliau pernah mengantarku sampai ke rumah dengan naik bis hanya berdua saja. Aku dan kakekku. Kendal-Kudus. Kurasa, selain karena beliau memang pernah mengalami masa perang yang membuatnya harus berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya, aku kira beliau juga seorang traveller.

Aku juga yang paling suka tidur satu kamar dengan kakek. Meski tidak dalam satu tempat tidur, tapi satu ruangan yang dibatasi oleh lemari. Kakek yang di atas, aku yang tidur di bawah, dekat dengan dinding, hanya beralaskan tikar atau kasur tipis, lalu tidur sampai bangun keesokan paginya. Bila masih kurang tidur (aku orang yang paling kesulitan untuk tidur kalau malam meski sudah berusaha memejamkan mata), aku akan bangun dan dengan segera mengambil tempat tidur kakek dan kakek akan membiarkanku smapai aku terbangun sendiri.

Setelah Om tak ada, kakek menjadi lebih pendiam dan bertambah kadar emosi dan temperamennya. Aku yakin itu karena rasa kehilangan beliau yang teramat besar karena anak bungsunya (juga anak, om,pakde kesayangan seluruh keluarga besar) mendahului pergi untuk selamanya. Rasa kehilangan itu pula yang membuat kesehatan kakekku semakin menurun dan memburuk.

Setelah kakek tak ada, suatu kali saat aku sedang mencoba mencari inspirasi untuk menulis novel keduaku (yang mana belum bisa diterbitkan sampai sekarang karena harus direvisi dan dirombak hampir 80% XD) di depan rumah, di bawah tratak untuk acara tahlilan kakekku, omku (anak keempat kakek, adik ke dua ibu) bercerita kalau kakek juga seorang penulis. Aku terkejut. Om cerita kalau dulu dia menemukan satu koper penuh dengan buku-buku dengan tulisan-tulisan kakek. Seperti novel dengan tokoh utamanya adalah si kakek. Aku terkesima, terus terang, mendengar semua itu. Bahkan saat aku menceritakan ulang kisah itu pada ibuku, ibuku sendiri tidak tahu kalau kakek ternyata seorang yang rajin menulis. Sayangnya, setelah berkali-kali diperbaiki dan orang datang dan pergi dari rumah kakek dan nenek, buku-buku itu hilang entah ke mana. Lewat omku, aku juga jadi tahu kalau kesukaanku menggambar itu juga sedikit menurun dari omku yang bungsu (yang telah tak ada itu). Bedanya, beliau berdua (kakek dan omku) tidak menekuninya dan memilih mendalami ilmu ekonomi/akuntansi, aku, mungkin cucu satu-satunya yang sangat keras kepala, manja, pemberontak, menyebalkan, ngeyelan, berbeda dan memilih untuk menekuni dan mendalami dan ups dan downs untuk itu, untuk menulis dan menggambar.

Lucu rasanya kalau suatu saat nanti aku membuat sebuah cerita dan lalu aku berkhayal kalau aku kemudian duduk dalam satu meja makan lagi bersama kakekku dan omku. Aku lalu berkata kepada mereka, “Apakah kalian bisa melihatnya? Aku berhasil … Aku berhasil …”

Dan mereka berdua lalu tersenyum bahagia, bahagia sekali.

Betapa menyenangkan.

reply edit delete
Sponsored Links

Hi-Def Video – Upgrade to Multiply Premium

* Your photos & videos as large as possible for all your friends and family * Your video in HD (up to 1080p) * Automated backup and permanent storage * Ad-free browsing..

Shop at the Multiply Marketplace

Low Prices on Shoes, Jewelry, Clothing, Food, Accessories, T-Shirts, Electronics and much more. Safe Shopping from friendly, trusted sellers. Great deals on local items.
22 CommentsChronological   Reverse   Threaded
delete reply
rasikiniin wrote on Jul 10
Nyimak….
edit delete reply
ninelights wrote on Jul 10

Nyimak….

silakan…:)
delete reply
darnia wrote on Jul 10
Apakah karena figur Kakek Soemadi yang begitu berpengaruh pada masa kecilmu, makanya sket-mu banyak menggambarkan lelaki dan perempuan sepuh, Na?

— kepo, nanging sak jane gak penting —😀

edit delete reply
ninelights wrote on Jul 10, edited on Jul 10
darnia said

Apakah karena figur Kakek Soemadi yang begitu berpengaruh pada masa kecilmu, makanya sket-mu banyak menggambarkan lelaki dan perempuan sepuh, Na?

iya.🙂
aku suka mereka, dan aku suka masa (menjadi anak) kecil.🙂
delete reply
rhehanluvly wrote on Jul 10
jadi kangen kakek nenek
edit delete reply
ninelights wrote on Jul 10

jadi kangen kakek nenek

iya…
aku juga …
delete reply
jampang wrote on Jul 10
pilihlah sesuai hati nurani🙂
edit delete reply
ninelights wrote on Jul 10
jampang said

pilihlah sesuai hati nurani🙂

cobloslah sesuai kata hati.
*iklanpilkada DKI mode on*
delete reply
fightforfreedom wrote on Jul 10
Ini yg coming soon itu ya.. for the second novel.

Oiya, edisi graphic novelitu sudah terbit belum ya? soalnya saya belum pesen juga untuk novel yg pertama.

edit delete reply
ninelights wrote on Jul 10

Ini yg coming soon itu ya.. for the second novel.

Ini cerita kakekku beneran, Mas Iwan.🙂
Untuk yang coming soon itu tunggu publish resminya yah. Kapannya? Tar ada kok.:)
edit delete reply
ninelights wrote on Jul 10

Oiya, edisi graphic novelitu sudah terbit belum ya? soalnya saya belum pesen juga untuk novel yg pertama.

Untuk graphic novel yang novel pertama+novel pertama, I’ll let you know kalau buku itu nanti udah fixed dan mau dipublish (lagi) njih, Mas.🙂
Terima kasih banyak sebelumnya.🙂
delete reply
sicantikdysca wrote on Jul 10
ntah kenapa baca jurnal ini bikin mata berkaca2.. jadi ingat kakekku juga🙂
edit delete reply
ninelights wrote on Jul 10

ntah kenapa baca jurnal ini bikin mata berkaca2.. jadi ingat kakekku juga🙂

Iya …
🙂
delete reply
kaklist wrote on Jul 10
🙂
delete reply
lafatah wrote on Jul 10
Mbak, romantisme masa lalu sampeyan tak urung bikin saya mengenang kakek juga. Yang meninggal waktu saya kelas 4 Madrasah. Sayang beliau…. Sayang…

🙂

Apalagi secara fisik, saya dan kakek sering diidentikkan. Sama-sama kurus tinggi🙂

delete reply
onit wrote on Jul 10

berkhayal kalau aku kemudian duduk dalam satu meja makan lagi bersama kakekku dan omku. Aku lalu berkata kepada mereka, “Apakah kalian bisa melihatnya? Aku berhasil … Aku berhasil …”

bisa kan🙂
delete reply
moestoain wrote on Jul 10
Semoga sukses..
edit delete reply
ninelights wrote on Jul 11
kaklist said

🙂

🙂
edit delete reply
ninelights wrote on Jul 11
lafatah said

Mbak, romantisme masa lalu sampeyan tak urung bikin saya mengenang kakek juga. Yang meninggal waktu saya kelas 4 Madrasah. Sayang beliau…. Sayang…

🙂

Apalagi secara fisik, saya dan kakek sering diidentikkan. Sama-sama kurus tinggi🙂

Turut berduka cita yah, Fatah …
Fatah pasti jadi cucu kesayangan yah.🙂

edit delete reply
ninelights wrote on Jul 11
onit said

bisa kan🙂

Baik secara kiasan dan tulisan, Insya Allah.🙂
edit delete reply
ninelights wrote on Jul 11

Semoga sukses..

terima kasih …🙂
delete reply
tintin1868 wrote on Jul 11
pasti kakekmu dan ommu sedang melihatmu dari “sana”.. bahagia..

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s