Meniti Jejak LASKAR PELANGI

Tuhan menakdirkan orang-orang tertentu untuk memiliki hati yang terang agar dapat memberi pencerahan pada sekelilingnya.
Dan di malam yang tua dulu ketika Copernicus dan Lucretius duduk di samping Lintang, ketika angka-angka dan huruf menjelma menjadi
kunang-kunang yang berkelap-kelip, saat itu Tuhan menyemaikan biji
zarah kecerdasan, zarah yang jatuh dari langit dan
menghantam kening Lintang..

Pada episode Langit Ketujuh aku sudah terkagum-kagum pada sosoknya. Lintang namanya. Dia adalah satu dari sepuluh murid lain yang menghuni SD Muhammadiyah, sebuah sekolah swadaya di perkampungan Belitong daerah Sumatera. Bersama ke-sembilan teman lainnya yang sudah bertahun-tahun berguru dan bergurau bersama dengan pendidik yang tetap sabar dan selalu memberikan rasa suka cita dan pengabdiannya pada mereka dari seorang guru bernama Bu Mus, kelompok Laskar Pelangi ini dengan tekad yang luar biasa membuktikan pada diri sendiri, membuktikan pada kebanyakan orangtua mereka yang mulanya memilih untuk menjadi pekerja mencari uang, membuktikan pada sekolah-sekolah yang notabene bergelar center of excellence,

Bahwa benih-benih kecerdasan juga tersimpan di sudut kampung para buruh, pekerja kasar, pemeras sabut kelapa, para anak yang hanya memakai sepatu kelobokan atau dengan rambut terbakar merah karena bersedia dengan tekad luar biasa, bersepeda puluhan kilo meter untuk tetap bisa bersekolah setiap hari!

Aku juga menemukan sosok Mahar dalam kesyahduan dan bakat seninya yang luar biasa. Dalam sikap diamnya dia menyeimbangi tokoh Lintang yang bergejolak hampir menyamai Albert Einstein. Belum tuntas kumembaca buku yang masih mengundang rasa penasaran ini ketika kemudian aku kembali ke masa dimana aku sudah melupakan rumus matematika yang telah dengan susah payah membangun bangsa ini. Akupun telah tak sudi menyentuh trigonometri atau rumus sinus sekalipun saat mata pelajaran itu mulai berada di depan mataku. Dan kemudian aku malu pada anak pedalaman yang memiliki pemikiran jauh melebihi mahasiswa, yang dengan susah payah belajar merangkai kata dan makna, sedang diriku yang langsung menutup buku berilmu dengan lampu gegap gempita di sudut kamar.

Akupun malu pada sosok-sosok lain dalam kesederhanaan pemikiran mereka. Dengan ketaatan mereka. Dengan kemampuan mereka untuk tetap bisa meraih pendidikan dengan layak, agar mampu menegakkan pondasi bernama kecerdasan dengan kesederhanaan.

Buku ini memberikan ruang rupa keberagamaan makna dan saripati ilmu, yang mungkin belum kujangkau sampai sejauh itu..

~maap atuh para pembaca sekalian..lagi hang..mawut pisan referensinya!~

17 thoughts on “Meniti Jejak LASKAR PELANGI

  1. ninelights

    bigayah said: awut-awutan?? Bohong BANGET! Coba deh baca review si mbak ini… Beuh! Gak kebayang apa yang dia bahas… hihihihihi

    hehehe..berarti emang mawut sangat kan reviewku..hehehe..biarin aja deh..biar pada pusing semua..biar berbagi pusing juga..hehehehehe

    Like

  2. alexast

    bigayah said: awut-awutan?? Bohong BANGET! Coba deh baca review si mbak ini… Beuh! Gak kebayang apa yang dia bahas… hihihihihi

    gue udah baca buku ini, dan ada beberapa bagian yang agak aneh… overall, this is a good book. but still, i prefer, Dewi lestari “Dee”‘s writing

    Like

  3. ninelights

    alexast said: gue udah baca buku ini, dan ada beberapa bagian yang agak aneh… overall, this is a good book. but still, i prefer, Dewi lestari “Dee”‘s writing

    Bagian yang mana, Bang..?hm..mungkin karena alurnya yang agak lambat..?atau pemaparannya yang dituturkan dengan bahasa orang dewasa dan penuh dengan filosofi kehidupan..?*jahh!ngomong apa aku..hehehe*

    Like

  4. ninelights

    harblue said: daku menunggu…..*jari-jari tangan mengetuk-ngetuk meja*

    bang..jujur mo curhat colongan, bang..kemarin sudah nawaitu banget nonton film ini bang..beban pertama karena salah kirim sms*melirik yang ngerasa, hehehe*, beban kedua, karena saya sudah mempreview bukunya..tapi maaf bang..ternyata saya kehabisan tiketnya dan kalopun dapet yang paling depan sendiri..*emang mo check sound ama mata?!!*ampun bang..ampun..

    Like

  5. alexast

    ninelights said: Bagian yang mana, Bang..?hm..mungkin karena alurnya yang agak lambat..?atau pemaparannya yang dituturkan dengan bahasa orang dewasa dan penuh dengan filosofi kehidupan..?*jahh!ngomong apa aku..hehehe*

    yang buat aku aneh tuh bagian mereka kok bisa tau lagu lagu klasik dan lagu lagu jaman dulu yang bahkan anak jaman sekarang aja ngga pada tau, sementara mereka itu kan terbelakang banget.. terbelakang disini maksudnya tuh daerahnya. dan Akses untuk mendapatkan or mendengarkan lagu sementara satu satunya yang mereka punya cuma radio butut yang cuma putar musik keroncong.. so the question : mereka itu tau dari mana musik musik barat jadul dan klasik?

    Like

  6. ninelights

    alexast said: mereka itu tau dari mana musik musik barat jadul dan klasik?

    Mungkin ada ya yang terlahir sperti Mahar, yang dipandang sebelah mata tentang jiwa seninya..yang dicela dan dianggap angin lalu oleh orang lain karena teramat eksotisnya pemikirannya tentang alam dan suara..hm..btw, Mas Alex..namanya juga novel dewasa..kalo anak-anak, wah, udah kena serangan demam dadakan pas baca halaman pertamanya..!hehehehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s