Seminggu Sebelum Lebaran

Seminggu sebelum lebaran, ibuku sakit. Seperti flu kasep. Dada terasa sakit ketika mencoba menarik napas, suhu tubuh tinggi, badan sakit semua, dan kepala pusing. Dulu aku juga menderita ini. Rasanya memang sakit. Tapi biasanya kalau ‘tidak terlalu parah’ aku usahakan untuk tidak memberitahukan pada siapa-siapa😀. Namun kondisi tubuh setiap orang tentu berbeda-beda. Maka, ibuku sering semi mejerit kesakitan. Jadi kalau ada tetangga kebetulan lewat, ibuku seperti habis kena pukul atau dikerasin sama orang rumah, padahal tidak. Hehe. Mulanya, ibu sangat susah untuk dibujuk kompres atau pun pergi ke dokter. Namun berkat rayuan maut si kakak dan kakak ipar, ibuku akhirnya mau juga pergi ke dokter.

Lalu dua hari sebelum lebaran, ketika kakak dan kakak ipar sudah di Madiun, pagi hari, suhu tubuh ibu berangsur membaik, meski panasnya masih, tapi sudah turun. Tapi sorenya parah lagi. Sudah dibujuk untuk membatalkan puasa, seperti jawaban sebelumnya terhadap si kakak, ibuku bilang “lalu siapa yang nanti akan ganti nyaur (utang puasaku)?” Aku khawatir, tentu saja. Apalagi malam menjelang lebaran, suhu ibu sampai 39, 7 derajat. Kudidihkan air panas dan kukompres ibu berkali-kali. Cukup senang karena ibu sudah ‘nurut’ untuk diam di tempat. Biasanya, meski pun sakit, beliau tidak bisa diam. Selalu ada saja alasan beliau soal pekerjaan ini dan itu yang membuatku akhirnya jadi ‘cuek’ (karena malas berdebat yang ujungnya ibu selalu ‘benar’ dan ‘tidak bisa diganggu gugat’) Sering berasa jadi anak yang tidak berbakti. Jadi pagi-pagi sebelum ibuku sempat memegang benda apa pun, aku sudah tangani duluan. Tumpukan piring kotor, baju, lantai yang perlu dipel. Cukup senang juga ketika memasak soup untuk ibu, beliau mau menghabiskannya dan minta nambah, meminum banyak air putih, dan meminum obat yang sudah diresepkan. Sayang, kondisi sampai malam takbiran mendekati tengah malam belum juga membaik. Maka, aku sms bulik yang sudah di tempat mbah lima hari yang lalu, dan memwakili ibu untuk bilang kalau dua lebaran mendatang tidak bisa datang karena ibu sedang sakit.

Photobucket

Kebetulan seminggu sebelum lebaran itu, aku sering batal puasa karena tamu tak diundang sering datang dan pergi saat di pertengahan perjalanan menuju maghrib. Tak apa kukira. Pasti selalu ada hikmahnya. Hanya mungkin karena melembur memindah file multiply yang belum juga beres-beres (karena rencananya setelah bulan ini, fokus konsentrasi untuk yang lain), aku lembur sampai subuh menjelang. Kelelahan, aku pun tertidur. Dan berasa baru melihat keajaiban, sementara gema takbir terus menggema dari kejauhan, pintu kamar dibuka dan sebuah suara khas yang familiar membangunkan aku untuk sholat subuh dan menawarkan untuk bersiap-siap sholat ied. Kulihat ke arah pintu dan kulihat ibuku berdiri di sana dengan kondisi badan segar bugar. Senyum merekah di bibirnya dan wajah sumringah. Ibuku sudah sembuh.

Alhamdulillah.

~ Hari itu, setelah berkunjung ke keluarga dari pihak ayah, kami sekeluarga (minus kakak dan kakak ipar, tentu saja) berangkat menuju kota Kendal. Senang lihat mbah put menanyakan pertanyaan telak yang membuatku tertawa ngakak waktu memandangku dari atas ke bawah, “Nana sudah punya pacar belum?”
Lebaran berlalu, dan sekarang gantian aku yang meriang. Haha!😀

Best Regards,

Rana Wijaya Soemadi

4 thoughts on “Seminggu Sebelum Lebaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s