Bar M

Setiap hari aku masuk ke bar ini. Mengamati orang-orang, berbicara dengan beberapa, bercerita tentang sesuatu pada bartender dan lalu tertawa terbahak-bahak karenanya. Kadang saat Bar M tidak dapat kumasuki, aku bahkan bertanya pada kawan-kawan kenalan yang juga selalu mengunjungi bar itu dan bertanya, kenapa pintu bar M tidak bisa dibuka hari itu.

 

Akhir-akhir ini Bar M terasa kian suram. Cuaca yang terik tak bisa mengalahkan kesedihan terpendam ini. Aku duduk di depan meja bartender, sekedar menyesap segelas bir yang sesungguhnya hanya campuran teh pekat, gula pasir, dan air panas, lalu terdiam. Beberapa pengunjung yang mengenalku menegurku barang sejenak dan lalu pergi berlalu. Segelas bir cap bar M kusesap lagi dan kemudian merenung. Ah, lebih tepatnya melamun. Kadang aku juga terlalu iseng melamun sampai saat aku sedang melamun dan melihat ada orang sedang melamun, aku bertanya-tanya dalam hati. Apa yang dia lamunkan?

 

Di bar M ini ada beribu macam kisah. Namun kisah paling menjadi perhatian utama adalah akan ditutupnya Bar-M ini. Kadang secara sembunyi-sembunyi aku menggigit bibir untuk menahan perasaan agar tak terlalu sedih di hadapan orang banyak. Sayangnya, bibir ini terlalu sering kugigit hingga mataku menjadi perih dan berkaca-kaca. Sebagian orang menjadi terlalu cepat marah. Sebagian orang menjadi terlalu cepat sedih. Sebagian lain diam dan bersikap tak peduli, meski sebetulnya sedang berjuang keras untuk menyembunyikan kepanikan dan kesedihan yang coba dia atasi sendiri.

 

Beberapa waktu yang lalu aku melihat seorang pengunjung bar M yang berniat baik untuk ikut merapikan tumpukan buku seorang pengunjung bar M yang lain yang kebetulan berserakan di depannya karena tersenggol oleh tangan seorang pengunjung bar-M lainnya lagi bahkan membuat pengunjung yang berniat baik itu sampai terlibat percekcokan dan menjadi pusat perhatian dan sampai hari ini terus dibicarakan. Hampir semua orang tak suka keributan, kukira. Hanya saja penjelasan tak suka keributan masing-masing orang, ternyata berbeda-beda.

 

Kadang saat reflek memegang kepala yang mulai pusing dan disertai wajah sendu dan sedih, aku merasa bartender itu memperhatikanku dan berniat ingin menegur. Tapi kukira di hanya berhenti sampai di situ, dan tetap membiarkan aku yang lebih ingin sendirian. Aku yakin, bartender dan hampir semua yang ada di Bar M ini memiliki hati yang baik. Hanya bahwa arti baik itu tak selalu baik dan bagus tak selalu bagus, benar adanya. Kebaikan tak selalu berbuah kebaikan, dan kebagusan tak selalu berarti, berbuah, berefek, bagus untuk orang lain dan ke diri sendiri.

 

Kutarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan berat. Televisi di ujung bar memutar sebuah video dari youtube yang membicarakan sekumpulan penulis dunia terkenal yang menginspirasi, dan kali ini giliran Neil Gaiman. Aku masih menyesap bir cap bar M itu sampai kemudian mendengar kalimat, “apa pun yang kamu lakukan, kamu memiliki satu yang unik: kamu memiliki kemampuan untuk membuat seni.” Bar M masih sibuk dengan hiruk pikuk masing-masing dan aku seperti menonton acara itu sendirian. “Kadang hidup itu keras. Segala hal terasa salah -di dalam kehidupan, di urusan percintaan, di dalam dunia bisnis, dalam hubungan pertemanan, urusan kesehatan, dan urusan lainnya. Dan ketika hal-hal itu terasa demikian berat, inilah yang harus kamu lakukan, buatlah seni yang bagus. Kemungkinan beberapa hal akan terselesaikan dengan entah bagaimana caranya. Lalu waktu dengan cepatnya akan menghilangkan sengatan itu. Namun sesungguhnya itu bukanlah hal yang bahkan penting untuk dibahas. Yang terpenting, lakukan apa yang terbaik yang bisa kamu lakukan. Buatlah seni yang bagus. Buatlah seni pada hari burukmu, dan juga, buatlah seni pada hari baikmu.*”  Kata-kata itu mungkin terasa tak nyambung dan tak berkaitan dengan apa  pun yang kualami di bar M ini. Tapi karena kebetulan aku memilih menjadi ilustrator, dan bahasa tersirat itu seperti kata-kata ajaib yang mendadak muncul di antara suramnya bar ini, aku tersenyum dengan iringan tarikan napas cepat. 

 

Kusesap bir itu lagi, menegur bartender dan memintanya memberikan satu gelas bir kepada satu pengunjung yang tadi berniat menolong orang lain tapi kemudian berakhir dengan menangis di pojokan, dan lalu beranjak pergi sambil tak lupa tersenyum kepada pengunjung yang mengikuti telunjuk tangan sang bartender ke arahku. Kuharap perasaannya jadi sedikit lebih baik setelahnya.

 

Ada plang besar bertuliskan “terjual” ketika aku keluar dari bar M. Langit sedikit suram kali ini, meski matahari tetap ganas membakar celah kulit yang tak terlindungi kain. Kunikmati waktu pulang ini sambil sesekali menghadap ke belakang, melihat Bar M dari kejauhan, dan merekamnya di memori. Kurasa lain waktu aku harus belajar melangkah tanpa membalikkan badan seperti ini. Tapi untuk sementara, kukira ini akan menjadi cerita yang indah juga suatu hari nanti. Indah … dengan caraku.

 

 

 

Oleh: Rana Wijaya Soemadi

15 CommentsChronological   Reverse   Threaded

orangjava
orangjava wrote on Sep 14
Cerpen dipagi hari…Bier di Bar M……lain kali aku ikut…

ayanapunya
ayanapunya wrote on Sep 14
can we just burn this bar M?

ninelights
ninelights wrote on Sep 14

Cerpen dipagi hari…Bier di Bar M……lain kali aku ikut…

cheers, Mbah …

ninelights
ninelights wrote on Sep 14

can we just burn this bar M?

Somehow, it’s already burned out.

orangjava
orangjava wrote on Sep 14

cheers, Mbah …

Prosit……

onit
onit wrote on Sep 14

Somehow, it’s already burned out.

iya, udah digusur jadi pasar..
si bar ini tinggal jadi kios aja di pojokan.tapi orang2 masih mampir utk ngubrul updet kabar, sekedar bertanya mau pindah nongkrong di bar mana.

signora05
signora05 wrote on Sep 14
onit said

tapi orang2 masih mampir utk ngubrul updet kabar, sekedar bertanya mau pindah nongkrong di bar mana.

its a friends….

tintin1868
tintin1868 wrote on Sep 14
bartendernya lagi pusing tuh di bar M..

renypayus
renypayus wrote on Sep 14
ayoooo nulis di koan kita lg, tp gausah bawa2 yg lain dulu😄
#teteup

rhehanluvly
rhehanluvly wrote on Sep 14
tulisan ini udah di simpen di wordpress mbak?

ninelights
ninelights wrote on Sep 14
onit said

tapi orang2 masih mampir utk ngubrul updet kabar, sekedar bertanya mau pindah nongkrong di bar mana.

it breaks my heart, too, somehow …

ninelights
ninelights wrote on Sep 14

bartendernya lagi pusing tuh di bar M..

emang siapa bartendernya, menurut mbak tin?

ninelights
ninelights wrote on Sep 14

ayoooo nulis di koan kita lg, tp gausah bawa2 yg lain dulu😄
#teteup

hehehe…
iya.🙂

ninelights
ninelights wrote on Sep 14

tulisan ini udah di simpen di wordpress mbak?

wysigot … for temporary.

ninelights
ninelights wrote on Sep 14

its a friends….

cheers …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s