Lafatah si Pembalap …

Ketemu pemuda yang satu ini membuat saya bahagia sekaligus mumet dengan pertanyaan-pertanyaan nendangnya seputar dunia ilustrasi yang bahkan saat saya mau menjawab pertanyaan ‘ringan’nya, otak saya yang sekelas komputer format DOS masih dalam posisi booting kemudian sesekali muncul pop up windows dengan kode,“oh,iya,ya, kenapa gak kepikiran ya?” Hahaha! Lalu Abdul Fatah, seorang backpacker, penulis buku Travelicious Lombok  dan beberapa antalogi lainnya, punya bakat menjadi wartawan dan salah satu pemuda yang belum mencicipi gimana rasanya bakmi jawa khas Semarang, apalagi yang di deket rumah saya! *ngekngoknguk*

Ext. Fatah di Masjid Agung Jawa Tengah – Malam

Adalah merupakan salah satu dari sekian puluh keajaiban kenapa saya (dan beberapa teman-teman lain) menyukai Multiply, saya bisa berkenalan dan ngomongin banyak hal…apa saja … dengan teman-teman yang punya latar belakang pendidikan, budaya, karakter, profesi luar biasa, salah satunya  pemuda yang satu ini. Hampir dua tahun menjadi kontak dan akhirnya, beberapa waktu yang lalu saat dia ada acara di Semarang, kami bisa bertemu jua.

Setelah makan di Bakso Doa Ibu, saya ajakin mampir ke rumah, berkenalan dan ngobrol dengan orang tua dan kemudian sholat, lalu lanjut beli oleh-oleh dan kemudian meluncur menuju masjid Agung Jawa Tengah.

Ext. Masjid Agung Jawa Tengah – Malam
Ext. Fatah di Masjid Agung Jawa Tengah, Another angle -Malam

Niat awal, biar Fatah bisa sekalian sholat Isya di tempat itu, sayang, tempat wudlunya ditutup. Kami kemudian melanjutkan pergi ke simpang lima dan parkir motor di depan masjid Baiturahman. Selain untuk sholat, sekalian nganterin Fatah dapat angkutan menuju terminal Terboyo. Dan di antara waktu-waktu ‘mampir-mampir’ itu, ilmu saya jadi nambah dengan obrolan ngalur ngidul dengan Fatah. Dari pertanyaan-pertanyaan yang dia lemparkan, dan dari jawaban-jawaban yang dia luncurkan. Awesome and charming boy! Harusnya di-museum-in! Langka soalnya. Ahahay! *Besok pas ke sini lagi, saya jangan lupa ditraktir yah, Fatah! Ahahaha. Ngekngoknguk!*

Dua teh gelas dan lumpia menemani obrolan malam kami di pelataran masjid Baiturrahman, Simpang Lima.

Paling asoy dan tragis menurut saya adalah ketika di Masjid Agung dan saya coba motret dia di kegelapan dan sering kurang berhasil karena saya berusaha untuk tidak memakai blitz karena kalau pake blitz hasilnya kurang bagus menurut saya (yang mana fotonya juga tidak saya upload di sini XD), dia bilang, “Mbak, udah gelap gini, badanku keling, gak pake blitz lagi. Nanti apa jadinya foto itu?” BWAHAHAHAHAHAHA. Pembalap benar! Pemuda berbadan gelap! Tapi tinggi…lan manis! *Fatah…traktir lagi ya! hahay!*

Sepatu si Lalu

22 thoughts on “Lafatah si Pembalap …

  1. Lalu Abdul Fatah

    Mbakyu, maaf ya…
    Bukannya gimana gimana, tapi postingan kali ini sukses membuat saya mengangkasa. Takut sih. Terbangnya ketinggian nanti jatuh gedubrak. Ehehehe…

    Buat teman-teman yang ngomen, jangan percaya dengan postingan ini sebelum kita kopdar. Ahahaha…

    *nunggu Mbak Rana ngacungin kuas*😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s