[Kata Pengantar] Nana Sebagai Gajah

Pada riwayat seni rupa Semarang jarang ada figur perempuan. Jikalau ada, mereka hanya berlalu-lalang, antara ada-tiada dan nyaris tidak bernama. Kini Nana muncul. Kehadirannya boleh dianggap kehadiran untuk dicatat, diharapkan, agar tidak segera dilupakan pula.

Rana Wijaya Soemadi adalah Nana dengan semangat belajar tinggi-menggebu. Ia penulis novel. Ia komikus. Tentu ia cakap menggambar. Seratus gambar gajahnya bukti kecakapannya itu. Tanpa banyak cakap pula ia pamerkan gajah-gajahnya.

Gajah-gajah Nana berperangai kadang riang, kadang muram, acap konyol, namun pintar dan modis. Profesinya beragam pula. Gajah manusiawi. Nana percaya, dari literatur yang dipelajarinya, gajah adalah mamalia cerdas, baik hati, setia pada komunitasnya, dan beradab (!). Singkat kata, bisa dibilang, hewan herbivora itu refleksi alter-ego Nana. Nana adalah gajah yang cute. Mungkin?

Lihat, si kuping lebar, mamalia bertulang belakang keluarga Elephantidae, itu berlagak dan berdandan genit dan cool. Tapi, tak terang apa jendernya. Gajah maskulin atau feminin hanya terbedakan dari fesyen, tatanan rambut, rias paras (hanya bulu mata lentik itu!), aksesoris dan sedikit gayanya. Soal fesyen, jelas sekali, modis. Vintage.

Konstruksi gajah Nana berasal dari titik dan garis. Titik dan garis terbentuk dari tinta-bolpen. Hitam semua. Bentuk, pola dan irama tarikan garis itu teratur. Sederhana. Dari titik-garis muncul beragam gajah dengan gaya dan narasi berlainan. Meski berpose frontal-tunggal seperti potret, masing-masing gajah punya kisah berbeda. Gajah Nana jarang dalam situasi atau berada dalam suatu konteks lebih luas sehingga terbangun narasi yang lebih kompleks.

Ada orang bilang, gambar adalah “mother of art”. Apakah gambar Nana tergolong begitu? Ah, tentu perempuan berkerudung ini belum nyaman menyandang label “ibu”. Ia (masih) single. Yang jelas, dalam hemat saya, upaya dan karya Nana ialah awal yang baik bagi sesuatu yang sedang ditimang sayang setakat ini: seni terapan dalam balutan industri kreatif.

Nana kiranya punya potensi, antara lain, ke arah ini: konstelasi dunia kreatif. Tentu keperkomikan dan kepenulisan, yang telah dijalaninya, termasuk dalam ranah kreatif pula.

Tubagus P. Svarajati

Kritikus seni

——————–

“100 Gajah dalam Panggung Manusia”

masih berlangsung hingga 23 Februari 2013

di Galeri Garasi Widya Mitra, Jl Singosari II No. 12, Semarang

15 thoughts on “[Kata Pengantar] Nana Sebagai Gajah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s