Bagian Satu: Proses

Persiapan pameran

Kurang lebih dua bulan saya mempersiapkan seratus karya gajah dengan media ball pen on paper ini. Mulai dari akhir september hingga awal November di tahun 2012. Sempat mengalami cedera tangan sampai harus berhenti menggores selama hampir seminggu dan jatuh sakit beberapa kali. Badan panas, sakit kepala, mata pedih, bekas luka-bekas luka baru yang sebenarnya tidak saya kehendaki tapi itu terjadi. Namun saya kira sebagian di antaranya adalah memang salah satu resiko dan sebagian lain merupakan kesalahan saya. Resiko yang paling sering terjadi saat orang sedang memegang cutter, misalnya, pasti tangannya akan tergores atau tertancap dan saya juga mengalaminya, dan kesalahan sepele saya yang berakibat buruk pada saya sendiri dan sering tidak saya hiraukan adalah saya justru mengurangi olahraga saat memulai intens mempersiapkan pameran ini dengan alasan ‘tidak ada’ waktu.

Bisa dibilang saya masih terlalu dini untuk mengeluh sementara waktu itu saya tergolong belum memulai sesuatu, belum mencetak sebuah sejarah. Tapi nyatanya, saya tetap mengeluh. Proses pembuatan paper board yang tak mudah-dengan pemotongan yang memerlukan tangan sebagai media utama penyelesaian suatu karya, dan membutuhkan ketelitian, kedetailan, konsentrasi tinggi, jumlah paper board dan waktu yang tak sedikit- membuat saya sempat kesal pada diri sendiri ketika saya melakukan kesalahan pada masing-masing paper board itu. Untuk ke dua dan kesekian kalinya pergelangan tangan saya cedera lagi hingga saya terserang demam cukup tinggi. Saya lebih kesal pada diri sendiri saat itu.

Namun dari kesalahan-kesalahan dan rasa sakit itu saya belajar bahwa segala sesuatu harus dijalani dan dinikmati. Saya tahu bahwa sebagian di antaranya akan tetap membuat saya kesal atau marah atau benci atau bahkan muak tapi setelah semua itu dilalui saya pasti akan dapat sesuatu dari itu dan saya bisa berkata, “kemarin ternyata bukanlah apa-apa” dan memang benar; Kemarin ternyata memang bukanlah apa-apa.

Segala sesuatu memiliki prioritas penting untuk dipikirkan. Dari prioritas-prioritas itu pula, saya belajar untuk pandai memilih mana prioritas terpenting yang paling penting untuk segera diselesaikan. Satu dua hal akan sangat bisa merusak mood dan konsentrasi, dan saya mengalami itu saat proses persiapan pameran. Namun lagi-lagi, saya dilatih untuk belajar mencari solusi dari kemungkinan terburuk yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Persiapan Lain Lain

Seminggu sebelum hari H adalah yang terberat, saya kira. One simple thing ruins almost everything. Saya tahu ini adalah bagian dari pelajaran berharga saya, terlebih saat harus menghadapi dan menyelesaikan urusan dengan orang lain yang ternyata belum begitu berpengalaman dibidangnya namun berani bertindak dan menjanjikan sesuatu. Kalau diingat, momen itu masih momen yang menguras emosi, namun selebihnya ttap saya yang salah. Dan saya anggap minggu itu adalah minggu terburuk selama proses pameran ini.

Lesson learned.

 

Display

Sesuai target, 100 karya beserta penahan dan paper board selesai dikerjakan. Waktunya menge-pack dan mengangkut karya-karya itu ke galeri. Bisa dibilang, urusan display men-display ini adalah dunia yang benar-benar baru untuk saya. Sama sekali baru. Dan lagi-lagi kedetailan dan ketelitian sangat diperlukan dalam urusan men-display karya-karya di ruang pameran. Apa yang terjadi? Di bagian ini, saya melakukan banyak kesalahan. Banyak sekali. Sempat didera kepanikan dan kehilangan konsentrasi cukup drastis karena ternyata apa yang saya pikir sudah siap untuk dipajang, gagal berkali-kali untuk ditempelkan di dinding. Saat itu sudah hari H dan malamnya akan ada acara pembukaan.

Namun saat Aris Yaitu datang, saya merasa sangat lega dan terbantu. Dia menenangkan saya dan bilang, “bisa (selesai kok), Na. Bisa. Tenang.” Kemampuan men-display dia jauh lebih mumpuni dibanding saya. Bahkan secenti saja saya melakukan kesalahan, dia bisa mendeteksinya. Hahahaha. Menurun dari Pak Tubagus, tampaknya. Huehuehuehue. Lewat dia, saya belajar bahwa bagian tersulit-tanpa mengecilkan proses sebelumnya- adalah proses mendisplay ini.

[bersambung]

5 thoughts on “Bagian Satu: Proses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s