Bagian Dua: Patah Hati

Beberapa hari setelah pembukaan pameran, kisah-kisah tentang dunia itu dituturkan. Saat itu terjadi, karena teramat sedih, saya tak punya kata-kata untuk dituliskan. Saya patah hati. Patah hati pada kota ini. Rasanya seperti sedang jatuh cinta, dan lalu cinta itu diperas, tidak ada darah, tapi kamu kesakitan.

Hingga hari ini, patah hati itu masih menghinggapi. Ini semacam melawan kedigdayaan, ‘kebiasaan’, kepesimisan, dan lain-lain. Ini semacam mencoba melawan arus namun arus itu bahkan mungkin tak menerimamu ada di sekeliling. Namun seiring berjalannya waktu, saya sadar, untuk mengobati rasa sakit itu, mengubah semua itu, tak lain tak bukan harus dimulai dari diri sendiri. Saya tahu itu sulit, tapi saya yakin saya bisa. Just keep moving forward, kata hati saya bilang. Dan temukan jalan setapak yang tepat.

Pasti ada jalan. Pasti.

[bersambung]

One thought on “Bagian Dua: Patah Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s