Ke mana larinya?

Ke mana larinya semangat menulis dan membaca yang kupunya dulu? Aku bertanya. Ke mana larinya dia saat pagi belum cerah benar dan aku masih punya banyak waktu untuk bersantai dan berniat mencari kepulan inspirasi?

 

Ke mana dia?

 

Apa mungkin dia telah tersesat? Apa mungkin dia telah lupa bagaimana rasanya menangis dan tertawa bersamaan karena deretan tulisan-tulisan- yang sebagian terasa masih membekas dan meninggalkan desir lara dan sisanya tak lebih dari sekedar hiperbola – itu tak lagi berarti untuk diceritakan? Atau justru karena dia teramat berarti sehingga tulisan-tulisan itu terlalu berharga untuk dibagi?

 

Ke mana larinya dia yang dulu?

 

Apa mungkin karena dia telah merasa kehilangan? Luka-luka yang tak terlihat dan menggumpal di sudut hati dan lalu dia memilih untuk tetap bersembunyi di situ?

 

Ke mana larinya? Aku bertanya. Apa dia telah tak lagi berminat dengan mata yang menyala-nyala karena kata-kata tak henti-hentinya bermunculan di kepala sehingga membuat si empunya terjaga hingga pagi buta? Apa dia tak pernah lagi ingin bersuara saat duka terasa dan tiada ada yang mau memasang telinga, kecuali kata-kata? Apa dia tak lagi ingin mencari tahu bahasa-bahasa ajaib pada tumpukan novel-novel di lemari buku atau puluhan ribu kata-kata mengagumkan di kamus besar itu?

 

Ke mana larinya? Aku rindu mereka.

6 thoughts on “Ke mana larinya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s