#1 Vincent: Pada Mulanya …

Membaca “Lust for Life” seperti melihat diri sendiri di dalam perjalanan hidup seorang Vincent Van Gogh. Bedanya, nasibku jauh lebih beruntung dibandingkan dengan beliau.

Vincent Van Gogh pada masa hidupnya bukanlah Vincent yang sekarang dikenang sebagai pelukis hebat yang karya-karyanya menjadi karya lukisan termahal di dunia. Vincent yang dulu adalah Vincent yang hampir selalu gagal dalam urusan cinta, hampir selalu dikerumuni nasib malang, jatuh miskin, kelaparan, menjadi sampah masyarakat dan lalu gila karena menderita epilepsi.

Berasal dari keluarga terpandang, Vincent sempat menekuni karir sebagai seorang pendeta, mengikuti jejak paman-pamannya serta ayah kandungnya sendiri. Sampai kemudian ketika Vincent dikirim komite ke Borinage, area pertambangan batu bara di selatan Belgia demi penempatan urusan gerejanya yang belum dikabulkan oleh komite, pandangan hidup Vincent serta keyakinan terhadap tuhannya sendiri, berubah total.

Saat membaca bab awal pada bagian itu, aku telah dibuat pilu dan sesak karena nasib para pekerja tambang yang kehidupan dan jaminan keselamatan kerjanya jauh dibawah layak. Menu makanan, kesehatan dan tempat tinggal, tak kalah buruknya. Nyaris sepanjang tahun mereka menderita kedinginan, demam, kelaparan dan akhirnya meninggal dunia. Saat Vincent diajak oleh salah satu pekerja untuk turun ke salah satu lokasi pertambangan dan melihat sendiri cara mereka bekerja mulai dari jam tiga pagi hingga jam empat sore, dan begitu terus setiap hari, rasanya, ruang-ruang udara di sekitar sini pun ikut tak ada. Bayangkan, pada ruangan sesempit itu, peralatan ‘lift’ sederhana, dan berhenti pada kedalaman enam ratus lima puluh meter di dalam tanah –dan masih ada lagi para penambang yang bekerja di bawahnya, dengan bilik yang sempit, jumlah penambang yang banyak, serbuk-serbuk batu bara yang berterbangan, dan tidak ada saluran udara.

Vincent berusaha sekuat tenaga, fisik dan mental untuk membantu para penduduk untuk bisa menjalani kehidupan yang sedikit lebih baik. Dia melakukan segala cara, termasuk menggunakan gajinya sendiri untuk membeli makanan yang lebih baik ke keluarga para penambang selama enam hari ke depan. Tapi Vincent merasa begitu kecil dan sendirian. Bahkan ketika ada peristiwa kecelakaan di dalam area pertambangan yang menyebabkan lima puluh tujuh lelaki dan anak-anak perempuan, mati terkubur dan terbakar hidup-hidup di dalam, Vincent merasa tak berdaya.

Namun saat berita itu sampai ke Komite dan dua orang pendeta datang dan melihat Vincent yang sedang memimpin penduduk yang sedang mengadakan misa pemakaman untuk para penambang yang terkubur hidup-hidup, yang pakaian Vincent telah berubah compang-camping demi untuk membantu membalut luka para penduduk yang bahkan tidak memiliki sehelai perbanpun, dengan fisik yang comel dan kurus kering, kedua pendeta itu dengan kejamnya menuduh Vincent gila dan telah melakukan dosa besar (karena tidak bersikap ‘selayaknya’ sebagai seorang pendeta) dan kemudian memecatnya begitu saja.

Vincent telah melewati pengalaman traumatis yang tidak bisa dia hilangkan begitu saja didalam benaknya terhadap para penambang itu hingga akhirnya Vincent sampai di sebuah titik kesimpulan tentang apa yang selama ini dia percayai: bahwa sebenarnya Tuhan itu tidak ada.

(bersambung)

6 thoughts on “#1 Vincent: Pada Mulanya …

    • ranawijayasoe

      beberapa waktu yang lalu, saya kebetulan berdiskusi dengan Guru saya dan beliau menunjukkan karya seniman yang juga hidup di masa-masa pertambangan batu bara tersebut di atas. Mungkin di blog selanjutnya akan dibahas untuk seniman-seniman tersebut sendiri, mbak Dian.🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s