Surat untuk Vincent

Vincent,

ada banyak pertanyaan di pikiran ini saat aku melihat dan merasakan sesuatu terjadi di sekitarku. Tentang dunia, tentang manusia, tentang hubungan manusia dengan manusia lainnya, tentang diri. Pikiran-pikiran ini seperti ribuan frame yang muncul bergantian dan lalu menghilang dan lalu muncul lagi yang lainnya, mengantri untuk kulihat, kurasakan, kuresapi, kuanalisa sebelum kemudian berakhir dengan membuatku semakin memikirkan pikiran-pikiran tadi di menit-menit yang tak tepat.

Sungguh, aku yakin kau sering mengalaminya. Kau hanya tidak tahu harus mengatakannya lewat siapa, selain ke Theo, adik kesayanganmu, atau ke lukisan-lukisanmu. Ya, tentu saja aku sudah membaca buku tentangmu, Vincent, tentu saja. Hanya kadang aku sering memikirkan hal-hal tentang, apa yang tak kau ceritakan pada adikmu Theo dan kau putuskan untuk memendamnya sendirian pada masa-masa itu.

Vincent, menjadi seniman itu berat. Kau adalah salah satu buktinya. Kau adalah salah satu guide book dalam hal menjalani hidup sebagai orang berkesenian. Dan kukira ini tidaklah harus menjadi suatu hal yang patut dibesar-besarkan. Namun memang seniman-seniman dan calon-calon seniman yang ingin memutuskan menjadi seniman harus tahu proses ini. Untuk menciptakan sebuah karya seni, tentu tidak harus mahal. Bahkan dari arang pun, tercipta karya-karya menakjubkan. Namun untuk menjadikanmu seorang seniman yang berkualitas, kau pun perlu memerhatikan hal-hal yang tampaknya sepele dan tak berguna itu. Dan lagi-lagi, aku belajar menghargai semua itu, salah satunya, darimu, Vincent.

Meski aku mengatakan bahwa aku mencintai dunia seni dan mulai fokus menjalaninya hampir dua tahun ini, aku belum tahu banyak tentang seni, Vincent. Aku bahkan belum mengerti apa perbedaan sebuah karya seni yang bagus dan yang tidak saat datang ke galeri. Aku masih butuh belajar banyak, Vincent. Banyak. Namun beberapa menganggap berkesenian dan berpameran itu adalah untuk bersenang-senang saja, Vincent. Mungkin karena aku menanggapi itu dengan terlalu serius. Namun entah kenapa, aku tetap saja merasa sedih, Vincent. Sedih sekali. Aku hanya tidak tahu harus bercerita pada siapa.

Vincent, sekali lagi, menjadi seniman itu tak mudah. Tapi aku kira surat ini kucukupkan sampai di sini dulu. Aku takut lupa waktu, dan mengganggu waktu tidur panjangmu.

Selamat malam. Selamat beristirahat dengan tenang.

6 thoughts on “Surat untuk Vincent

  1. edwinlives4ever

    Starry, starry night
    Paint your palette blue and gray
    Look out on a summer’s day
    With eyes that know the darkness in my soul

    Shadows on the hills
    Sketch the trees and the daffodils
    Catch the breeze and the winter chills
    In colors on the snowy linen land

    Now I understand
    What you tried to say to me
    And how you suffered for your sanity
    And how you tried to set them free

    They would not listen, they did not know how
    Perhaps they’ll listen now

    Starry, starry night
    Flaming flowers that brightly blaze
    Swirling clouds in violet haze
    Reflect in Vincent’s eyes of china blue

    Colors changing hue
    Morning fields of amber grain
    Weathered faces lined in pain
    Are soothed beneath the artist’s loving hand

    Now I understand
    What you tried to say to me
    And how you suffered for your sanity
    And how you tried to set them free

    They would not listen, they did not know how
    Perhaps they’ll listen now

    For they could not love you
    But still your love was true
    And when no hope was left in sight
    On that starry, starry night

    You took your life, as lovers often do
    But I could’ve told you Vincent
    This world was never meant for
    One as beautiful as you

    Starry, starry night
    Portraits hung in empty halls
    Frame-less heads on nameless walls
    With eyes that watch the world and can’t forget

    Like the strangers that you’ve met
    The ragged men in ragged clothes
    The silver thorn of bloody rose
    Lie crushed and broken on the virgin snow

    Now I think I know
    What you tried to say to me
    And how you suffered for your sanity
    And how you tried to set them free

    They would not listen, they’re not listening still
    Perhaps they never will

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s