A simple life

Vincent,

aku tahu ini konyol. Kau sudah tak ada dan kau pun tak akan pernah bisa mengenalku sedemikian dekat. Aku yang membuat kita berdua seolah-olah dekat dan memiliki hubungan. Tapi, entahlah … Setiap kali ada kisah-kisah yang hadir dan menyentuh hatiku, aku selalu teringat dirimu. Setidaknya setelah aku membaca buku biografi tentang dirimu dan perjalanan panjangmu yang kelam dan penuh perjuangan. Jadi aku … Begitulah.

Kau tahu, Vincent? Saat kecil aku memikirkan hal-hal sederhana tentang hidup. Melihat orang tertawa itu berarti dia bahagia. Menyaksikan orang menangis itu karena dia sedih. Melihat orang lain jatuh otomatis kaki berlari menghampiri dan tangan menolong orang itu berdiri tanpa melihat dia siapa, dia baru melakukan apa, dan apa yang telah dia lakukan sebelum melakukan itu. Happy, sad, helping other with no reason. Pointed.

Setelah dewasa, bahkan ketika aku bertemu banyak manusia dan karakternya, hidup begitu rumit dan kompleks. Bad people doing good things, good people doing bad things, good people insist doing good things, bad people claim doing bad things, good things pronounce that they really doing bad things, and good people doing bad and dark thing and they still make a great thing in life while other hate it a lot.

Aku, dan sebagian besar manusia di dunia ini tentu berharap bahagia dan tentram, tapi ternyata hidup memberikan sedemikian banyak kejutan. Dan kejutan-kejutan itu-di antaranya- bahkan mampu menciptakan angin topan di dalam pikiranmu sendiri sehingga pikiranmu tak pernah lagi bisa sesederhana seperti dulu.

Aku tahu, Vincent. Hampir selalu ada pilihan untuk menikmati hidup dengan sederhana. Namun untuk beberapa kasus, ternyata hidup memang tidak sesederhana itu. Hidup begitu rumit. Hidup begitu sulit. Hidup begitu kelam dan menyesakkan. Hidup begitu tidak adil sampai kau pun yang hanya sekedar mendengarkan bahkan ikut menangis karena merasakan apa yang orang lain itu rasakan.

Hidup seakan melamban dan lalu berhenti. Kau, lewat telingamu, bisa mendengar tangisan di dalam hati mereka, air mata yang coba ditahan di kelopak mata mereka, luka yang sengaja dibalut hingga orang yang tak memerhatikan tak akan mengerti dan saat orang itu mengertipun dia bicara tentang hidupnya yang tak akan lama lagi namun dia tetap bisa menyemangatimu soal kehidupan.

I’m careless as a person, Vincent. But when I care, I care too much. Is that bad, Vincent?

Seorang kawan baik yang usianya jauh lebih tua dan aku yakin lebih bijak memandang hidup dan kepadanya kemudian aku memilih menceritakan kisah-kisah itu, bilang bahwa semua perasaan yang kurasakan normal, Vincent. Sangat. Hingga ketika aku tak tahu harus bagaimana menghadapi itu, dia bilang,

“Cry for her a bit then let it go.

 You have your own future to thread.”

Pada intinya, pembicaraan itu bukan tentang keegoisan seorang manusia, Vincent. Namun ada beberapa hal yang aku harus paham betul bahwa semua itu, sekejam apapun dan sebenar apapun hal yang telah kusaksikan, semua itu bukanlah tentang ‘medan peperangan’ku, Vincent. Bukan sebuah pertempuran yang harus kulawan meski aku masih memilih marah sebagai jawaban atas apa yang terjadi.

Then, suddenly I stop crying, Vincent.

* * *

There are so many fragile things, after all. People break so easily, and so do dreams and hearts. It occurs to me that the peculiarity of most things we think of as fragile is how tough they truly are…the beat of the wings of a butterfly in the right place, we are told, can create a hurricane across an ocean. Hearts may break, but hearts are the toughest of muscles, able to pump for a life time, seventy times a minute, and scarcely falter along the way. Even dreams, the most delicate and intangible of things, can prove remarkable difficult to kill.

 – Neil Gaiman, Fragile Things –

#nowplaying October – Evanescence

Powered by www.Mp3Olimp.net