Kepada kawan yang menyuguhkanku secangkir teh di atas meja

Kepada kawan yang menyuguhkanku secangkir teh di atas meja
saat malam demikian kelam dan semua orang telah pulang.

Dalam perjalanan tadi, aku melewati badai seperti biasa. Badai itu sedikit membuatku khawatir, sebenarnya.
Dan sedih.
Dan marah.
Dan kalut.
Dan terluka.
..lalu hampa.

Perasaan aneh untuk sebuah badai, memang. Kadang untuk itupun aku bertanya pada diri sendiri dan tak pernah terjawab alasannya kenapa. Padahal, untuk beberapa badai, aku berjarak demikian jauh dari asalnya. Pun tak ada angin yang bisa bertubi-tubi mengibar-kibarkan helaian rambutku ke udara. Tapi aku merasakannya. Bahkan aku benar-benar seperti terlibat di dalamnya. Mendengar kegaduhan anginnya, melihat kayu-kayu beterbangan dan bertubrukan kian kemari di udara luas, melihatnya menancap, menampar, terpelanting, dan terporakporanda sesuka sekacau sedemikian rupa.

Lalu badai itu berlalu. Tapi dia menyisakan kabut dan reruntuhan. Debu membatasi jarak pandang, dan reruntuhan itu menyisakan benda tumpul dan tajam yang melukai kaki dan tangan. Luka itu membuat goresan-goresan lebar di kulit. Darahnya mengalir, dan membuatku tertatih saat berjalan. Kadang saat berjalan itu aku menangis. Nadanya riuh rendah. Tapi seringnya tanpa suara dan lalu meninggalkan sesak yang bukan main rasanya di dada. Mungkin sekitar dua atau tiga jam aku berjalan, lalu istirahat, lalu berjalan lagi. Tapi tak apa. Setidaknya, itu bukan hal utama yang kupikirkan. Setidaknya aku sadar, badai itu membuatku tak bertemu siapapun jua.

Lalu kau menyuguhkanku secangkir teh di atas meja
saat malam demikian kejam dan semua orang telah terpejam.

Kau balut dan obati sebanyak mungkin lukaku dan kau dongengkan kisah yang menguatkan hati. Bahkan, saat badai berikutnya kulewati, kau ada di sana. Meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja dan kau tak akan membiarkan aku sendirian lagi melewatinya.

Saat teh di cangkir itu tinggal separuh, dan aku menceritakan segala hal yang kurasa, kuingat, memori-memori yang demikian melesatkan kisah-kisah aneka rupa yang orang normal mungkin jarang mengalaminya (seperti otak Robin Williams, yang saat dia sedang menuturkan cerita episode pertama, draft di otaknya sudah sampai yang ke sembilan) aku mulai tampak demikian kesal, demikian marah, demikian meledak-ledak, demikian egois, hingga aku menyadari tatapan matamu yang menujukkan tanda kekhawatiran.

Aku pernah mendengar kisah bahwa orang baik bahkan bisa jadi jahat -tanpa dia sadari- karena perang. Mungkinkah aku juga demikian? Badai itu mungkin saja seperti medan perang. Di mana saat perjalanannya aku mendengar kekerasan, melihat kekejaman orang, benda, sesuatu. Aku merasakan penghianatan, kemunafikan, bahkan hal paling ‘sederhana’ seperti perubahan sikap.

Dalam perang itu, bahkan sangat mungkin dia menyisakan trauma yang tidak akan bisa hilang dari ingatan, yang mungkin saja bisa menyelinap masuk di antara memori-memori indah dalam hidup yang sedang diingat, dan mengubahmu menjadi demikian … demikian bukan diri sendiri lagi.

Tapi sungguh aneh. Dada menjadi demikian sesak dan perih tak tertahankan saat aku teringat akan rasanya kehilangan. Mereka yang telah berjanji untuk tinggal, keesokan harinya selalu pergi begitu rupa. Meninggalkan aku berdiri sendirian mematung menatapi punggung mereka yang kian menjauh dan tak terjangkau. Membuatku merasa seperti tengah membuat kesalahan, tak pernah berharga, dibuang mirip seperti sampah …

Aku tak pernah ingin menilai diriku sendiri serendah itu. Aku hanya merasa bahwa sekarang aku mulai takut akan banyak hal. Bahkan secangkir teh yang kulihat telah habis ini membuat hatiku begitu hampa.

* * *

Kepada kawan yang menyuguhkanku secangkir teh di atas meja
saat malam telah beranjak dan semua orang mulai terbangun dari tidurnya.

Aku tahu engkau akan mencoba selalu ada di sana, di sisi, mendampingi, menggenggam tanganku saat aku berada di ujung tebing, meraih lenganku saat aku terpeleset dan menarik tubuhku saat aku telah jatuh dan sedang bergelantungan di antara ranting kayu tebing.

Aku tahu engkau akan ada di sana.

Aku hanya tidak bisa melihat keningmu sering berkerut, hatimu bersedih, dan kedua matamu memerah menahan air mata saat aku datang dan selalu, dan hanya selalu membawa kabar buruk untukmu.

Aku begitu sangat tidak ingin kehilanganmu … Kau pasti bisa melihatnya … Bahkan secangkir teh yang kau buat untukku ini membuatku merasa tempatmu adalah tempat teraman yang kutemukan selama perjalanan ini.

Tapi aku harus pergi … melanjutkan perjalanan berikutnya, melewati badai lagi, seperti biasa. Aku tidak ingin berlagak apapun. Aku hanya ingin kau melihat bahwa aku cukup kuat dan lalu memberikanmu sejuta kabar baik ketika aku kembali nanti. Kau percaya itu kan?

Maaf telah membuatmu selalu sedih dan khawatir. Tehnya enak sekali, ngomong-ngomong. Terima kasih banyak yah untuk semuanya…

Semoga kau selalu sehat dan bahagia.

Salam paling hangat,
N

One thought on “Kepada kawan yang menyuguhkanku secangkir teh di atas meja

  1. Cahya Hermawan

    apakah seaneh itu?? apakah sama seperti orang lain menilai tatapan q? yang aq tau, tak semua orang mampu menatap cermin seperti aq menyelaminya.. menyenangkan meski teman q satu2nya adalah orang yang ada di depan q saat aq bercermin.. seperti melewati tanpa rupa..

    # whatever.. aq suka sekali tulisan km.. sukses selalu..(y)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s