Stella in Wheelie bin

Untuk:

Satu teman (mirip) malaikat (hanya lebih punya gaya dan tanpa sayap),

yang penuh kejutan,

yang hampir selalu ada di sisi,

kecuali waktu PMS.

-oOo-

1

Signum

Tidak ada pemandangan lebih menarik kecuali cahaya matahari yang memancarkan sinarnya di antara gumpalan awan di bawah sana sementara aku dan dia duduk di atas potongan ranting pohon yang melayang di angkasa. Ranting itu cukup tipis. Dan terlihat rapuh. Dan aku mendengar bunyi “krek” saat pantatku, yang ada di atas ranting itu, coba kugeser sedikit. Terpaan angin di ketinggian itu langsung membuat kaki, tangan, dan punggungku kompak merinding.

“Kau yakin ini … amm…man?” tanyaku takut-takut. Lalu dia menolehkan kepalanya, menatapku. Tatapannya terlihat datar. Tapi seperti sebal. Tapi seperti lebih dari itu. Tapi –“Oke. Tidak akan.” Tapi dia tetap menatapku, seakan menungguku membuat sebuah pengakuan. Pengakuan yang membuat sorot matanya semakin tajam menusuk ulu hatiku. “Apa? Berhenti menatapku seperti itu. Suruh siapa aku diundang ke sana. Lihat! Bulu mataku bahkan cuma terpasang satu di kiri.”

“Kau pikir yang kau lakukan itu lucu?”

“Aku cuma mengambil apel-apel itu dan memindahkan ke tempat yang lain. Supaya aman. Supaya Adam tidak keracunan. Supaya dia makan yang lain saja. Kalau ternyata asisten koki Iblis di Neraka kebetulan lewat, dan makan buah itu lalu keracunan, itu bukan salahku. Itu salah si asisten koki. Itu karena dia mengambil tanpa izin. Jadi tolong lihat sisi baiknya.”

“Apa kau tak pernah berpikir telah mengubah takdir manusia selamanya?”

“Seperti Adam yang akhirnya lebih memilih fokus jadi Fashion Designer ketimbang mencari Hawa?”

Dia menggenggam batang kayu yang kami duduki, memutar dan menariknya, melihatku mundur sambil berkata, “pintar sekali.”

Lalu aku merasa aku semakin menjauhnya, cepat sekali, terjun, bebas, lalu jatuh dari kursi bus trans Jakarta sambil berteriak kencang. Aku lalu membuka mata dan melihat orang-orang di sekitar menatapku, penuh rasa kesal, yang ditahan.

 Aku turun dengan perasaan malu. Kulangkahkan kakiku dengan cepat menuju sebuah kafe tua milik seorang kawan dan membanting tasku di hadapannya.

“Apa yang kau lakukan di mimpiku tadi?”

Dia, aku biasa memanggilnya Eed, mendongakkan kepalanya dengan tenang sementara kedua tangannya menopang sebuah buku tebal. Buku kuno. Dan aku yakin, di halaman itu ada tulisan sumpah serapahku untuknya yang hanya akan dia jadikan lalapan untuk mengenyangkan perutnya saja.

“Duduklah dulu. Aku sudah buatkan makan siang untuk kita berdua.”

“Apa kau pikir tadi itu lucu?”

Well … dengan satu maskara di mata kirimu, aku kira tadi kamu cukup cantik.”

Aku menatapnya. Kesal. Sekali. “Dan saat kau jatuh … Aku jadi ingin melukiskan ekspresimu itu. Dengan bentuk mukamu yang sempurna saat kau melotot dan berteriak padaku.” Lebih ingin menghajarnya sekarang.

“Oke. Kau kesal. Aku paham.” Dia menutup bukunya, menaruhnya di meja, dan mengubah posisi duduknya. “Duduklah.” Tak ada yang lebih paham perasaanku selain dirinya. “Duduk, kubilang.”

“Pertama, aku sebenarnya tidak tahu apa yang kau bicarakan tadi. Kedua, karena aku tidak tahu apa masalahmu, aku lalu membaca pikiranmu. Ketiga, apa tidak pernah sekali saja dalam hidupmu, kau mengambil napas dulu dan pelan-pelan berpikir sebelum membuat orang lain terus menjadi tersangka semacam itu?”

Aku lalu membuang muka. Dia melanjutkan bicara sehingga memaksaku menatapnya lagi. Kali ini aku membawa sedikit perasaan bersalah. “Dengan kemampuan yang kau punya, kau pasti bisa membedakan mana yang “hanya mimpi” dan mana “pertanda”. Kau yang paling paham semua itu karena itu tubuhmu, jiwamu, pertandamu. Yang perlu kau lakukan hanya menarik napas dalam-dalam dan biarkan mereka bekerja untuk menerjemahkan semuanya di dalam otakmu, dengan sabar.

Detak jarum jam mengisi keheningan ruangan.

“Aku tahu,” Eed melanjutkan. “Menjadi seperti kita tidak akan pernah mudah. Tidak sedikit pun. Kamu membuka matamu dengan membawa keletihan luar biasa padahal kau tak kemana-mana, lalu dunia menghakimimu karena kau dituduh malas, lalu kau menopang segala penderitaan itu. Merasakan sakitnya, emosinya, menjadi mereka, membuatmu kadang bingung memisahkan antara perasaanmu dan perasaan mereka. Seperti harus makan nasi dan minum air putih seperti layaknya manusia setiap harinya, tapi di sela-sela itu kau kerasukan bermacam setan, meski kau suka atau tidak. Kau menjalani semua itu setiap hari dalam seumur hidupmu.. Dan saat itu terjadi, tidak ada yang bisa menolong kecuali dirimu sendiri. Dan hidup seperti sudah merasa di neraka. Dan kau memilih lebih baik mati saja.

“Tapi kabar baiknya, kau tak sendiri, Rayna. Dan kau bisa membuat semua itu terasa surga, karena Tuhan memberimu kemampuan yang Dia yakin kau bisa melakukan lebih baik dari sekedar hanya melihat ‘pertanda’. Kau itu Sang penyembuh. Kau Sang Penolong. Kau Malaikat.” Dia lalu memegang tanganku sementara aku mulai memerhatikan atas kepalanya. “Maka berhentilah menghakimi dirimu sendiri,” Ada kabut putih muncul di sana. Dan lama-lama kabut itu berubah menjadi kumpulan awan hitam yang hitam dan pekat, “lalu mulailah menerima semuanya.” Dan aku melihat pola tengkorak manusia di tengah-tengah, berkerumun, menatap tajam ke arahku, “dan semua akan baik-baik saja.”

Aku membuka mata dengan perasaan berat. Tidak ada kafe, tidak ada meja, tidak ada Eed.  Hanya kicauan burung di pagi hari, taman yang lengang, dan satu bulu hitam besar menampar wajahku dan aku memejamkan mata, menahan kesal.

Bisakah aku selesai bermimpi?

Tolong?

Tuhan?

——————————————————————————————

Stella in Wheelie bin: bintang di atas gerobak sampah

Signum= pertanda (Latin)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s