Hari-Hari Datang, Hari-Hari Pergi

Tak peduli berapa pun lanjutnya usia mereka semua saat pergi,

atau dalam keadaan bagaimanapun,

kau akan merindukan mereka.

(The Day I Die -Fannie Flagg)

Aku tahu, pada akhirnya semua orang akan pergi. Satu demi satu, dengan pertanda, atau tanpa permisi. Cara mereka pergi pun terbagi dalam dua hal. Pertama, masih ada kemungkinan untuk bertemu tapi sudah tidak bisa bersama lagi (dan kemungkinan) untuk selamanya atau kedua, murni untuk selamanya.

 

Dalam cara mereka pergi untuk yang pertama, mungkin mereka akan meninggalkan bekas yang sungguh tak enak di hati. Rasa sesak, sakit, terluka, dendam(?), merasa dibuang (?), trauma, dan perasaan negatif lainnya. Untuk beberapa menit, jam, hari, minggu, bahkan tahun, peninggalan bekas tak enak di hati itu, di sebagian orang, akan bisa tumbuh menjadi penyakit fisik sungguhan. Sakit hati pun, sungguh, akan bisa berujung pada kematian jika tidak segera diobati (atau menemukan cara untuk menolong diri sendiri). Semakin lama proses penyembuhan pada perasaan tak enak di hati itu, sebagian menunjukkan betapa dalam kenangan dan bahkan trauma yang tertanam dan sulit hilang di pikiran. Apalagi ketika dihadapkan pada ujian antara kata-kata “aku sudah melupakan dan baik-baik saja” dan dihadapkan pada kenyataan dipertemukan kembali dengan masa lalu.

 

Dalam cara mereka pergi untuk yang kedua, ada dua hal yang biasanya terjadi (seperti yang sudah disebutkan): dengan pertanda atau tanpa permisi. Saat dia meninggalkan pertanda, kita telah melakukan segala persiapan dengan sebaik mungkin. Baik secara fisik mau pun mental. Namun saat kepergian itu akhirnya terjadi, untuk dua hal yang biasanya terjadi, sungguh, separuh jiwamu seperti telah dibawa pergi entah ke mana. Semuanya terasa kosong. Hampa. Bahkan ketika bersedia makan satu dua suap setelah berhari-hari menyibukkan diri dengan duka dan air mata, yang dimasukkan ke dalam mulut itu tak lebih semacam cara agar kau cepat bisa tidur dan bisa bermimpi untuk bisa bertemu dengan dia lagi.

 

Kita pun kadang membayangkan bagaimana jika posisi kehilangannya menjadi dibalik, kitalah yang akan pergi dan Tuhan telah memberikan pertanda itu. Kita, jika kita perfeksionis dan cukup secara finansial, segala kemungkinan buruk telah diminimalisasi, ditulis, diarsip, disimpankan, bahkan diberi tanda ‘kalau aku tak ada besok, tolong bacakan ini di depan mereka’ atau semacamnya. Saat suatu malam kita iseng melihat amplop ‘bertanda’ kita sendiri itu dan membaca isinya, kita bahkan tak sanggup meneruskan karena dada tiba-tiba sesak, kedua pandangan menjadi kabur, dan menit terasa demikian panjang dan sendu.

 

Sesungguhnya semua perasaan itu wajar dan manusiawi sesuai dengan porsi kedukaan dan kehilangan masing-masing. Dan luar biasa manusiawi dan sekaligus menyayat hati ketika kita sanggup merasakan ‘sepatu’nya atau setidaknya membaca kenangan/sejarah kenapa mereka tak mudah lupa dan ‘ikhlas’ melepas …

 

Aku pernah mendengar kisah seorang wanita yang memiliki kemampuan mengingat di atas rata-rata manusia lainnya. Dia bahkan ingat apa yang terjadi di masa lalu. Bahkan setelah berpuluh tahun berlalu, dia ingat apa acara tv pada hari itu pada tahun-tahun yang lalu dan siapa pembawa acaranya dan sedang dalam cuaca apa dan apa yang terjadi di sekitar ruangan saat itu terjadi. Setiap incinya.

Lalu wanita luar biasa itu diberi cobaan dengan kehilangan orang yang sangat dicintainya untuk selamanya, suaminya. Bayangkan saja ketika dia harus tinggal di rumah itu, lalu dia memasuki sebuah ruangan, memegang setumpuk buku yang membuat dia teringat tentang kencan pertamanya bersama suami, menyeret bangku lalu mengingatkan tentang pindahnya mereka ke rumah itu, dan lainnya, setiap hari, sepanjang hidupnya.

 

Kita, sebagian, akan lebih mudah bicara saat kita tak pernah ada di posisi mereka. Kita hanya melihat mereka yang kehilangan sedang merasakan kehilangan, frustasi karena sikap kehilangan mereka menjadi-jadi, lalu pada akhirnya kita memaksa untuk mengatur kehidupan mereka agar lebih baik. Namun kenyataannya, sebagian, malah menjadi lebih buruk. Ini dilema sesungguhnya. Tak ada yang benar-benar salah. Juga tak ada yang benar-benar benar. Well … Ini topik yang cukup sensitif, sebenarnya. Tapi sesungguhnya aku sedang sangat bingung menerjemahkan bagaimana perasaanku sendiri sekarang. Mungkin karena aku sedang dalam proses memahami keadaan dan kerumitan pikiran di dalam otakku sendiri sekarang ini.

 

Kehilangan itu … tak ada yang mudah. Apalagi ketika kau dikelilingi dua kawan baik yang nyawanya antara hidup dan mati dan lalu mengajakmu bercanda soal kehidupan dan kematian secara bersamaan lalu kau bingung apakah kau harus tertawa lalu menangis, menangis dulu baru tertawa, atau tertawa dan menangis bersamaan pula, bersama-sama mereka.

 

Rasanya kau ingin bilang bahwa ini bukan pertempuran seorang diri antara dia dengan peperangannya … Kau ingin bilang ini juga pada akhirnya menjadi pertempuranmu … Kau ingin bilang bahwa kau pun merasakan apa yang mereka rasakan … Bahkan ketika kau suka sekali bicara panjang lebar, kau ternyata sedang menyembunyikan perasaan-perasaan itu pada mereka, kau menyembunyikan kata-kata ‘aku bisa merasakanmu … kesakitanmu …’ Kau ‘berpura-pura’ untuk membuatnya ‘tenang’ padahal kau pun juga tahu, dengan omong kosong yang kau buat, segalanya menjadi bertambah hening dan memuakkan … sekaligus menyedihkan … untukmu sendiri.

 

Kau menjadi demikian aneh menjalani hari-hari. Perasaanmu menjadi ‘flat’, cenderung hampa. Tapi disisi lain, kau juga demikian tenang dan sekaligus sedih. Kau sungguh menjadi demikian membingungkan. Lalu saat kau duduk di sebuah coffee shop suatu hari, menyediakan waktu untuk bisa bertemu satu temanmu yang lain, teman yang kau harap dia bisa menjadi tempatmu bersandar sejenak saat semuanya demikian berantakan dan tak terkendali, mencoba mengawali segala hal dan memulai berbagi kisahmu dengannya, namun belum genap lima menit dia duduk, dia mengecek handphonenya, berdiri dari kursinya, meminta maaf karena mendadak ada janji, lalu bersiap pergi meninggalkanmu, membuatmu –sesungguhnya- terkejut. Yang sanggup kau lakukan saat itu, setelahnya, hanya tersenyum tanpa melihat wajahnya, lalu memandang punggungnya yang kian menjauh, melewati pintu coffee shop, lalu pergi berlalu.

 

Kau lalu merasa teman paling baik saat itu adalah tambahan tiga cangkir teh panas lagi dan hujan yang terus turun sepanjang sore. Entahlah. Mungkin itu bukan hari baikmu. Itu saja.

 

 

 

One thought on “Hari-Hari Datang, Hari-Hari Pergi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s