Jalan Panjang*

Kepada kawan yang tak kukenal,

lebih dari setahun yang lalu seorang kawan kritikus memperkenalkan aku pada seniman dunia bernama Vincent Van Gogh lewat sebuah novel biografi berjudul “Lust For Life” karya Irving Stone. Hampir empat bulan lamanya novel itu berada di tempatku. Bukan karena aku malas membacanya. Namun karena aku berjuang melawan kesedihan, kekelaman, nasib sial dan tragis seorang Vincent yang ada di hampir setiap halaman novel itu setiap harinya. Dia begitu hidup, dan membuatku seperti berada di tubuhnya, menjalani hidupnya dan merasakan setiap jengkal cerita suka dukanya.

Berabad-abad setelah kematian Vincent, sebagian orang masih memandang sebelah mata sosok Vincent. Beberapa yang ber’logika’, seperti yang juga dijalani Vincent semasa hidup, kemudian mengecap para seniman itu cuma pengangguran tanpa penghasilan, berakhir sakit-sakitan lalu mati menyedihkan. Kalau ‘beruntung’ bisa bertahan dia akan ‘gila’, kalau tidak kuat akan bunuh diri. Sebagian lain, mengganggap Vincent ‘cuma’ ‘beruntung’ karena lukisannya ditemukan seorang kolektor. Kalau tidak, Vincent hanyalah Vincent, rakyat biasa yang miskin yang kebetulan adalah seorang pelukis.

Namun, menurutku, Vincent Van Gogh adalah mutiara, buku panduan dan salah satu sumber kekuatan batin dan sudah sepantasnya juga merupakan inspirasi para seniman-seniman lain di seluruh antero jagad raya ini. Dedikasi, ketekunan, kesabaran, ketabahan, kesungguhan, dan prosesnya dalam berkarya sungguh patut ditiru. Bisa kau bayangkan kawan, bahkan untuk mendapatkan efek warna yang tak biasa seperti warna lukisan kebanyakan pada jaman itu, dia berjalan berkilometer jauhnya demi untuk ‘merekam’ warna-warna itu dan kemudian dituangkan ke dalam kanvas. Dia pertimbangkan masak-masak kenapa harus memilih warna-warna itu, mempelajari teknis setiap hari sampai tidak tidur, tidak makan, jatuh sakit, dan kenapa pula melukis pemandangan itu. Ada tujuan dalam setiap karyanya. Mungkin karena itu, makna dalam tiap lukisannya menyentuh sampai ke hati setiap mata orang yang melihatnya secara langsung.

Vincent adalah pria pendiam yang rajin pula membaca buku, kawan. Dalam kumpulan artikel ‘Klub Buku Pawon’ yang kutemukan, Vincent gemar membaca buku-buku Perancis hingga ayahnya selalu menentangnya berkata padanya, “Vincent, kau selalu berbicara tentang betapa kerasnya kau bekerja. Lalu mengapa kau membuang-buang waktumu dengan semua buku Perancis yang konyol itu?” Dan kau tahu jawabanVincent? “Ayah tahu, menggambar manusia dan pemandangan dalam kehidupan tidak hanya membutuhkan pengetahuan tetnang keterampilan tangan dalam menggambar, tapi juga membutuhkan pembelajaran yang amat dalam tentang karya sastra.”

Tak ada pemaksaan dalam berkesenian, begitu kata si kawan kritikus kepadaku. Dia masuk kapan saja tanpa permisi, dan bisa keluar kapan saja tanpa ‘resign’. Dan jika memilih bertahan, salah satu resiko yang dihadapi adalah seperti yang telah dijalani Vincent: dijauhi, dicacimaki, dianggap ‘menentang’ budaya, aturan, agama, dianggap sampah masyarakat hanya karena dia memiliki pemikiran dan tujuan berbeda dari kebanyakan. Sesederhana itu. Dan semenyedihkan itu.

Memilih bertahan tentu harus disadari bahwa jalannya memang tak mudah. Tak pernah. Akan pula ada proses kehilangan yang pahit, si kawan kritikus itu menambahkan. Pula, aku membaca beberapa buku, melihat beberapa kisah, merasakan, sungguh benar, bahwa perlu ketegaran yang cukup untuk ‘menentang’ arus jika tak kuat dengan ‘penghianatan’ dan kenyataan hidup lainnya.

Beberapa bilang bahwa menjalani hidup sebagai ‘artist’ tak begitu sulit sebenarnya kalau tahu caranya. Namun dengan segala kerendahan hati, kukira semua itu berhubungan dengan lokasi di mana dia berkarya, dan bertemu pula dengan orang-orang yang tepat yang membuat hidup si ‘artist’ tak begitu sulit. Jika tidak, akan demikian berbeda dan melelahkan adanya. Apakah seniman itu bodoh karena tak sanggup bertahan? Tidak begitu juga kesimpulannya. Urusan internal dan eksternal masing-masing individu adalah ujian-ujian para seniman yang juga cukup menyita waktu dan tenaga. Lalu jika kau demikian ‘lelah’ kenapa kau bertahan? Kau pasti bertanya begitu. Jawaban sederhananya anggap saja aku dan seni adalah sepasang suami dan istri yang sedang menjalani kehidupan berumah tangga. Akan ada masa-masa dimana waktu begitu sulit, tapi ketika kau yakin dia tujuanmu, dan kau yakin semua akan indah pada waktunya dengan tujuanmu itu, maka kau berjuang di situ, kau bertahan di situ. Atau, tanpa segala teori tetek bengek lainnya, karena hati dan seluruh ragamu sudah ada di situ.

Semarang adalah kota tempat aku dibesarkan. Aku muncul ‘tiba-tiba’ dan telah berjalan sejauh ini. Rasanya seperti menaiki satu bukit ke bukit lain tanpa henti. Jalan licin, bergelombang, panjang, lubang dalam. Sebagian perjalanan bertemu pula dengan hal-hal mengejutkan. Namun aku harus terus berjalan di antara arus.  Perempuan semacamku. Di kota ini. Aku cuma ingin terus bertahan tak tumbang pada segala hal. Pada segala ‘kata-kata tersembunyi’, pada segala perjalanan yang di antaranya bisa jadi me-rapel suka, duka, dan airmata.
IMG_0279

 

Semarang, 17 Desember 2014
Rana Wijaya Soemadi

*Jalan Panjang – Saykoji

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s