Perihal “Hidup itu Sederhana” dan Buku Panduannya

Kepada kawan yang tak kukenal,

aku mempertanyakan banyak hal dalam hidup ini. Meski sebagian orang menginginkan aku untuk diam dan menjalaninya saja, pikiran-pikiran randomku ini tetap saja sibuk berproses. Bahkan ketika aku bermimpi, aku pernah mendapati diriku sibuk berpikir tentang pikiran-pikiranku sendiri.

Lalu pada suatu hari yang cerah, aku menemukan sepotong kalimat ini dan lalu membacanya berulang-ulang di pikiran:

Hidup itu sederhana … karena itu dia sulit.

Awalnya aku bingung. Setelahnya, muncul serentetan pertanyaan seperti: pernah berpikir kenapa para jenius bisa menciptakan alat-alat sederhana yang bisa membantu memudahkan hidup manusia? Pernah berpikir bagaimana cara mereka bisa melalui proses dalam membuat alat-alat sederhana itu dan sebagian masih memaki-maki karena terasa kurang sederhana? Pernah berpikir kalau proses yang dilalui itu sulit setengah mampus hingga sebagian berakhir gila atau mati karenanya dan sebagian bahkan peduli setan? Tentu saja bukan sepenuhnya salah setan, tapi kadang setan juga diam-diam berperan dalam kepedulian yang sesungguhnya sangat tidak peduli tapi sok-sokan peduli itu. Mereka suka mengadu domba. Jadi, boleh saja menyalahkan dia. Tidak ada manusia yang melarang. Setidaknya begitu menurutku. Atau, abaikan saja urusan setan itu dan kembali ke soal hidup itu sederhana.

Sewaktu kecil –dan seingatku aku pernah cerita- ini yang kutahu tentang hal-hal sederhana soal hidup: Tertawa itu berarti bahagia, menangis itu berarti sedih, semua permen itu rasanya manis, dan semua orang itu baik. Semacam itu. Dan dalam lingkup kecil sederhana itu, aku dan, ya, kau, kau juga seperti mendapatkan buku panduan sederhana cara menjalani hidup. Kau melakukan sama persis langkah-langkah dalam buku itu agar bisa bahagia dalam kesederhanaan dan sederhana dalam kebahagiaan. Kau tumbuh dengan buku panduan itu dan merasa bangga dan bahagia ketika semua orang baik, ramah, senang dalam kebersamaan yang sederhana dan melakukan hal-hal seru yang sederhana persis seperti di buku panduan itu. Sempurna.

Sampai akhirnya … kau mulai mengenal buku-buku lain, bersalaman dengan pengalaman, dan berinteraksi dengan manusia-manusia. Lalu para manusia itu kemudian -dengan halus maupun kasar- mengenalkan bab-bab baru yang belum ada di buku panduan sederhana cara menjalani hidupmu tadi. Bab-bab baru itu seperti misalnya: cara mengatasi kepanikan saat buku panduan sederhana itu ketinggalan di rumah, cara menahan diri dari tidak berteriak ketika buku panduan sederhanamu tak sengaja kecemplung ke dalam lubang WC yang isinya belum kau siram sepenuhnya, atau, cara untuk menghadapi orang yang merampas buku panduanmu yang lalu merobeknya menjadi potongan-potongan kecil yang lalu membuatmu menangis karena tak sanggup lagi menata ulang semua itu yang lalu membuatmu kehilangan arah dan lalu membuatmu marah dan lalu membuatmu sedih dan lalu membuatmu berbeda dan menjadi orang yang tak pernah lagi sama hingga akhirnya buku panduan yang persis sama dengan yang lama kembali di atas tempat tidurmu saat kau tak begitu sibuk memikirkan semuanya tapi kemudian suatu pagi tak ada angin tak ada hujan buku itu hilang lagi dan membuatmu frustasi sampai kau sadar dia hanya terselip dibalik bantal yang lupa kau intip lagi dan kau kemudian over protektif terhadap buku itu hingga pada suatu waktu saat malam tidak begitu gila dinginnya buku panduan itu memutuskan pergi meninggalkanmu karena teramat muak dengan bentuk keterkungkungan yang kau berikan, meninggalkan jelak-jejak halamannya yang sudah usang di tepi jendela kamarmu, terbang tinggi, menembus tata surya, dan lalu menetap di planet pluto? Entahlah. Mungkin saja. Itu hanya contoh. Kau tak harus percaya.

Nah … Dengan begitu kau menjadi mengerti bahwa hidup tidak lagi sederhana seperti yang kau yakini sebelumnya.

Lalu kau, seperti aku, mulai bertanya-tanya tentang segala hal yang sederhana di sekitarmu. Kau bertanya kenapa langit itu biru? Bagaimana bisa kursi itu dinamakan kursi bukan meja atau parutan? Kenapa harus ada nyamuk jika seluruh tubuhmu mengalami bentol-bentol hampir tiap malam dan menyebabkan dompetmu menangis karena kau kehilangan ratusan ribu hanya untuk menebus obat malaria gara-gara nyamuk sialan itu? Kenapa saat pelajaran mewarnai nilai sempurna akan didapat kalau seluruh kertas itu dipenuhi warna-warna crayon? Kenapa manusia bisa bilang “aku sakit” padahal baik-baik saja, dan kenapa mereka bisa mengatakan “aku baik-baik saja” padahal kenyataannya tidak sama sekali?

Kau mulai paham bahwa hal-hal sederhana tak sesederhana yang dibayangkan. Kau lalu mulai meneliti hal-hal detail, teramat detail, hingga kepalamu seakan mau meledak. Kepala begitu riuh dengan beribu pikiran yang bahkan tak kau inginkan sekalipun hingga kau seperti berada di tengah-tengah badai yang maha dasyat, yang membuatmu menjadi orang yang cepat marah, yang membentukmu menjadi kepribadian yang benci apapun termasuk pada jepit rambutmu, yang menjadikanmu berbeda dari para manusia kebanyakan, yang menjadikanmu kemungkinan besar juga dibenci manusia lain karena kepribadianmu yang juga membenci orang-orang.

Sampai tiba-tiba, di tengah-tengah badai, kau akhirnya bisa dengan mudahnya tersenyum saat mendengar nyanyian burung di pagi, kau bisa tertawa saat melihat kucing dan anjing berkejaran, berguling-guling lalu berakhir tidur satu bantal bersama di malam harinya, kau bisa cekikian tidak jelas adanya saat empat jam lamanya kau mengecharge hape dengan kabel yang salah dan berusaha mencari colokan lagi untuk menge-charge hape dengan kabel yang benar dan saat itu listrik ternyata sedang mati.

Kau menjadi teman sang badai. Kau bisa duduk begitu tenangnya di tengah-tengah angin yang bertubi-tubi memporak-porandakan sekitar. Kau menjadi paham bahwa hidup memang tidak sesederhana seperti yang selama ini orang gembar-gemborkan. Bahkan untuk sebagian orang menjalani hidup yang sederhana adalah sebuah kemewahan. Tapi pada akhirnya kau bisa membuat semua itu menjadi begitu sederhana di hati dan pikiranmu hanya jika kau menginginkannya … menerimanya … melepasnya …

dan tak terlalu mempertanyakannya …

Sesederhana itu …

 

dan akupun masih belajar untuk menjadi sesederhana itu, sampai hari ini.

 

Selamat pagi.

Semoga harimu menyenangkan.

Terima kasih sudah membaca.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s