H-1. Bukit, Pick up dan Basecamp

Kepada kawan yang tak kukenal,

H-1, 23 Januari 2015.

#sketchanddestroy #penahitam #3YearsAnniversary

Bukit Banyak, Paralayang, Batu, Malang, Jawa Timur. Aku tiba di sana membawa satu tas ransel di punggung dan satu tas totebag besar di tangan, berjalan menanjak sejauh sekitar dua puluh lima meter dan kemudian duduk sendirian di sebuah warung kopi yang tutup. Masih terlalu pagi dan tak ada tanda-tanda satupun panitia di sana. Pun ‘simbol-simbol’ atau apapun yang berkenaan dengan penahitam. Aku sempat berpikir kalau aku mungkin saja telah tersesat di bukit yang lain. Toh, jika benar, aku masih bisa bertanya. Tapi alam di bukit banyak itu membuatku tak perlu mengkhawatirkan tentang apa pun.

Morning view

Kenapa perlu khawatir? Aku disuguhi pemandangan bukit dan gunung-gunung, dan gerombolan awan di langit biru cerah. Dengan rumput-rumput dan pepohonan di sekeliling sementara rumah-rumah penduduk yang jauh di sana tampak seperti kue-kue kecil yang tersedia untuk kapan saja bisa ku’petik’ dan kukunyah sebagai kudapan. Mereka seperti menyambutku dengan hangat sembari memelukku erat, tak ingin aku pergi cepat-cepat. Maka aku bertahan.

Sekitar pukul 11.15 WIB. Jalan tanah di depanku mulai dilewati satu dua orang tak kukenal, membawa plakat bertuliskan ‘beli tiket’ dengan font yang sangat familiar. Aku lega karena ternyata aku tak tersesat. Aku asing karena tak satupun dari mereka kukenal dengan baik. –Satu dari dua orang yang tak kukenal tadi pada akhirnya aku tahu dia bernama Pache dan di hari lain kami bertukar pinjam agar dia bisa leluasa bertugas dengan jas hujanku dan aku bisa agak ‘tenang’ mengatasi suhu dingin dengan jaket tebalnya. Terima kasih, Pache.- Jumlah panitia mulai banyak. Mereka naik dan turun beberapa kali untuk loading barang. Pigura-pigura di dalam box untuk pameran, tenda-tenda, kayu, semuanya bersama-sama diangkut ke atas. Beberapa menit kemudian, aku memerhatikan ada masalah dengan para tukang tenda dan panitia di bawah sana. Truk tidak mungkin bisa dinaikkan ke titik yang ditargetkan sehingga tak ada pilihan lain selain mengangkut besi-besi itu satu per satu ke atas dengan tenaga manusia. Sesekali aku melempar senyum dan lalu mengajak bicara para tukang tenda yang melewatiku, demi untuk menghibur jerih payah mereka. Setelah itu, tak lama, aku kemudian melihat Tian, mendaki bukit dengan membawa semacam pasak dan lalu mengajakku bersama-sama turun ke studio cygnus lab.

Senang. Itu perasaanku saat akhirnya, untuk pertama kalinya bisa berjabat tangan dengan Mas Didi. Orang yang dulunya asing, hanya kukenal lewat Account ID painsugar, sering kulihat sibuk berkeliaran di jejaring sosial, lalu entah pada suatu ketika kemudian tiba-tiba akrab, bercerita dan berbagi suka duka di inbox, lalu bisa bertemu muka. Mas Rio, pria istimewa yang hampir tak pernah duduk diam dan selalu mengerjakan sesuatu, apapun itu. Sampai satu dari beberapa kawan menuturkan cerita soal Mas Rio, bilang padaku, “tiap ngelihat dia sibuk begitu, ingin rasanya kukasih makan dia,” hahahaha. Simo, orang yang aku kira tidak bicara kalau tidak ditanya, kalem dan misterius, ternyata … lincah minta ampun! Aku berguru ilmu ‘ke-selow-an’ darinya. Mbak Agnes Deno, pada mulanya aku hanya membaca cerita-cerita, tapi lalu tiba-tiba saja pecah di malam hari aku kembali ke cygnus, izin numpang mandi ke beliau, dan terdengarnya seperti, “mbak Deno, aku ngicipin kamar mandinya ya …” Ya kali, porselennya bisa dimakan. Hahaha. Kawan-kawan lain yang semula asing, lalu menjadi tak terlupakan di hati dan ingatan.

Sore bergulir. Kami memikirkan cara agar lampion-lampion dan properti untuk photo booth di pick up itu terlindung dari hujan yang mulai turun mengguyur. Setelahnya, masalah lain datang. Mobil pick up yang semula baik-baik saja itu mogok. Berulang kali coba di gas, pick up tak bergeming. Mobil lalu didorong sekuat tenaga sampai salah satu kawan tak sengaja terjatuh dan lututnya berdarah.

Bersama-sama mendorong pick up untuk kesekian kali

Mungkin sekitar satu sampai dua jam kami duduk di tepi jalan Indragiri IV, menumpang berteduh dari gerimis yang terus mengguyur di halaman rumah orang, menunggu montir untuk memperbaiki kerusakan sembari berusaha menahan dingin. Salah satu warga yang baik hati bahkan menawari kami halaman rumahnya sembari menyuguhkan minuman. Hujan datang dan pergi. Montir sedang mengutak-atik kondisi di bawah pick up. Aku duduk di pojok halaman rumah orang dan masih saja ada yang sempat memikirkan aku dan menyuruhku untuk istirahat saja di basecamp cygnus …

Pick up sudah kembali normal. Spot terbatas. Maka diputuskan sebagian saja yang berangkat naik menuju lokasi. Yang lain save tenaga untuk back up di malam dan pagi harinya. Hujan menderas lagi. Dan angin bertiup cukup kencang. Aku tak bisa membayangkan keadaan teman-teman laki-laki yang menjaga properti di belakang pick up itu. Tapi mereka dan kami semua tetap bisa tertawa-tawa dengan kekonyolan dan kedinginan luar biasa yang kami rasakan sore itu. Kanan, kiri, belakang dan depan, sepenuhnya kabut. Jarak pandang terbatas. Sesekali kaca di depan si kawan yang sedang menyetir mobil, Gaplex, kami (aku dan Mas Ruru) lap bergantian agar dia bisa melihat ke depan dengan jelas. Sampai di parkiran, dengan hujan yang makin menderas dan kabut tebal sementara jaket dan sweeterku ada di atas, aku, Mas Ruru dan Gaplex membuka pintu pick up dan lari ke tepi mushola. Aku spontan merapal mantra, “mati alus” sambil menggigil girap-girap. Gaplex tertawa melihat tingkahku sampai pipinya merah. Sialan. Hahaha.

Mas Evan membawa meja menaiki jalan menanjak.

Kami tiba di atas bukit dengan sikap penuh kewaspadaan dan kehati-hatian akibat tanah yang licin dan lumpur sementara di kanan dan kiri adalah jurang. Namun tetap, persiapan terus dilakukan. Tak tega rasanya melihat kawan-kawan masih naik turun mengangkat bangku-bangku dan benda-benda berat dengan kondisi jalan seperti itu. Namun -dan lagi-lagi- aku karena sudah datang jauh-jauh dari Semarang, disuruh istirahat saja sementara keadaan masih berantakan waktu itu di atas. Mas Didi memintaku kembali dan menambahkan, biar kamu bisa bantu-bantu di basecamp. Tidak ingin berdebat dan menambah beban, aku iyakan permintaannya. Juga, di atas sana, aku pasti tak diperbolehkan memegang benda-benda berat meski mereka nyata-nyata terlihat ngos-ngosan dan kelelahan. Namun tetap, mereka mengerjakan itu dengan iringan tawa di antara kerja keras.

Salut!

-bersambung-

5 thoughts on “H-1. Bukit, Pick up dan Basecamp

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s