Day 2. Hati Hangat di Antara Kabut

Day 2, 25 Januari 2015

Kawan, kadang ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan hanya lewat kata-kata. Dan kadang, saat kau menyaksikan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan lewat kata-kata, dalam hatimupun kau masih tidak bisa berkata-kata. Itu semacam kehilangan kata-kata di dalam kata-kata itu sendiri. Kau juga tidak sempat bertanya-tanya. Hatimu dipenuhi dengan perasaan syahdu, haru, bahagia, ingin menangis, lalu takjub dan berakhir dengan rasa syukur karena telah menjadi bagian di dalamnya.

Hari kedua sekaligus hari terakhir acara #sketchanddestroy #penahitam #3YearsAnniversary adalah salah satu contohnya. Tentu, sebagai permulaan, aku tetap berusaha untuk menjelaskan semua yang kualami ini kepadamu lewat kata-kata yang masih bisa kujelaskan, kawan. Dan sebagai permulaannya, pagi di hari kedua itu, aku tidur di tenda pos 1 dan bangun dengan kondisi lebih baik. Vicky, kawan di pos 1 yang tahu kakiku sakit malam sebelumnya, sudi meminjamiku sandal. Namun saat keberadaannya tak kutemukan di keesokan paginya, untuk sementara waktu, aku meminjam sandal salah satu kawan (kukira itu sandal Simo) dan kemudian naik ke bukit Paralayang untuk melihat matahari terbit.

IMG_0436

Kunikmati setiap detiknya dengan mula-mula mengamati lingkungan sekitar tenda. Pepohonan bergumul dengan selimut kulit kayu cokelat berlumutnya yang terlihat basah dan segar sementara kabut menipis turun di sekitar akar-akarnya, burung-burung berkicau, katak-katak yang mungkin lupa jalan pulang masih bernyanyi di sudut-sudut jurang, dan diatas sana, langit biru tua dan muda bercampur oranye dan merah muda yang terlihat seperti lolipop mencair yang ingin sekali kujilat ‘rasa’nya.


Pelan-pelan kutapaki jalan menanjak yang sebagian darinya masih berbentuk bebatuan. Puluhan pepohonan mengapit di sisi kiri dan kanan jalan. Sesekali aku berhenti untuk mengatur napas. Sesampainya di atas, puluhan orang sudah memenuhi bukit paralayang, menanti matahari untuk terbit di ujung sana. “Hamparan langit Maha Sempurna”, kata Padi. Seperti kolam awan dengan gunung-gunung yang sesekali mengintip dan lalu menghilang dan lalu mengintip lagi.

Rasanya tidak ingin cepat-cepat beranjak. Namun aku harus turun untuk mengembalikan sandal, barangkali si empu sudah bangun dan mencarinya. Aku teringat sesuatu dan lalu laporan via sms dengan Mas Didi dan dibalas dengan pengumuman meeting. Aku masih mencari Vicky yang keberadaannya entah di mana. Mungkin dia pulang. Atau mungkin dia berada di salah satu tenda panitia. Aku tak memiliki nomor hapenya. Pun dari semua panitia yang kutemui pagi itu tidak ada yang tahu Vicky. Aku sampai di tenda pos 1 dan masih mencari Vicky …

* * *

Vicky ibarat malaikat penolongku pagi itu. Dia meminjamiku sandal dan mengantarku untuk pergi menumpang mandi di salah satu rumah penduduk sebelum kemudian kembali ke pos. Karena pos 1 sudah tidak lagi melayani pembelian tiket dan berpindah ke pos 2, maka sebenarnya aku bingung mau stand by di mana.

Akhirnya aku memutuskan membantu Simo dan Tian untuk menata artwork and stuff di tenda lapakan black market. Berada di sana sekitar satu sampai dua jam sebelum kemudian aku keluar menuju pos 2.

Siang menjelang dan langit mendung. Orang-orang mulai ramai berdatangan membeli tiket dan masuk menikmati acara. Aku masuk di pos 2 dan duduk di samping Yoga yang sesekali merespon pertanyaan di HT, mengobrol hal remeh temeh yang membuat kami berdua tertawa sebelum kemudian hujan menderas dan HT kian sibuk dengan suara-suara.

 

“Tenda lapakan mulai bocor … Butuh minimal tiga orang untuk stand by …”

“Enam…”

“lapakan mulai banjir”

“Jas hujan …kami butuh jas hujan… “

 “Cari pinjam pacul untuk membuat selokan agar tidak banjir”

“Kalau ada yang belum makan, makan dulu … Jangan dipaksa.“

“Mbak Rana sudah makan?”

Siapa yang bertanya tadi. Aku mulai tidak konsen. Tubuhku mengigil kedinginan lagi sementara aku melihat teman-teman laki-laki di sekitarku sangat sibuk menembus hujan, berjalan tergesa-gesa ke sana dan ke sini demi mengatasi banjir yang mulai memasuki tenda lapakan. Kulihat kaki-kaki panitia telanjang memijaki lumpur-lumpur yang beberapa membuat perjalanan mereka menjadi goyah sementara tangannya sibuk membawa pacul, menembus hujan yang masih menderas. Sebagian kurasa diminta untuk membawa seplastik konsumsi untuk kawan-kawan yang belum makan. Aku lupa dia siapa, dan aku lupa dia dikirim ke mana. Mungkin dia ini Yoga, karena setelah kepergiannya, posisinya digantikan oleh Pache.

Di pos 2 ini, sesekali aku membantu mengambil makan siang dan snack yang letaknya di bawah meja kayu untuk kawan-kawan lain. Dari pos 2 inipun aku mendengar bunyi “cop, cop, cop” pacul yang dihujamkan ke tanah berkali-kali dan beramai-ramai oleh kawan-kawan panitia di balik gundukan bukit kecil itu. Mereka bekerja keras. Dan aku ingin sekali menangis.

* * *

Karena hujan, sinyal HT di pos 2 saling bertubrukan, menghilangkan suara-suara team, dan memunculkan suara-suara asing dan ajaib. Aku dan Pache kemudian mendengarnya dengan seksama, dan lalu nyengir bersamaan. Hujan masih mengguyur. Sebagian panitia masih membutuhkan jas hujan untuk mobile. “Ada satu (jas hujan) di stand nandvr dvlvr …” laporan di HT. Karena aku memakai jas hujan, maka aku bilang ke Pache untuk berjalan cepat mengambilnya menembus hujan. Sampai di sana, jas hujan tidak ada. “Ada di stand”, ulang HT. Aku kemudian kembali ke lokasi untuk kedua kalinya dan laporan yang sama, tidak ada. Dan ternyata sudah diambil oleh panitia lain. Karena fungsi panitia laki-laki lebih banyak untuk keperluan mobile dalam kondisi hujan seperti itu maka aku dan Pache akhirnya bertukar pinjam. Pache menggunakan jas hujanku dan aku memakai jaket tebalnya.

Chenka datang entah dari mana dan lalu menuju ke pos 2, menghampiri aku. Mungkin dia melihat aku kedinginan sekali dan lalu menawariku untuk bersama-sama memasuki warung kopi di seberang pos. Sembari memesan kopi untuk Chenka dan teh untukku, aku memikirkan Tian dan Simo. Mereka pasti kedinginan di dalam lapakan itu, pikirku. Aku cuma ingin membalas budi baik mereka yang sehari sebelumnya sudah take good care of me sekali. Chenka sudah memperingatkan kalau aku masih kedinginan dan jalan di lapangan tidak bagus, dan masih gerimis pula. Tapi pikiranku tak henti membayangkan kondisi Tian dan Simo, yang sudah berbaik hati menjaga artwork stuffku di tenda lapakan yang kemungkinan besar dingin dan mereka tidak bisa kemana-mana, maka aku tetap ke sana. Aku pamit sebentar ke Chenka, memesan dua kopi panas, dan lalu berjalan keluar menuju tenda lapakan. Dan benar saja. Medannya Allahuakbar!

Kopi panas sudah di tangan Tian dan Simo. Aku lega dan lalukembali ke Chenka. Kali ini aku lebih kedinginan karena ujung celanaku basah dan kotor karena sempat terpeleset dan aku cuci pelan-pelan agar tidak mengotori karpet warung. Chenka meminjami jaketnya untuk diselimutkan ke kakiku yang kedinginan sementara dia memesankan aku satu cangkir teh panas lagi. Mungkin sekitar setengah jam kemudian, Tian datang dan masuk ke warung kopi. Beberapa menit kemudian sebagian kawan dari Surabaya dan Makasar ikut turut bergabung mengobrol. Saat mendengar dan melihat aku tadi terpeleset, Chenka cerita kalau dia kemarin jatuh gelundhungan sejauh kurang lebih delapan meter karena mencoba berjalan melintasi jalan belakang backstage itu. Aku dibuatnya tak henti tertawa karena sesekali dia membully dirinya sendiri. =))

IMG_0471

Senja bergulir. Cuaca tak lebih baik dari sebelumnya. Kabut menyelimuti, dan hujan turun lalu berhenti dan lalu turun lagi. Mas Didi sempatkan bertanya kenapa aku tidakmemakai jaket. Ingin jujur bilang ke dia bahwa permasalahan dengan jaket dan sweeter yang akunya di mana dia di mana yang masih terus berlanjut dari hari pertama sampai hari itu memang agak amsyong dan menjengkelkan. Tapi ya sudahlah. Aku katakan pada Mas Didi, ada tapi ketinggalan di pos 1. Mas Didi ingin meminta satu kawan untuk mengambilkan sweeter/jaketku. Namun karena aku sendiri sudah melihat medan yang ditempuh tidak mudah, terlebih saat naik dan turun ke dan dari gerbang event dan mereka butuh save tenaga untuk sesuatu yang lebih penting, aku bilang tidak usah. Aku bisa bertahan …

* * *

Malam mulai larut. Panitia datang dan pergi. Aku masih berada di pos 2. Kabut menebal dan aku kedinginan. Beberapa kawan yang berada di warung kopi bersamaku tadi memutuskan untuk turun ke bawah, mencari warung dan makanan yang lebih hangat. Aku memutuskan untuk tinggal, menyimpan tenaga, dan mengistirahatkan kaki yang sudah kelelahan. Kondisi di sekitar semakin hectic. Ada urusan dan trouble dengan genset, backstage, beberapa ‘pengunjung’ yang nakal, ada pula yang mengaku-ngaku sebagai panitia dan lalu ‘menarik pajak liar’ pada calon pembeli tiket art fest. Kami bahkan mendapat laporan dari salah satu panitia bahwa ada tiga orang yang pingsan yang kemudian dibawa di tenda kesehatan untuk ditangani lebih lanjut.

IMG_0477

Lalu …

Mungkin ini seperti kau sedang menyaksikan seseorang telah bertempur habis-habisan di sebuah medan peperangan yang bukan pula sebuah medan peperangan yang penuh dengan peluru dan darah. Mungkin ini lebih tepatnya seperti ketika kau sedang menyaksikan seseorang telah memberikan segala yang terbaik yang dia punya hanya saja tenaga yang tersisa telah habis terkuras … lalu dia tumbang … namun dia masih saja bertanya kepadamu dengan lirih,

“kamu nggak kedinginan …

kamu sudah makan …

kamu baik saja …?”

Hatiku hangat …

Sungguh hangat …

Kawan, aku menyaksikan kerja keras kawan-kawan dibalik persiapan Art and Music Camp Fest 2015 3rd Anniversary penahitam. Mungkin perjuangan mereka luput dari kamera atau dokumentasi manapun. Wajah-wajah mereka tak terekam satupun di kamera digital. Mungkin mereka dilupakan. Tapi mereka, kawan-kawan lama dan baru ini akan kuingat selalu lewat tulisan ini:

kawan yang menggenggam erat pergelanganku saat aku terpeleset jatuh di malam terakhir dan membimbingku untuk berjalan seimbang sampai ke parkiran bawah,

Gaplex, Mas Tio, Mas Evan, Mas Evan 2😀, Mbak Mayang, Mas Poltak dan kawan-kawan dari Bandung, Mas Adi Gunawan dan segenap kawan-kawan dari Makasar (kalian keren, sumpah!),

Chenka untuk segelas teh panas, jaket dan cerita-ceritanya, Putra Iman Jaya, Yoga yang mirip Dodit :p, Pras si rambut brokoli kembang asoy :p,

Mas Ruru, Mas Ulin, Mas Waguna Wiryawan, Mas Asep, semua kru dan penghuni studio cygnus lab yang berbaik hati menolong dan memberi tumpangan untukku tidur dan berteduh, dan kawan-kawan baru yang mungkin luput dari jajaran nama-nama yang kusebutkan ini, Mas Jibe yang meminjamiku selimut tebal, Pache,

Vicky untuk sandal dan kehangatan hatinya, Simo Hadi, Tian Fajrianto,

Mbak Agnes Deno, Mas Didi Painsugar, Mas Rio Krisma,

dan seluruh panitia dan volunteer

Kalian luar biasa. Sungguh. Terima kasih sudah berbagi suka, duka, tawa, dalam gempuran lumpur, tanah licin, hujan badai, dan hawa dingin menusuk tulang. Tanpa kalian, event ini tidak akan terwujud!

Terima kasih untuk segala persahabatan dan sambutan yang begitu hangat.

I’m coming home now …

 

See you when I see you! 😉

part of crew, artist, participant

Art and Music Camp Fest 2015 3rd Anniversary penahitam

penahitam Semarang

Rana Wijaya Soemadi

Read also:

H-1 Bukit, Pick Up dan Basecamp

Day 1 Drop Day

crowded pic day 2 visit irocumentary

4 thoughts on “Day 2. Hati Hangat di Antara Kabut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s