[WIP] Aku mati, sekali.

Ada sekumpulan penduduk yang gaduh di kepalaku. Mereka menyebar ke segala penjuru kota otakku lalu memecahkan segala hal yang ada, meremas semua syaraf dan kemudian membuatku mengerang kesakitan.

Paku-paku tertancap acak di mana-mana. Hentikan, kataku. Namun palu itu tetap menghujamkan paku di sudut-sudut otakku, membuatku berguling, meringis, menangis … namun mereka tetap bertahan dalam gaduhnya. Dan seorang penduduk menyalakan bara di sepasang mataku yang saat itu terasa dibakar … panas. Aku mengerang tanpa suara. Belum cukup puas, penduduk itu datang kembali malam ini … Aku meringkuk dalam sunyi, meninggalkan pensil-pensil di tanganku. Bergelut dengan otak sendiri.

* * *

Aku lalu mati, sekali. Setidaknya ketika malam belum genap dengan bulan purnama di angkasa sana dan udara sedemikian dinginnya. Mataku meredup, denyut melamban, tubuhku terkapar di lantai yang telah sejam lamanya menggigilkan tulang dan sedetik kemudian membekukan detak jantungku. Kepada yang kukasihi, aku mencoba mengingatnya sekuat tenaga agar pesanku sampai. Namun otakku tak lagi bekerja saat itu.

Aku sendiri, biru, tak ditemukan.

* * *

Malaikat maut duduk di sampingku sembari menyesap campuran teer aspal dan larva bumi yang meletup-letup di dalam cangkir yang bertabur remahan kayu manis yang dia sebut teh.

Malaikat maut itu berkata dia memilih tubuh indahku untuk dijadikan contoh anak adam dan hawa … Jika saja dia tahu dan dia pasti tahu, malaikat maut itu telah memilih tubuh yang kecewa pada banyak hal.. Pada hati manusia yang tak lagi manusiawi…tak beradab…tak pernah memikirkan perasaan para gajah–yang ribuan diantaranya telah mati, mengantri panjang sekian puluh kilo meter di akherat,  melapor kepada malaikat bahwa mereka didzolimi sedemikian kejinya- tak pernah membayangkan bagaimana jika gading-gading gajah yang manusia pangkas adalah tubuhnya sendiri, tangannya sendiri, jemarinya sendiri… Tapi malaikat maut itu bilang bahwa tubuhku, bahwa aku, istimewa.

Lalu tubuhku yang telah membiru itu kemudian bergetar hebat. Pelan-pelan dia berubah…seperti kerasukan…dan  malaikat maut hanya meliriknya. Aku hanya diam menyaksikan. Tak marah. Aku bahkan tak mengerti kenapa mati bisa seaneh ini …

-BERSAMBUNG-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s