Kebun Di Atas Dak Kamar

Ada kebun di atas dak kamarku. Kebun tanpa sepetakpun tanah dan aku siap memetik buahnya Sabtu sore kemarin. Berbekal tas selempang berbahan terpal biru (yang berisi air putih gelas, cutter, banner –aku tahu yang kau pikirkan -) dan ember di tangan kiri, aku naik anak tangga –yang pada awal-awal mula selalu sukses membuatku panik merinding disko – menuju ke dak.

Sampai di atas, aku sumringah melihat hamparan warna hijau dan buah bergelantungan di antara dedaunan. Isi dari kebun itu hanya satu jenis tumbuhan saja, sesungguhnya, dan akarnya berasal dari bawah. Bulan demi bulan dia merambat ke atas dan lalu sampai ke dak kamar dan melilitkan daun-daunnya ke tali-tali yang sudah dipersiapkan. Tanaman merambat itu berasal dari buah markisa yang pernah diberikan oleh seorang kawan kepadaku dan bijinya kusebar di halaman belakang. Tanaman itu tak hanya merambat di atas dak kamarku, tapi juga dak gudang dan atap rumah tetangga.

Sudah lama aku tak naik. Terakhir aku ke atas dak saat tahun baru, kurasa. Melihat kembang api dengan naik ke atap (posisi lebih tinggi dari dak), dan lalu turun lagi ke dak untuk menulis sesuatu atau sekedar tiduran, menatap hamparan bintang yang sesekali berdansa untukku.

Merasa ada yang kurang, aku turun lagi ke bawah dan naik ke dak dengan membawa plastik, sapu lidi, dan pisau. Langit mendadak muram sore itu. Kupikir awan gelap itu hanya lewat tanpa menangis. Namun tetap tak lupa aku mengambil jas hujan, berjaga-jaga, siapa tahu gerimis. Sampai di atas, aku segera memetik beberapa buah markisa yang sudah terlihat kemerahan, tanda sudah matang, dan memasukkannya ke dalam ember yang sudah kupersiapkan. Beberapa tanaman yang merambat terlalu ke genting tetangga juga mulai aku cabuti. Belum juga mengeksplorasi lebih banyak sudut dan mulai berniat membersihkan beberapa daun yang kering, hujan turun. Mula-mula hanya gerimis yang temponya perlahan. Aku segera memakai jas hujanku. Beberapa detik kemudian, hujan itu menderas, tajam, dan disertai angin kencang. Begitu kencang dan derasnya karena disertai badai sehingga jas yang kupakaipun tak cukup melindungi kepalaku dari kebasahan.

Aku menjerit sekaligus tertawa saat itu. Menjerit karena segala rencana asyikku berantakan dan tertawa karena hujan yang deras ini menggelikan dengan cara yang tak disangka. Pada awalnya aku ingin menikmati waktu lebih lama dengan duduk-duduk juga dan atau melihat senja lewat atap dan berencana kembali lagi di malam harinya untuk tiduran di atas dak sembari menikmati hamparan bintang di langit. Rencana.

Untuk menghindari petir, tentu saja aku harus segera turun. Sempat terpikir anak tangga di ujung dak yang baru kupegang dan kulihat basah dan licin itu juga akan jatuh karena saking kencang anginnya, dan aku berakhir dengan tangan atau kaki di gips. Namun tidak, aku baik-baik saja dan sampai di bawah dengan selamat. Hanya kedinginan dan basah, dan itu normal.

Kemungkinan besar alam memintaku untuk menikmati buah yang kupetik itu secukupnya, dan membenahi kawan tanamannya di lain waktu, waktu yang lebih baik. Kurasa aku tak harus sedih dengan bencana kecil yang kualami sore itu. Dan itupun bukan pula bencana kurasa. Dan sore itu masih tetap menjadi soreku. Sore yang membuatku bisa bercerita seperti ini.

Ngomong-ngomong, sari buah markisa yang kupetik sore itu, sudah kuperas dan masih menjadi teman sehatku sampai tulisan ini kau baca. Kini aku akan melanjutkan berkarya lagi.

Jadi, semoga harimu menyenangkan, kawan!

What A Wonderful World – Louis Armstrong #nowplaying

IMG_0699copy

10 thoughts on “Kebun Di Atas Dak Kamar

  1. nengwie

    Waaah seru sekali bayangin saat kehujanan di atas dak nya..

    Markisa jenis besarkah ini..?? eeeh Markisa itu banyak macamnya ya..?? Yg di Medan yg kecil2 Ungu itu juga Markisa ya..??

    Like

    • ranawijayasoe

      I have no idea!😀
      Kelihatan besarkah? Mungkin sudut pengambilan gambarku yang berkesan buahnya besar banget yah?😀
      Buah markisa di atas dak kamarku hanya sebesar bola kasti dan kalo matang warnanya merah keungu-unguan.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s