Pelukis dan Kisahnya

Pada akhir Februari yang lalu, belum genap tengah malam, muncul status milik seniman, Oky Rey Montha, “ketika sesuatu itu sangat mudah … di sisi lain itu menjadi sangat susah.” Dipikir-pikir itu benar. Menyebalkan juga, memang. Sekaligus –untuk sebagian orang – berakhir memilukan. Dan itu sungguh sering terjadi pada kehidupan sehari-hari. Dalam hal berkarya, cinta dan seni menjalani hidup.

Saat melihat seorang pelukis begitu asiknya dengan lukisan-lukisan yang tengah digarap, seorang kawan pernah bilang bahwa ‘membuat lukisan itu ternyata gampang’. Tinggal mencampurkan beberapa warna diatas palet, menghabiskan waktu berjam-jam di depan kanvas, lalu pada akhir hari kemudian, voila! Sebuah karya seni siap dipresentasikan ke publik. Rutinitas melukis membuat si pelukis dikesankan mudah melakukan semuanya karena sudah menjadi kebiasaannya melukis sebuah lukisan.

Lalu pernahkah kau bayangkan saat si pelukis bangun di pagi hari, mempersiapkan secangkir kopi atau teh sebagai teman, berharap bisa menghabiskan tiga sampai empat jam di waktu paginya dengan melukis seperempat atau hampir separuh bagian dari semuanya dan dilanjutkan untuk diselesaikan lagi setelah istirahat nanti, namun kenyataannya berjam-jam duduk, kanvas di hadapannya masih saja kosong? Sang pelukis berusaha memancing lukisan yang dimaksudkan dengan menyeketsa cepat berlembar-lembar gambar di atas kertas. Sketsa-sketsa itu mengalir begitu mudahnya, begitu derasnya, hingga dia yakin bahwa setelah ini dia pun sanggup menyelesaikan lukisan yang satu itu. Dia lalu kembali ke dalam media kanvas setelah puas dengan sketsa kasarnya. Dan berjam-jam kemudian, hasilnya tetap sama. Kanvas itu masih saja kosong.

Si pelukis mulai sebal dengan dirinya. Sudah berhari-hari karya yang dia inginkan tak juga ‘bertelur’. Sempat berpikir mungkin dia lelah dengan rutinitas. Karena itu, pada akhir pekan dan pagi yang dingin dia pergi keluar untuk berjalan-jalan. Udara segar, dedaunan hijau, dan bunga warna-warni. Beberapa angsa yang menenggelamkan kepalanya di dalam sebuah danau, diamatinya lekat-lekat. Semua pemandangan itu memenuhi otak pelukis. Hanya langit yang bimbang dengan gumpalan awan yang abu-abu tapi tak hendak menangis ataupun cerah. Dan itu tak membuat si pelukis surut senyumnya, sampai kemudian tak sengaja dia melihat perempuan itu. Perempuan yang tiba-tiba saja membuat si pelukis seolah-olah merasa seperti ada jemari lembut yang menyentuh tangan, dada dan lalu pipinya hingga kedua matanya bertemu dengan kedua mata perempuan itu. Kenangan-kenangan saat bersama, suaranya, tawanya, kehangatan hatinya yang membuat dia yakin bahwa dua insan manusia yang semula asing, berkenalan dan lalu begitu dekat itu saling mencintai dan ditakdirkan untuk bersama. Hingga kemudian keadaan membuat salah satu menjadi begitu jauh tak tersentuh. Apa yang terjadi? Dada terasa disayat sembilu. Semuanya seperti jajaran foto-foto klasik yang bertebaran silih berganti di kepala dan lalu memudar, dan menyisakan pemandangan punggung si perempuan yang pelukis tatap saat itu, berharap si perempuan tak ke mana-mana, tak jauh, tak pergi lagi, tetap di sisi. Namun perempuan itu tak tahu dan terus berjalan menjauh. Si pelukis telah merasa kalah dengan dirinya sendiri. Kesempatan kedua yang seharusnya bisa dia lakukan dengan awal yang sederhana seperti, ‘apa kabar’, menguap begitu saja. Tak ada keberanian menghampiri. Pagi yang sederhana itu berubah begitu rumit karena pikiran-pikirannya sendiri. Dia membiarkan perempuan itu pergi begitu saja, untuk ke dua kalinya. Langit bergemuruh. Semua orang, termasuk si pelukis lalu berjalan tergesa-gesa ke arah pulang. Setelahnya, hujan turun demikan lebat.

Musim dingin beberapa minggu kemudian, perempuan itu masih menari-nari dalam ingatan. Si pelukis kemudian melukis perasaan bersalah dan rindunya terhadap si perempuan di atas kanvas itu. Semuanya mengalir begitu mudah dan syahdunya. Warna merah, biru, orange dan kemudian cokelat kehitaman. Ada dua tangan saling bergenggaman di sana. Genggaman tangan yang banyak. Genggaman yang tak mau lepas hingga kemanapun mereka pergi, tangan itu masih ingin bersama hingga senja tiba. Genggaman-genggaman yang membuat hati si pelukis hangat. Wajah si perempuan tak lupa juga pelukis pertegas dan tonjolkan agar si perempuan tahu bahwa lukisan itu bercerita tentang dirinya. Wajah yang sangat pelukis rindukan selama ini. Segala perasaan sentimentil datang setelah semuanya selesai. Dalam gambarannya, ketika karya itu kemudian dipamerkan, si pelukis ingin bilang kepada semua orang bahwa perempuan yang ada di dalam lukisannya sungguh istimewa pula di hati dan si perempuan ada datang menyaksikan. Semuanya begitu indah di bayangan sampai kemudian keesokan paginya, saat dingin menggigilkan tubuh dan membuat si pelukis terbangun dari tidurnya, antara sadar dan tidak, dia melihat ada telur ‘menetes’ persis di pipi si perempuan dan sekian detik kemudian, saat si pelukis sepenuhnya sadar, tanpa bisa dicegah, cicak ikut terpeleset jatuh dan menggencet telurnya sendiri dan membuat wajah perempuan di dalam lukisan itu meleleh dengan cara yang sangat tidak elegan. Cicak terpeleset. Dan jatuh. Dan cat minyak di atas kanvas itu masih basah. Si cicak meninggalkan banyak jejak panik di atas kanvas itu, berusaha menyelamatkan diri dari ancaman pembunuhan yang, dengan sadar, akan dia lalui sebentar lagi.

Pagi masih dingin. Jendela-jendela berembun. Televisi baru saja meramalkan prakiraan cuaca untuk hari itu. Cerah, katanya. Sementara awan gelap seolah-olah bergerombol bergermuruh tak henti-henti disertai dengan sambaran petir di atas kepala pelukis. Pagi yang indah. Sungguh indah.

Rana Wijaya Soemadi

Maret 2015

2 thoughts on “Pelukis dan Kisahnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s