Sebuah catatan kaki menjelang pagi

Lihatlah badai itu, kawanku.
Dia datang memberi pertanda. Memanggil hujan dan menghujamkan airnya ke bumi dengan terburu-buru, lalu memaksa angin bertiup sekencang yang dia bisa.
Gemuruh berdeham. Kaca-kaca jendela rumah lalu bergetar, ranting-ranting patah dan lalu melayang.

Aku melihatmu mengintip dari kolong meja makan di balik jendela dapurmu.

Awan tak hentinya berduka.

Badai membuat genting-genting rumah terpelanting, menampar tanah dengan kejamnya, membuatnya pecah berkeping-keping dan lalu hanyut terbawa banjir.

Lihatlah badai itu, kawanku. Dia datang dari segala arah.
Dan aku berdiri di antaranya.
Suara jeritmu memanggilku. Kau menyaksikan kesedihanku.
Namun kau tak berdaya.
Maka duduklah tenang, kataku lirih.
Nikmati kesedihperihan itu.
Nikmati pusarannya yang menyakitiku yang juga menyakitimu.
Karena dengan itu duka akan segera berlalu.
Tetap duduklah tenang dan jangan pernah hilang harapan.
Jangan hilang harapan meski kau sedang sangat sedih.
Karena dengan itu duka akan segera berlalu.

‪#‎wip‬

– a journey of solo art exhibition –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s