One day you’re sleep..

We’ve got difficult time, sometimes. Hearing your closest good friends dying, watch them through their extra ordinary daily life, eye-witness all the unpublished stories. Even it’s not your problem but it can’t help to be yours. One day they said, “everyone fighting their own battle. You have yours. And I have mine,” they added. “And I should fight it all alone.”

You are not, my friend. We’re soulmate in friendship, you know that? If you are tickling yourself, I’ll be laughing…Vice versa.

But those words only stay in your mind. Complicated become part of your life. Even if you try to make it easy. Even they tried to make it easy. You always eye-witness all and you can’t help to capture all that-accidently, and you have no idea how can it could happen or make sense-…but all of the true stories ended with lie stories you know the truly answer.

Then, being honest become the hardest.
Then, you learn to lie.
You learn to say you’re okay.
You learn to act you’re okay.
And one day you realize you never be the same person anymore…

image

“Rain outside. Hopefully brighter day tomorrow…Have a good sleep, mates..Have a good sleep.”

I’ll find a way

You shut me down, I’ll find a way … to fly.”

Continue reading “I’ll find a way”

Already Dry

‘The tears already dry, brother. Let’s forget it and dance.’

Continue reading “Already Dry”

Pelukis dan Kisahnya

Pada akhir Februari yang lalu, belum genap tengah malam, muncul status milik seniman, Oky Rey Montha, “ketika sesuatu itu sangat mudah … di sisi lain itu menjadi sangat susah.” Dipikir-pikir itu benar. Menyebalkan juga, memang. Sekaligus –untuk sebagian orang – berakhir memilukan. Dan itu sungguh sering terjadi pada kehidupan sehari-hari. Dalam hal berkarya, cinta dan seni menjalani hidup. Continue reading “Pelukis dan Kisahnya”

Kebun Di Atas Dak Kamar

Ada kebun di atas dak kamarku. Kebun tanpa sepetakpun tanah dan aku siap memetik buahnya Sabtu sore kemarin. Berbekal tas selempang berbahan terpal biru (yang berisi air putih gelas, cutter, banner –aku tahu yang kau pikirkan -) dan ember di tangan kiri, aku naik anak tangga –yang pada awal-awal mula selalu sukses membuatku panik merinding disko – menuju ke dak. Continue reading “Kebun Di Atas Dak Kamar”

Tangan yang Baik

Saat kecil, orang-orang dewasa di sekitarku mengajariku menggunakan tangan kanan untuk melakukan hal-hal yang baik; menulis, menggambar, berjabat tangan, makan, minum, membantu orang lain. Sedangkan tangan kiriku digunakan untuk melakukan hal-hal yang kotor seperti membersihkan kotoran dari diri sendiri dan memungut sampah-sampah dan atau menyentuh, memegang sesuatu yang menjijikkan. Aku akan dimarahi dan bahkan dibentak jika aku ketahuan makan, berjabat tangan, minum, atau mengulurkan sesuatu menggunakan tangan kiri.

 

Ajaran itu merasuk ke dalam benak dan pikiranku hingga ketika aku melihat teman sepantaranku mengerjakan segala sesuatu menggunakan tangan kiri, aku mengganggap dia salah dan tidak baik. Kurasa aku begitu sakleknya dengan urusan kebaikan dan ketidakbaikan temanku hanya dari melihat hal-hal yang berkaitan dengan tangan kiri dan tangan kanan itu.

 

Belasan tahun kemudian, masih dengan keyakinan antara urusan tangan baik dan tidak baik, aku bertemu dengan teman yang memiliki teman lain yang bertangan kidal. Mereka, kawan-kawan bertangan kidal ini melakukan segala sesuatunya yang biasa dilakukan orang “normal” dengan tangan kirinya, dan itu membuat mereka mengalami masalah di antara orang-orang bertangan kanan. Orang tua, guru, dan teman-temannya yang meyakini tangan kiri adalah tangan tidak baik, memaksanya untuk berubah haluan. Atau, ‘tindakan’ paling keji yang anak remaja lakukan adalah mengolok-olok dan mengucilkannya.

 

Dewasa ini aku baru tahu,

 

Orang kidal lebih mudah ketakutan dan trauma daripada orang yang menggunakan tangan kanan. [Journal of Traumatic Stress],

bahkan Raja Inggris King George VI-aku menemukan artikelnya di google- yang dipaksa ‘normal’ menggunakan tangan kanan padahal dia kidal, bisa menjadi gagap dan dyslexia. Mungkin saat remaja itu pun aku tetap saja tidak peduli dan tidak sudi mencari tahu apa itu dyslexia. Aku hanya tahu bahwa pengguna tangan kanan itu baik, dan kiri itu tidak baik. Titik.

 

Pernah membayangkan saat dengan percaya dirinya aku sangat meyakini bahwa tangan kanan itu baik dan lalu mempertanyakan urusan tangan kepada orang yang dulunya terbiasa menggunakan tangan kanannya dan kemudian mengalami musibah hingga seluruh syaraf di tangan kanannya tak bekerja dan memaksa tangan kirinya untuk bekerja demikian kerasnya untuk berkarya?

 

Jika usia bisa digambarkan dengan perumpamaan sebuah tapakan anak tangga, sekarang aku telah berada di sekian puluh lantai di atas gedung. Aku tak hanya melihat dunia itu berwarna putih yang saat aku kecil aku melihatnya putih. Aku tak hanya melihat warna hitam yang saat aku remaja aku melihatnya hitam. Aku sekarang melihat keduanya di atas lantai ini. Putih dan hitam. Dan warna lain yang berbeda yang sebelumnya belum pernah kulihat. Namun tentu saja ini bukan persoalan benar atau salah. Ini soal cara memandang dan menerjemahkan hidup. Kupikir tadinya aku pintar dan pandai menerjemahkan semua itu karena aku ‘benar’. Tak ada yang salah dengan ajaran orang-orang dewasa terhadapku sewaktu aku dulu masih kecil. Itu baik. Namun saat dewasa ini, aku menambahinya dengan empati dan toleransi. Pun setelah banyak bertemu dan berkenalan dengan orang-orang, dan melihat dunia lebih luas, aku merasa aku masih perlu belajar untuk menerjemahkan sesuatu sebelum mengutarakan apa yang kuyakini benar, termasuk urusan tangan ini.

 

Aku masih perlu belajar.

Perlu banyak belajar.

 

* * *

 

To a brave man, good and bad luck are like his left and right hand. He uses both.

 – St Catherine of Siena

Day 2. Hati Hangat di Antara Kabut

Day 2, 25 Januari 2015

Kawan, kadang ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan hanya lewat kata-kata. Dan kadang, saat kau menyaksikan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan lewat kata-kata, dalam hatimupun kau masih tidak bisa berkata-kata. Itu semacam kehilangan kata-kata di dalam kata-kata itu sendiri. Continue reading “Day 2. Hati Hangat di Antara Kabut”